Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Ramadan, Omzet Kain Tenun Ikat Kediri Naik 40 Persen  

12 Mei 2019, 15: 53: 05 WIB | editor : Adi Nugroho

tenun ikat kediri

TERAMPIL: Salah seorang karyawan sedang memintal kain tenun ikat di rumah Siti Ruqoyah, Kelurahan Bandarkidul, Kecamatan Mojoroto, kemarin. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KOTA – Peminat kain tenun ikat di Kota Kediri meningkat selama Ramadan ini. Mulai dari seragam sekolah hingga kain untuk busana Lebaran mengalami peningkatan. Perajin yang biasanya memproduksi 1.500 potong kain dalam satu bulan, saat Ramadan naik menjadi lebih dari 2.500 potong kain.

“Bahkan sudah sejak dua bulan lalu banyak yang memesan,” ujar Siti Ruqoyah, 50, pemilik home industry kain tenun ikat, saat ditemui di rumahnya, Kelurahan Bandarkidul, Kecamatan Mojoroto, kemarin.

Peningkatan permintaan kain tenun ikat di tokonya meningkat hingga 40 persen saat Ramadan. Dari tahun ke tahun peningkatannya sangat terasa. Apalagi sudah ada dua sekolah di Kota Kediri yang memesan untuk seragam khas sekolah. Selain itu, ada pula beberapa dinas dan instansi yang memesan kain tenun batik untuk seragam kantor. “Mulai ada peningkatan tahun ini,” imbuhnya.

Pemerintah Kota Kediri memang menganjurkan para pegawainya mengenakan pakaian batik setiap Kamis. Makanya, banyak yang memesan di toko Siti. Alhasil tenun ikat semakin banyak peminatnya.

Permintaan pembeli pun beragam. Mulai dari hanya kainnya atau langsung membeli dalam jahitan pakaian. Harganya bervariasi. Mulai Rp 100 ribu hingga Rp 400 ribu. Tergantung kualitas kain. “Variasinya ada katun. Ada pula kain jenis sutra,” ungkap perempuan yang menekuni usaha sejak 1989 ini.

Siti menambahkan, peningkatan permintaan itu berkat eksplorasi dari ragam motif batik dari kain. Ada motif gunungan, garis miring, hingga tirto tejo. “Bahkan jika ada yang memesan dengan motif lain pun bisa. Disanggupi,” urainya.

Kain yang dinamakan tenun ikat karena proses penciptaan motifnya dengan cara mengikat sekumpulan benang. Kemudian dipintal menggunakan alat pintal bukan mesin (APBM).  Selama ini, produk tersebut sudah mempunyai pasar khusus, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Sehingga penciptaan motif baru terus dikembangkan untuk menyegarkan pasar.

Soal tingginya permintaan pada Ramadan dan rata-rata harus rampung sebelum Lebaran, Siti memaksimalkannya dengan menggunakan 45 alat pintal APBM. Dia dibantu sekitar 90 karyawan. "Semua pesanan mintanya selesai sebelum Lebaran. Insya Allah dapat tercapailah," kata perempuan yang merintis usaha bersama suaminya ini.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia