Senin, 16 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Harga Si Pedas Sangat Fluktuatif

11 Mei 2019, 07: 16: 01 WIB | editor : Adi Nugroho

cabai pare

BERAT: Kuli angkut di Pasar Induk Pare menggendong karung berisi cabai. Harga komoditas tersebut mengalami fluktuasi sejak awal Ramadan ini. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN - Harga cabai benar-benar sulit diperkirakan di awal Ramadan ini. Sangat fluktuatif. Sempat mengalami kenaikan, kemarin harga ‘si pedas’ ini kembali turun. Setidaknya, penurunan harga itu terjadi di tingkat grosir.

Kondisi itu berbeda dengan awal Ramadan lalu. Harga cabai sempat merangkak naik. Menurut para pedagang di Pasar Induk Pare, penurunan harga itu mulai tercium sejak di hari ketiga bulan puasa.

“Kemarin stok cabai memang sedikit. Sedangkan permintaannya tinggi. Tapi sekarang stoknya sudah mulai banyak,” aku Sunaryo, pedagang cabai kecil di Pasar Induk Pare, saat diwawancarai Jawa Pos Radar Kediri kemarin.

Di Pasar Induk Pare, cabai kecil jenis prentul harganya saat ini berkisar Rp 9 ribu per kilogram. Sebelumnya jenis tersebut bisa mencapai Rp 14 ribu per kilonya. Sementara itu, cabai kecil jenis tidar juga turun harga. Dari Rp 15 ribu menjadi Rp 13 ribu per kilonya.

Sunaryo memperkirakan harga tersebut masih berpotensi mengalami penurunan lagi. Bahkan dia menduga hari ini harganya bisa turun lagi sekitar seribu rupiah per kilo.

Yang menarik, turunnya harga cabai itu ternyata juga diikuti melemahnya permintaan. Sunaryo mengaku saat ini hanya mampu menjual satu ton per hari. Padahal ketika awal puasa, saat harga mahal, penjualannya bisa mencapai dua ton per harinya.

Penurunan harga cukup drastis dialami oleh cabai kecil jenis pusaka. Sebelumnya, cabai jenis tersebut bisa mencapai Rp 20 ribu per kilo. Tapi saat ini harganya tinggal berkisar di angka Rp 14 ribu.

Sunaryo mengakui bahwa fluktuasi harga cabai di Pasar Induk Pare relatif cepat. "Penurunan harga tidak hanya di sini, di Tangerang dan Jakarta juga sama saja harganya. Kalau di sana turun, di sini juga turun," terang Sunaryo.

Pedagang ini mengaku cabai yang dia jual berasal dari petani lokal Kediri. Namun, dia menjualnya hingga ke daerah Jawa Tengah. Seperti halnya cabai kecil jenis prentul dan tidar tersebut.

Ibnu Mansursah, sesama pedagang cabai di pasar yang sama, mengamini penurunan harga tersebut. Bahkan itu tidak terjadi di cabai kecil saja. Cabai besar pun juga mengalami penurunan harga.

Di tingkat grosir, sebelumnya cabai besar harganya Rp 30 ribu per kilo. Tapi kini menjadi sekitar Rp 28 ribu. "Kemungkinan penurunan harga ini akan terjadi dalam 2-3 hari ini. Kemudian akan naik lagi," prediksi Ibnu.

Kepada koran ini, Ibnu juga membenarkan bahwa ada banyak stok cabai di pasar induk. Cabai yang beredar di pasar tersebut tidak hanya berasal dari lokal Kediri saja. Melainkan juga dari daerah penghasil cabai lainnya.

Petani Cabai Beralih ke Brambang

Sementara itu, kondisi cuaca membuat budidaya pertanian mengalami hambatan. Salah satunya yang dialami sejumlah petani cabai merah di Desa Kebonrejo, Kepung. Akhir musim penghujan mereka harus merotasi tanaman cabai merah ke tanaman lain. Kondisi ini membuat harga cabai merah di pasaran sempat mengalami kenaikan.

Selama musim hujan, banyak faktor yang membuat harga cabai mengalami perubahan. Salah satunya karena masa panen dan ketahanan cabai. Berbeda dengan cabai rawit yang lebih tahan pada kondisi ekstrem. “Cabai merah tidak tahan dengan kondisi tanah yang lembab,” kata Puji Santoso, petani asal Desa Kebonrejo kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Ia mengaku saat ini telah mengganti tanamannya dengan bawang merah. Ada juga yang ganti menanam jagung. Meskipun demikian, masih ada petani lain yang bertahan menanam cabai merah.

Disinggung terkait naiknya harga cabai merah beberpa hari yang lalu, menurutnya itu hal yang wajar. Stok cabai merah dari desa yang selama ini menjadi penghasil cabai merah terbesar di Kabupaten Kediri tersebut menurun. Sebagian besar petani telah melakukan panen raya di awal tahun. Yakni Januari hingga Februari.

“Awal tanam cabai merah pada bulan 10 (Oktober, Red). Panen Januari dan Februari. Setelah itu hujan mulai kencang dan PH (tingkat keasaman, Red) tanah turun,” ungkapnya.

Menurunya PH tersebut membuat tanah semakin asam. Sehingga dapat menyebabkan penurunan ketersediaan unsur hara bagi tanaman hingga penurunan hasil budidaya.

Untuk diketahui, setelah kenaikan bawang putih, di Pasar Grosir Ngronggo, Kota Kediri justru cabai merah mengalami kenaikan harga. Dari paparan Mailik, pedagang grosir, harga cabai merah dari Rp 25 ribu kemarin mencapai Rp 40 ribu.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia