Minggu, 26 May 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Guru Bacakan Soal untuk ABK Tunagrahita

Empat SMP Luar Biasa Gelar UNKP

24 April 2019, 12: 57: 47 WIB | editor : Adi Nugroho

Tuna Grahita

BUTUH PENDAMPINGAN: Guru pendamping membacakan soal dalam USBN untuk siswa tunagrahita di SMPLB Krida Utama, Loceret, kemarin. (Anwar Bahar Basalamah - radarkediri.id)

NGANJUK–Selain sekolah umum, SMP luar biasa (SMPLB) juga menyelenggarakan ujian nasional (unas). Anak berkebutuhan khusus (ABK) itu mengerjakan soal ujan berbasis kertas dan pensil. Khusus untuk tunagrahita, mereka hanya mengikuti ujian sekolah berstandar nasional (USBN).

Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdisdi) Pemprov Wilayah Kabupaten Nganjuk Edy Sukarno mengatakan, total ada empat lembaga yang menjadi penyelenggara UNKP. Yakni, SMPLB Dharma Bakti Patianrowo, SMPLB Tunas Mulia Rejoso, SMPLB Muhammadiyah Kertosono dan SMPLB Santhi Kosala Mastrip Nganjuk. “Semua menjadi penyelenggara mandiri,” ujar Edy kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.

Ujian di empat lembaga tersebut, lanjut Edy, diikuti ABK penyandang tunanetra dan tunarungu. Sedangkan penyandang tunagrahita hanya mengitu USBN di sekolah mereka masing-masing. “Ujian digelar di lembaga yang memiliki siswa tunagrahita,” ungkap mantan kepala  Cabdisdik Pemprov Wilayah Bojonegoro-Tuban ini.

Sama seperti UNKP di SMALB, ujian di SMP berlangsung secara manual. Peserta mulai mengerjakan soal ujian sekitar pukul 10.30-12.30. Untuk hari pertama, mata pelajaran (mapel) yang diujikan adalah bahasa Indonesia. Sedangkan di hari kedua kemarin untuk mapel matematika. “Jadwalnya lebih siang dibanding sekolah umum,” imbuhnya.

Sementara itu, salah satu lembaga penyelenggara USBN adalah SMPLB Krida Utama 2 Loceret. Kepala SMPLB tersebut Herru Novandri mengatakan, total ada 7 siswa yang mengikuti USBN SMPLB. “Semua siswa kami (kelas IX) penyandang tunagrahita,” terang Herru.

Dia mengungkapkan, USBN dibagi menjadi dua ruangan. Setiap ruangan masing-masing diisi tiga dan empat siswa. Di ruangan tersebut, selain pengawas, ada guru pendamping.

Herru menjelaskan, ujian bagi penyandang tunagrahita berbeda dengan ABK lain. Terlebih dibandingkan sekolah umum. Setiap ujian, guru pendamping membantu membaca soal yang akan dikerjakan. “Tidak semua bisa membaca. Jadi harus dibacakan,” tandasnya.

Setelah soal dibaca, siswa akan menjawab sendiri menurut jawaban mereka. Selain itu, soal USBN untuk tunagrahita lebih banyak berupa gambar. “Kalau berupa gambar mereka lebih mudah memahami,” ujar guru asal Desa/Kecamatan Loceret ini.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia