Kamis, 14 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Events

Tak Berjilbab tapi Berpakaian Sopan

03 Mei 2019, 16: 51: 18 WIB | editor : Adi Nugroho

Dialog Jumat Tak Berjilbab

Dialog Jumat Tak Berjilbab

Share this          

Bagaimana hukumnya wanita yang tidak  berkerudung atau berjilbab tetapi berpakaian sopan? Tidak seksi, melekat, dan tidak mencolok? Apakah termasuk dosa besar  yang tidak diampuni Allah? Terimakasih.

(Widarmi, 081332098xxx)

Ibu/Sdri penanya yang kami hormati, berkerudung atau  berjilbab bagi perempuan dalam Islam adalah salah satu sarana menutup aurat. Menurut pengertian bahasa (literal), aurat adalah al-nuqshaan wa al-syai' al-mustaqabbih (kekurangan dan sesuatu yang mendatangkan celaan). Yakni aurat manusia dan semua yang bisa menyebabkan rasa malu.  Disebut aurat karena tercela bila terlihat (ditampakkan). Menurut Imam Nawawi, aurat itu berarti kurang, aib, dan jelek. Oleh karena itu semua, setiap wanita muslimah  diperintahkan untuk menutup aurat. Hal ini didasarkan pada ayat QS An-Nur: 31: “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya”. Juga sabda Nabi SAW: “Jagalah (tutuplah) auratmu kecuali pada istri atau budak yang engkau miliki.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi). Dan Imam Nawawi menyatakan bahwa wajibnya menutup aurat dari pandangan manusia adalah ijma’ (kesepakatan ulama). Sedangkan menurut mazhab Syafi’iyah, aurat wanita dalam salat adalah seluruh badan kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Artinya punggung dan bagian dalam telapak tangan bukanlah aurat yang mesti ditutupi.

Dalam konteks aurat perempuan di luar salat, ulama Hanafiyah, Malikiyah, dan sebagian Syafi'iyah berpendapat aurat perempuan yang harus ditutup adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Namun Imam Hanafi dan Imam Malik berpendapat bahwa selain muka dan telapak tangan, kedua betis perempuan pun boleh terbuka. Sedangkan Imam Hanbali mempunyai pandangan yang lebih ketat. Bahwa seluruh badan perempuan adalah aurat, termasuk kedua telapak tangan. Hanya wajah saja yang boleh kelihatan.

Kendati berbeda dalam menentukan batas aurat bagi laki-laki dan perempuan tetapi para fuqaha sepakat bahwa menutup aurat hukumnya fardhu. Selain itu ada kesepakatan ijtihad ulama mengenai model pakaian wanita yang harus tidak transparan dan tidak ketat.  

Sesuai dengan pertanyaan penanya, bahwa seorang muslim yang baik minimal harus memenuhi dua syarat: menjauhi dosa besar dan melaksanakan perintah yang wajib. Dosa-dosa besar dalam Islam seperti yang tersebut dalam Alquran dan hadits Nabi Muhammad. Dalam kitab Al-Kabair (Dosa-dosa Besar) menguraikan secara rinci perbuatan dosa yang masuk dalam kategori dosa besar lengkap dengan dalil-dalil dari Quran dan hadits. Di antara hadits yang menjelaskan dosa dimaksud ialah : “Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdullah dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Sulaiman bin Bilal dari Tsauri bin Zaid al-Madani dari Abi al-Ghois dari Abu Hurairah RA. Dari Nabi SAW, beliau bersabda: “ Jauhilah olehmu tujuh hal yang membinasakan. Mereka bertanya: apa saja dosa itu? Rasul menjawab: “yaitu menyekutukan Allah, melakukan sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, berpaling dari barisan perang, dan menuduh berzina wanita-wanita menjaga kehormatan lagi beriman yang lengah.” (HR. Bukhari).

Kesimpulannya, tidak berkerudung atau berjilbab bagi seorang wanita adalah merupakan perbuatan yang melanggar perintah agama yaitu tidak menutup sebagaian aurat yang seharusnya ditutup. Namun perbuatan tersebut tidak termasuk dosa besar yang menghalangi untuk mendapat ampunan Allah SWT (tentunya setelah bertobat).  

Dalam surat al-Nisa’ ayat 48, Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah (berbuat syirik), maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” Demikianlah gambaran di antara dosa-dosa yang ada dalam Islam. Namun yang perlu kita renungkan adalah bukan terletak pada apakah dosa itu besar atau kecil tapi bisa jadi dosa yang kita anggap kecil justru sangat besar di hadapan Allah. Begitu juga sebaliknya apa yang kita anggap dosa besar bisa jadi kecil di hadapan Allah. Artinya, dosa kecil tapi dilakukan dengan bangga dan terus menerus bisa menjadi dosa besar. Sebaliknya dosa besar jika disesali dan taubat bisa menjadi kecil bahkan bisa terhapus/diampuni oleh Allah SWT. Wallahu a'lam bisshowab (Nurul Hanani, Dosen IAIN Kediri).    

 

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia