Rabu, 28 Jul 2021
radarkediri
icon-featured
Features

Tradisi-Tradisi Khas Pondok Pesantren Sepanjang Ramadan (1)

Tadarusan Sembari Bermain Bedug dan Kentongan

10 Mei 2019, 15: 38: 17 WIB | editor : Adi Nugroho

santri nganjuk

JAGA TRADISI : Santri Pondok Pesantren (Ponpes) Sabilul Huda, Kelurahan Jatirejo, Kecamatan Nganjuk, memukul kentongan sebagai tanda dimulainya tadarusan. (ANWAR BAHAR BASALAMAH - radarkediri.id)

Share this          

  Memasuki bulan Ramadan, pondok pesantren (ponpes) memiliki tradisi yang khas dibanding hari biasa. Salah satunya adalah di Ponpes Sabilul Huda, Ngasem, Kelurahan Jatirejo, Nganjuk. Menjelang pukul 00.00, selain mengawali tadarusan, santri juga memainkan seni bedug dan kentongan.

Tradisi bedug dan kentongan di Ponpes Sabilul Huda sudah bertahan sekitar 47 tahun. Sejak ponpes di Kelurahan Jatirejo itu berdiri pada 1962, sang pendiri, Kiai Chasbani Saifuddin sudah mengenalkan permainan bedug kepada para santrinya setiap memasuki Ramadan.

          Menurut Muhammad Yasin, pengasuh ponpes, sebenarnya permainan tabuh bedug dan kentongan merupakan warisan para pemuka Islam terdahulu. Karena itu, beberapa ponpes berlatar belakang nadliyin masih mempertahankan tradisi tersebut. “Termasuk di ponpes kami sampai sekarang,” ujar Yasin.

          Ada makna filosofis dari setiap bunyi yang ditimbulkan bedug dan kentongan di masjid. Misalnya bedug yang berbunyi deng..deng..deng.. Menurut Yasin, bunyi itu menandankan masjid masih sedeng (tempatnya muat). Lalu ketika dipukul, kentongan akan berbunyi tong..tong..tong… “Artinya masjidnya masih kotong (kosong atau longgar),” ujar pria 46 tahun ini.

          Di hari biasa, kata Yasin, alat tabuhan itu dibunyikan sebagai penanda waktu dimulainya salat wajib. Karenanya, begitu mendengar bedug atau kentongan, masyarakat  akan berbondong-bondong menuju masjid untuk mendirikan salat berjamaah.

          Nah, di bulan Ramadan, fungsinya jadi berbeda. Yasin mengungkapkan, di ponpesnya, bedug dan kentongan tidak hanya menjadi penanda waktu salat saja.  Tetapi juga sebagai seni musik tabuhan di sela-sela aktivitas tadarusan. “Kalau orang Jawa bilang klotekan. Tapi temponya harmonis. Tidak sembarangan,”  ungkapnya.

          Selama puasa, permainan bedug dan kentongan dimulai menjelang pukul 00.00. Hal itu sebagai penanda awal dimulainya tadarusan. Yang pertama, kata Yasin, santri akan memainkan bedug dan kentongan. Setidaknya ada tiga orang yang bermain. Satu orang sebagai penabuh bedug, sedangkan dua orang lainnya memukul kentongan.

          Sekitar pukul 23.30, bendungan dan kentongan mulai dimainkan. Tiga santri berada di posisinya masing-masing. Yasin mengatakan, permainan bedug dan kentongan dimainkan sekitar 15 menit. “Setelah itu, baru tadarus dimulai,” ujar bapak tiga anak ini.

          Setelah tadarus berlangsung satu jam, santri berhenti sejenak membaca Alquran. Sebab, sekitar pukul 01.00, mereka harus memukul lagi alat tabuh itu. Namun bedanya, kali ini yang dipukul bedug dan kentongan besi (bel). “Masing-masing dipukul satu kali. Sesuai waktu yang ditunjukkan. Lalu dilanjutkan tadarus lagi,” terangnya.

          Satu jam berikutnya, sekitar pukul 02.00, aktivitas yang sama dengan sebelumnya diulangi kembali. Bedanya, bedung dan bel dipukul dua kali. Terakhir, mereka akan memukulnya lagi sebanyak tiga kali sekitar pukul 03.00. “Itu berarti tadarus selesai dan dilanjutkan sahur dan tarhim,” katanya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news