Rabu, 17 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Mulur-Mungkret Wali Kota

29 April 2019, 17: 58: 56 WIB | editor : Adi Nugroho

Tauhid Wijaya

Tauhid Wijaya

Share this          

Waktu. Memang betul sehari 24 jam. Sejam 60 menit. Semenit 60 detik. Juga, setahun 12 bulan, sebulan empat minggu, dan seminggu tujuh hari. Namun, siapakah yang bisa memastikan bahwa setahun lebih lama dibanding sebulan, sebulan lebih lama dibanding seminggu, dan seminggu lebih lama dibanding sehari? Sementara, kita tidak tahu mengapa sehari dihitung 24 jam, sejam 60 menit, dan semenit 60 detik?

Di sekolah, barangkali, kita hanya diajarkan bahwa sehari diukur dari rotasi bumi terhadap porosnya. Sebulan dari rotasi sekaligus revolusi bulan terhadap bumi. Dan, setahun dari revolusi bumi terhadap matahari. Tapi, mengapa waktu yang dibutuhkan benda-benda astronomi itu dibagi-bagi ke dalam angka 24 dan 60? Mengapa pula ada satuan minggu yang dibagi menjadi 7 hari?

Setahun lebih lama dibanding sebulan, sebulan lebih lama dibanding seminggu, dan seminggu lebih lama dibanding sehari hanya didasarkan pada hitungan angka-angka tersebut. Tapi, hitungan-hitungan itu menjadi lenyap ketika dimasukkan dalam samudera jiwa manusia yang tak berbatas.

Jiwa, tidak mengenal ruang dan waktu. Ukuran jauh/dekat serta lama/sebentar tidak bisa didasarkan pada hitung-hitungan angka seperti di atas. Melainkan, didasarkan pada suasana kejiwaannya. Setahun bisa sangat singkat bagi jiwa yang diliputi kegembiraan. Dan, sebaliknya, menjadi sangat lama bagi jiwa yang diliputi kesedihan.

Sementara, kegembiraan dan kesedihan tidak muncul sendiri. Akan tetapi, ada faktor lain yang menjadi penyebabnya. Yaitu, harapan. Pemenuhannya melahirkan kegembiraan. Penolakannya menyulut kesedihan. Pada perjuangan dan penantiannyalah terletak jauh/dekat dan lama/singkatnya.

***

Lima tahun. Siapa yang bisa memastikan bahwa itu adalah waktu yang lama? Siapa pula yang berani menggaransi bahwa itu adalah waktu yang sebentar?

Di negeri kita, itu adalah waktu yang biasa dijadikan batas pergantian jabatan yang bisa diperebutkan publik secara terbuka. Presiden, gubernur, bupati/wali kota, parlemen, juga anggota KPU maupun bawaslu.

Sebagai jabatan yang diperebutkan, mereka yang ikut berkontestasi sudah pasti cenderung menginginkannya. Mengharapkannya. Pemenuhan atas keinginan dan harapan itulah yang akan melahirkan kegembiraan. Dan, kegembiraan bakal menegasikan dimensi waktu yang melingkupi. Sehingga, lima tahun menjadi terasa singkat. Tiba-tiba saja mereka sudah harus berkompetisi lagi untuk mendapatkan kegembiraan yang serupa.

Itulah mengapa, pada beberapa jabatan, periode lima tahunan tersebut harus mendapat batasan. Maksimal dua kali. Agar yang lain-lain juga memperoleh kesempatan untuk merasakan kegembiraan yang sama. Presiden, gubernur, bupati/wali kota, juga anggota KPU dan bawaslu.

Berbanding terbalik dengan itu, lima tahun menjalani masa jabatan bisa terasa jauh lebih singkat daripada masa perjuangan untuk mendapatkannya. Dibanding masa kampanye yang delapan bulan, misalnya. Bahkan dibanding waktu coblosan di TPS. Menunggu hasil penghitungan suaranya yang sehari semalam saja, waktu terasa molor begitu jauh.

Maklum, perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan. Dan, secara manusiawi, pengorbanan adalah hal yang menyedihkan. Bukan menggembirakan. Jiwa yang tidak diliputi kegembiraan akan menyebabkan waktu menjadi lebih sulit untuk diringkas.

***

Lima tahun. Bagi warga yang menjadi objek kepemimpinan bisa terasa mulur atau mungkret. Mulur jika selama lima tahun dipimpin itu mereka diliputi kesedihan. Sehingga, semua menjadi berjalan serbalama. Mungkret jika diliputi kegembiraan dan semua pun berjalan begitu cepat.

Ketika semua terasa serbalama, mereka berharap segera terjadi pergantian. Agar kesedihan cepat berlalu. Sebaliknya, ketika semua berjalan begitu cepat, mereka berharap terus berlanjut. Agar kegembiraan tetap bersamanya.

Hari-hari ini, panjang/pendek dan lama/singkatnya jabatan yang diperebutkan itu akan segera memasuki masa pembuktian. Presiden dan parlemen. Yang siklus lima tahunan kontestasinya baru selesai ditunaikan. Juga gubernur yang sudah mulai duluan.

Sementara, besok, wali kota bakal masuk pembuktiannya yang kedua. Jika lima tahun periode pertamanya terasa singkat bagi lebih dari separo warga yang memilihnya, lima tahun ke depan menjadi taruhan yang tetap tidak ringan. Justru karena warga tak bisa memilihnya lagi karena memang tidak boleh macung untuk yang ketiga kali.

Mas Abu-Ning Lik, pasangan wali kota dan wakil wali kota Kediri yang akan dilantik di kantor gubernuran itu, harus bisa membuktikannya. Lima tahun kedua. Terasa mulur atau mungkret bagi warganya? (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia