Minggu, 26 May 2019
radarkediri
icon featured
Features

Asyiknya Ikut Komunitas Sejarah Jelajah Malam Kota Tua Kediri

25 April 2019, 15: 31: 48 WIB | editor : Adi Nugroho

bersejarah

BERSEJARAH: Olivier (pegang mik) memberi penjelasan kepada peserta Jelajah Sejarah Kota Tua Kediri di teras wisma Kapolres Kediri Kota. Rumah itu dulu ditempati asisten Residen Kediri. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Aktivitas jelajah biasanya dilakukan pada pagi atau siang hari. Apalagi menjelajahi kawasan kota tua di Kediri yang jarang diketahui masyarakat. Selain menambah wawasan, juga berkesempatan masuk ke bekas rumah para pejabat penting di era Kolonial.

MOCH. DIDIN SAPUTRO

Empat puluh lima orang berkumpul di Gedung Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri malam itu Jumat (19/4). Semuanya duduk bersila. Pandangannya tertuju pada proyektor. Yang menjelaskan tentang gambaran bangunan di kawasan Kota Tua Kediri. Tentang usia bangunan, fungsi, dan letak bangunan yang ada di barat Sungai Brantas Kota Kediri itu.

“Dulu kawasan ini merupakan pusat pemerintahan di era Kolonial Belanda. Menjadi kawasan penting masa Karesidenan Kediri,” jelas Wiretno saat memberi paparan singkat ke puluhan orang itu. Wanita ini adalah ketua panitia jelajah sejarah Kota Tua Kediri.

Saat jarum jam menunjukkan pukul 19.30 WIB, perjalanan pun dimulai. Tepat sesaat setelah hujan reda. Menjadi pembuka adalah kunjungan ke kantor BRI Cabang Kediri. Gedung ini merupakan bekas kantor Afdeelingsbank.

Selama melihat-lihat itu ada paparan tentang pengetahuan sejarah bangunan klasik itu. Mulai dari ulaasan tentang bentuk, keunikan, dan estetika bangunan. Yang menjelaskan kali ini adalah Olivier Johannes Raap. Seorang peneliti asal Belanda yang memang menjadi bintang tamu di acara Jelajah Sejarah Kota Tua Kediri.

“(Gedungnya) masih asli. Hanya ada sedikit tambahan di bagian depan bangunan,” terang Olivier, yang sangat fasih berbahasa Indonesia ini.

Olivier memang sering melakukan penelitian di Indonesia. Terutama kota-kota di Pulau Jawa. Salah satunya adalah Kota Kediri. Bahkan informasi tentang Jembatan Lama yang baru saja ditetapkan sebagai cagar budaya tersebut sebagian besar juga dari pria sarjana arsitektur di salah satu universitas di Delft, Belanda tersebut.

“Bangunan ini (Gedung BRI, Red) bagus, indah. Apalagi kalau papan iklan yang menutupi itu tidak ada,” cetus Olivier sembari menunjuk ke beberapa banner yang menutupi sisi bangunan bagian depan. Oli, sapaan lelaki ini, sangat  menyayangkan hal itu.

Usai mendapat paparan di Gedung BRI, peserta kemudian melanjutkan perjalanannya ke Markas Polres Kediri Kota. Markas polisi ini dulunya adalah bekas benteng (Blokhuis). Obrolan mengenai angka1835 yang tertulis di bagian atas pintu masuk kantor polisi itu sontak menjadi bahan obrolan antara Wiretno dan peserta. Menurut Wiretno, angka itu merujuk pada tahun pembangunan benteng tersebut.

Sayangnya, hanya sedikit yang bisa terlihat dari keaslian benteng. Seperti di pintu besar sisi utara. Beberapa ruangan dengan pintu dan jendela khas di bagian depan dan kiri. Juga dua bastion atau tempat pengintai yang ada di bagian belakang.

Usai puas berkeliling di markas polisi, tujuan selanjutnya adalah wisma Kapolres Kediri Kota. Berbeda dengan markas polisi yang banyak sentuhan renovasi, keaslian peninggalan sejarah yang juga mantan rumah asisten residen ini masih terjaga. Hanya sedikit tersentuh renovasi. Juga tidak seperti rumah Letnan Kolonel (Letkol) Soerachmad di utaranya yang kini sudah berubah menjadi kafe.

Di tempat ini peserta diizinkan untuk menikmati arsitektur bangunan yang diperkirakan sudah berusia lebih dari satu abad itu. Termasuk melihat pajangan foto-foto lama Kota Kediri.

Rumah tua itu dahulu juga sempat menjadi tempat tinggal Letkol Soerachmad. Sosok penting perintis Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang juga berperan dalam pembentukan Divisi I Brawijaya.

Puas menikmati arsitektur bangunan yang sehari-hari dijaga ketat anggota kepolisian itu kami lanjutkan ke bekas rumah Letkol Soerachmad yang kini sudah tak seperti aslinya. Kami hanya membahas di halaman rumah kuno yang berdampingan dengan Gereja Merah tersebut.

Tak banyak bahasan terkait rumah ini. Hanya saja peserta berdiskusi tentang bagaimana merawat dan menjaga rumah bersejarah tersebut. Sangat disayangkan apabila Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri dahulu lamban untuk menyelamatkan aset penting itu.

Di GPIB Immanuel atau Gereja Merah, peserta asal Kota Malang Budi Fatoni yang lebih banyak berkomentar. Pria yang juga sebagai Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang ini menyebut bahwa sebenarnya keunikan dari gereja yang dibangun pada 1904 ini memiliki lonceng besar. Namun sekarang ada di salah satu gereja di Kota Batu. “Kalau ingin dikembalikan ke sini (Gereja Merah) biayanya banyak. Karena boleh dibongkar dan dibawa lagi. Tapi harus dikembalikan seperti bentuk aslinya,” kata pria yang juga dosen di ITN Malang ini.

Sebenarnya setelah dari Gereja Merah ada agenda singgah di arkas Polisi Militer (PM) Kota Kediri yang lokasinya di utara gereja. Namun karena tidak memungkinkan kemudian lanjut ke Kantor UPT Bapenda Jatim. Bekas Residenwoning atau Rumah Dinas Residen kala itu.

Di dinginnya malam, peserta tur tak hanya melihat di teras gedung saja. Penjaga mengizinkan kami menikmati suasana dalam gedung megah tersebut. Peserta kagum melihat foto-foto kuno Residen Kediri yang mengelilingi dinding ruangan. Termasuk foto-foto bangunan lama kantor bupati dan wali kota yang merupakan bawahan Karesidenan Kediri.

Jembatan Lama menjadi tujuan terakhir kami malam itu. Semilir angin menemani kami di jembatan yang berusia 150 tahun tersebut. Mengulas sejarah jembatan yang juga bernama Burg Over den Brantas te Kediri. Bercerita tentang kekukuhan jembatan besi tertua di Pulau Jawa ini.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia