Selasa, 19 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Sepulang dari Belanda, Nur Miftahul Fuad Bicara Konsep Pendidikan (2)

 Sadar Berbudaya dengan Cintai Museum

04 Mei 2019, 13: 33: 20 WIB | editor : Adi Nugroho

fuad belanda

TRADISIONAL: Fuad mengenakan pakaian adat Jawa saat berada di Belanda. (Nur Miftahul Fuad - radarkediri.id)

Share this          

Tak hanya belajar tentang konsep pendidikan, Fuad juga melihat bagaimana siswa juga diajak mencintai budaya mereka dan pendidikan yang mengutamakan pengembangan diri.

MOCH. DIDIN SAPUTRO

“Setiap sekolah memiliki komite yang bertugas untuk mendesain sistem pendidikan. Kemandirian diutamakan ada pada diri setiap siswa, siswa tidak diajarkan terbaik di kelas, tapi pengembangan diri yang lebih diutamakan,” terang Fuad.

Biasanya, program yang menjadi andalan, lanjut Fuad, bahwa di Belanda sejak kecil, siswa telah dilatih untuk mencintai museum. Sehingga mereka telah sadar berbudaya untuk mencintai peninggalan sejarah negaranya.

Selama di Belanda, Fuad dan delegasi dari Indonesia diajak berkeliling ke perguruan tinggi bergengsi dunia. Di antaranya adalah Leiden University dan Windesheim University.

Termasuk sejumlah kunjungan ke sekolah dan lembaga seperti The Dukdalf School, Saint School, Da Vinci, Lab 21, Deltion, Carolus Clusius, Kantor Wali Kota, dan Hortus Botanicus Leiden.

Program ini memang merupakan apresiasi dalam rangka peningkatan kompetensi bagi guru yang telah mengabdikan dirinya dengan penuh tanggung jawab dan berdedikasi. Serta memiliki prestasi dalam melaksanakan tugas sebagai guru.

Selain sistem pendidikan, guru asal Desa Bogem, Gurah ini juga dibuat tercengang dengan sistem sosial masyarakat dan tata negara di sana. Seperti mengandalkan pembangkit listrik tenaga kincir untuk mencukupi kebutuhan listrik negaranya.

“Belanda telah menjadi rujukan dunia untuk konstruksi bangunan lautnya, bahkan pembuatan Palm Island di Qatar, konsultannya orang Belanda, termasuk reklamasi di utara Jakarta juga menggunakan konsultan yang sama,” paparnya.

Menurutnya, orang Belanda sangat disiplin waktu, menghargai komitmen, toleransi di jalan raya, dan selalu terbuka. Jarang sekali ia menemui kemacetan di jalan raya, sebab semua pengguna menaati rambu lalu lintas dengan batas minimal dan maksimal kecepatan yang ditentukan.

“Tidak ada tilang menilang, semua berbasis CCTV. Jika ada pelanggaran, tagihan otomatis akan diakumulasi di akhir saat pembayaran pajak,” imbuhnya.

Selain itu, juga kondisi kota yang bersih dan tertata rapi. Keberadaan jalan untuk mobil, sepeda, dan pejalan kaki yang cukup lebar. Transportasi umum yang sangat bagus dan jaringannya luas. “Mayoritas pertokoan tutup pukul 17.00, kecuali hari kamis sampai pukul 20.00,” terangnya.

“Pajak penghasilan di Belanda sampai 40 persen pendapatan penduduk, pajak ini digunakan untuk berbagai kegiatan termasuk pendidikan,” tukasnya.

Dengan kunjungan selama satu bulan tersebut, sebenarnya ada program yang bisa diterapkan di Indonesia. Salah satunya adalah bagaimana siswa belajar berpikir tingkat tinggi yaitu analisis, evaluasi, kreasi dan lebih melatih mereka melalui pembelajaran berbasis proyek.

“Adanya otonomi sekolah. Artinya sekolah memiliki kebebasan dalam mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensi yang dimiliki dan yang ingin dikembangkannya,” harap Fuad.

Termasuk pemerataan fasilitas penunjang pendidikan yang merata di setiap sekolah atau daerah. Menurutnya pembelajaran tidak hanya pada tataran konsep saja namun lebih ke pembelajaran yang mengaktifkan siswa dan pembelajaran yang menyenangkan sesuai dengan dunianya.

Bertepatan dengan hari pendidikan nasional 2019, yang jatuh 2 Mei kemarin, Fuad mengajak seluruh masyarakat menjadikan ini sebagai momentum untuk mewujudkan tema  "Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan".

“Untuk itu, kita perlu memfokuskan pembangunan sumberdaya manusia yang dilandasi karakter yang kuat, ketrampilan, dan kecakapan yang tinggi, sehingga mampu menjawab tantangan perkembangan zaman yang semakin kompetitif,” harapnya.

Sebagai guru, momen ini menurutnya juga menjadi titik untuk berbenah, merevolusi diri di era revolusi industri 4.0. Bukan hanya siswa saja yang menjadi milenial, namun kita harus adaptif terhadap perubahan itu.

Pendidikan hebat, bangsa bermartabat. “Guru hebat bukan guru yang berpendidikan tinggi. Bukan pula guru dengan segudang prestasi. Namun yang mampu menginspirasi dan membangkitkan pengharapan, untuk bangsa ini,” pungkasnya.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia