Rabu, 22 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

M. Subur Divonis Empat Tahun

Terbukti Ikut Menikmati Hasil Pungli PTSL

08 Mei 2019, 11: 38: 07 WIB | editor : Adi Nugroho

Hukum

DIPIDANA EMPAT TAHUN: Kades Katerban, Baron nonaktif M. Subur mengikuti persidangan di PN Tipikor Surabaya Senin (6/5) lalu. (Kejari Nganjuk for radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK-Kades Katerban, Baron nonaktif M. Subur harus mendekam di penjara dalam waktu lama. Pasalnya, dalam sidang pungutan liar (pungli) program pendaftaran tanah sistematis lengkap (PTSL) di Pengadilan Tipikor Surabaya Senin (6/5) lalu, dia divonis empat tahun penjara. Majelis hakim menilai Subur terbukti menikmati uang hasil pungli prona.

Ketua Majelis Hakim Rochmad dalam pembacaan putusan mengungkapkan, M. Subur terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi PTSL atau Prona tahun anggaran 2017. “Menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama empat tahun,” ujar Rochmad.

Tidak hanya itu, majelis hakim juga mengenakan denda Rp 50 juta subsider tiga bulan penjara. Vonis yang dijatuhkan majelis hakim itu sama dengan tuntutan JPU sebelumnya yang meminta Subur dihukum penjara selama empat tahun.

Lebih jauh Rochmad mengungkapkan, dalam persidangan Subur terbukti menyalahgunakan wewenang dan jabatannya. Yaitu, dengan menarik biaya Rp 1 juta untuk tiap sertifikat yang diajukan warga dalam PTSL.

Penetapan biaya Rp 1 juta itu juga tidak melalui mekanisme semestinya. Salah satunya dengan melakukan sosialisasi dan menyepakati sumbangan kepada masyarakat penerima program PTSL.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Eko Baroto menjelaskan, berdasar keterangan para saksi, pungutan uang PTSL itu ditentukan oleh terdakwa. Selanjutnya, Subur juga ikut menikmati uang pungutan sebesar Rp 700 ribu untuk tiap lembar sertifikat. “Tindakan itu menjadi pertimbangan yang memberatkan bagi majelis hakim ketika memberikan memvonis,” lanjut jaksa asal Sidoarjo itu sembari menyebut Subur tidak mendukung program pemerintah.

Hal yang meringankan, terdakwa dianggap tidak berbelit dan mengakui perbuatannya. Selama persidangan, Subur juga bersikap sopan dan menyesali perbuatannya. “Terdakwa mengakui kesalahannya,” beber Eko.

Sementara itu, dalam kasus ini Subur tidak bekerja sendiri. Perangkat desa yang ikut terlibat dalam perkara ini adalah Sekretais Desa Katerban Arifin. Selama persidangan terungkap dia juga menerima uang seniali Rp 50 ribu per sertifikat.

Kasusnya kini masih ditangani Polres Kediri. Arifin sudah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus tersebut. Adapun Subur yang sudah divonis masih harus menghadapi kasus tindak pidana pencucian uang yang masih diselidiki Polres Nganjuk.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia