Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features
Bincang Energi dari Negeri Kincir Angin

Dana Desa Bisa untuk Listrik Terbarukan

10 Mei 2019, 13: 22: 38 WIB | editor : Adi Nugroho

desti alkano

EXPERT: Desti Alkano menjadi pembicara dengan materi Connecting Dots & Embracing Sustainability dalam simposium di Universitas Teknik, Delft, Belanda (4/5). (Desti Alkano for radarkediri.id)

Share this          

DESTI ALKANO, diaspora asal Kota Kediri di Belanda, aktif mengampanyekan penggunaan energi baru dan terbarukan. Lewat lembaga Energy Academy Indonesia (Ecadin) yang digawanginya bersama sang suami, Syarif Riyadi, dan sang ayah, Suko Susilo. Yang terbaru berupa simposium di Delft, Sabtu (4/5) lalu. Berikut catatannya.

Bertajuk Young Professional for Sustainable Energy, simposium yang digelar di kampus Universitas Teknik Delft, Belanda itu dihadiri hampir seratus peserta dari tujuh negara. Yaitu, Belanda, Jerman, Prancis, Belgia, Spanyol, Latvia dan Indonesia. Mereka berasal dari berbagai latar belakang disiplin ilmu dan pengalaman kerja.  

Bekerja sama dengan Komisi Energi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia, simposium menyajikan diskusi publik dengan tujuan mendukung pemerintah Indonesia. Khususnya, dalam mewujudkan agenda-agenda pembangunan ekonomi nasional berbasis kualitas dan berkelanjutan di sektor energi yang dimotori profesional-profesional muda negeri ini.

Para expert terpilih dari bidang-bidang yang terkait energi berkelanjutan bergantian memberikan presentasi. Mereka juga berdiskusi interaktif dengan mahasiswa Indonesia di luar negeri dan para diaspora yang memiliki ketertarikan sama. Bahkan, sebagian di antara mereka sedang berkarya di sektor energi. Adapun materi yang disajikan dalam acara ini merupakan perpaduan antara “Circular Economy” dan “Materials & Applications” di sektor energi.

Ketua Komisi Energi PPI Dunia Avianto Nugroho mengatakan, para peserta hadir dengan beragam alasan. Selain menambah pengetahuan di bidang energi, juga ingin memperluas jaringan. “Termasuk mencari topik penelitian untuk studi mereka,” ungkapnya.  

Simposium dibuka Fikry Cassidy, wakil kepala Perwakilan KBRI Den Haag. Lalu, dilanjutkan dua pembicara utama. Yakni, Halim Sari Wardana (sekretaris Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM) dan Muhammad Dimyati (Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristek Dikti).

Adapun para ahli yang didaulat dalam Plenary Session & Expert Discussion di antaranya General Manager Safety & Environment for Technology Organization Shell Rihard Pasaribu, CEO PT Radiant Utama Interinsco Tbk Sofwan Farisyi, Managing Director of Akuo Energy Indonesia Refi Kunaefi, Manager of New Investment Department PT Rekayasa Industri Aditya Farhan Arif, dan Grace Triana Perangin Angin selaku chief Lentera Bumi Nusantara. Ada pula Profesor Bayu Jayawardhana dari Universitas Groningen selaku co-founder Ocean Grazer BV.

Yang menarik, di dalamnya sempat dibahas tentang pemanfaatan sampah organik yang bisa diolah menjadi biogas. Ke depan, hal itu semakin dibutuhkan utamanya di kota-kota yang padat penduduk seperti Kota Kediri. Sebab, di kota-kota tersebut, ketersediaan lahan sebagai tempat pembuangan sampah akan semakin menyusut. Sementara, produksi sampah dari warganya terus meningkat.

Begitu pula dengan penggunaan panel surya untuk fasilitas-fasilitas penerangan umum. Itu menjadi bagian dari pemanfaatan sumber energi yang berkelanjutan. Karena itu pula, simposium juga mendukung penggunaan dana desa untuk membangun sarana dan prasarana kelistrikan asal disepakati warga.

Ini seperti disampaikan Dr Ichsan selaku sekjen Koperasi Energi Terbarukan Indonesia (Kopetindo) sekaligus pengurus Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI). Menurutnya, dana desa antara lain bisa digunakan untuk membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro, tenaga diesel, tenaga matahari, atau tenaga angin. Hal ini bisa mendukung peningkatan rasio elektrifikasi Indonesia.

Dana desa bisa pula digunakan untuk pengembangan energi baru terbarukan. Seperti biogas dari limbah peternakan, bioethanol dari ubi kayu, dan pengolahan minyak goreng bekas menjadi biodiesel. “Kementerian Desa dan PDTT (pembangunan daerah tertinggal dan transmigrasi) sudah memberi lampu hijau,” tambah Syarif Riyadi, co-founder Ecadin.

Syarif berharap, acara itu dapat menjadi sarana untuk menciptakan berbagai jenis kolaborasi dalam mendukung pemerintah Indonesia. Utamanya dalam mewujudkan agenda-agenda pembangunan ekonomi nasional berbasis kualitas dan berkelanjutan di sektor energi yang dimotori profesional-profesional muda Indonesia. 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia