Selasa, 16 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

- Prasangka -

22 April 2019, 10: 05: 17 WIB | editor : Adi Nugroho

Mahfud

Mahfud

Share this          

Prasangka. Dalam bahasa Inggris kata ini diwakili oleh prejudice. Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), prasangka memiliki makna sebagai pendapat (anggapan) yang kurang baik terhadap sesuatu sebelum mengetahui (menyelidik, menyaksikan) sendiri.

Prasangka ini awalnya digunakan untuk sesuatu yang bersifat ras. Yaitu pendapat atau anggapan yang buruk terhadap satu ras tanpa pengetahuan atau alasan yang cukup.  Dalam perkembangannya, prasangka mencakup semua anggapan terhadap sesuatu hal.

Ada beberapa kata kunci kenapa muncul prasangka tersebut. Karena prasangka berdasar pada pendapat sebelum mengetahui sendiri maka penyebabnya bisa karena kesalahan fakta atau informasi yang diperoleh. Seseorang sudah menyatakan kebenaran ‘versi’ sendiri untuk mengadili sesuatu hal. Sebelum seseorang itu benar-benar memahami dan mengetahui persoalan atau permasalahan yang sebenarnya. 

Prasangka ini bisa juga dimaknai sebagai sesuatu yang sangat emosional. Yang sangat mudah berubah menjadi pendorong terjadinya ledakan sosial. Prasangka ini, menurut Mar’at (1981) bisa jadi memiliki nilai positif atau negatif. Namun, kebanyakan prasangka lebih bermuatan negatif. Suatu prasangka memiliki substansi suka dan tidak suka pada objek yang diprasangkai. Dan itu akan memengaruhi tindakan atau perilaku seseorang yang memiliki prasangka.

Menurut Kartono (1981), prasangka merupakan penilaian yang tergesa-gesa. Mendasarkan pada generalisasi yang terlampau cepat. Sifatnya berat sebelah. Serta disertai tindakan yang menyederhanakan fakta atau kenyataan.

Nah, sadar atau tidak, kita saat ini sudah terjerembab dalam prasangka. Sangat mudah bagi kita untuk mem-prejudice seseorang atau kelompok orang yang tidak sepaham dengan kita. Kita berprasangka karena keinginan dan harapan kita tak terwujud.

Ya, muaranya adalah keinginan. Pemuasan pada hasrat kita untuk melihat tujuan yang kita harapkan bisa tercapai. Ketika pada satu titik ternyata harapan itu tak terkabul, muncullah apa yang disebut prasangka.

Itulah yang tergambar pada diri kita dalam beberapa hari terakhir. Puncak hajatan demokrasi lima tahunan berupa pencoblosan surat suara pada 17 April lalu tak mampu memuaskan hasrat semua pihak. Dan itu wajar, sebab, laiknya suatu kompetisi atau persaingan, sudah pasti akan ada yang menang dan ada pula yang kalah.

Permasalahan sebenarnya dipicu pada tingginya ekspektasi kita pada pilihan kita. Bahka apa yang telah kita pilih itu hampir pasti akan menjadi pemenang. Artinya, kita cenderung memiliki kesiapan untuk menang. Namun, kita lupa meningkatkan rasa untuk siap menghadapi kekalahan.

Selain faktor itu, ketidaksabaran melihat proses juga menjadi faktor penyebab yang lain. Proses pemilu yang belum ‘selesai’ tidak kita sadari sepenuhnya. Karena bagi kita pemilu adalah 17 April lalu. Saat kita datang ke bilik suara untuk menyuarakan keinginan. Padahal, itu merupakan salah satu tahapan saja dalam proses pemilu yang panjang. Meskipun tahapan pada 17 April adalah tahapan yang sangat-sangat penting. Yang menjadi inti dari hajatan demokrasi ini.

Nah, ketika hasil pemilu untuk ‘sementara’ diketahui, maka munculah prasangka itu. Ketika proses hitung cepat-yang bukan merupakan tahapan pemilu-muncul, pihak yang merasa dirugikan pun bersikap. Mereka mengambil jarak dengan hasil itu. Menganggap bahwa itu bukan hasil final.

Dan memang benar bahwa hitung cepat bukanlah hasil final. Karena walaupun dilindungi oleh undang-undang, proses quick count bukan merupakan hasil yang menentukan siapa pemenangnya. Quick count lebih pada bentuk keterlibatan masyarakat terhadap proses pemilu. Dari sisi ini, proses hitung cepat berfungsi sebagai sarana bagi masyarakat untuk mendapatkan gambaran tentang hasil proses pemilu.

Menolak hasil hitung cepat adalah hak kita. Sama pula dengan mempercayai hasilnya, yang juga menjadi hak kita. Yang tidak boleh adalah kemudian menganggap bahwa hasil hitung cepat itu menjadi akhir dari proses pemilu. Karena keputusan akhirnya ada pada sang pengadil proses ini, yaitu Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Repotnya, justru sebagian dari kita terjebak pada prasangka pada KPU. Prasangka bahwa lembaga tersebut tak fair. Lembaga tersebut dianggap melakukan kecurangan. Sehingga hasilnya nanti bakal merugikan pada calon yang mereka pilih.

Semestinya, sikap kita adalah mengedepankan pemikiran positif, husnuzon. Jangan dulu berprasangka. Karena setiap prasangka yang kita munculkan akan menggiring kita untuk bertindak liar. Menjadi tidak percaya pada sistem. Setiap kecurangan yang terjadi tentu ada salurannya sendiri-sendiri. Termasuk melalui jalur Mahkamah Konstitusi pada muaranya nanti.

Yang perlu diingat, apapun hasil dari proses yang melelahkan ini, kita semua akan kembali pada kehidupan sehari-hari. Kembali bekerja seperti biasanya. Sehebat apapun ketidaksenangan kita pada sosok calon yang bukan pilihan kita, toh bila menang dia akan tetap jadi pemimpin kita. Biarlah euphoria dukung-mendukung itu tuntas pada 17 April lalu. Soal siapa yang menang kita percayakan pada KPU untuk memprosesnya. Kalau kita sudah tak mempercayai lagi pada sang pengadil, lalu, kenapa kita ikut dalam kompetisi demokrasi ini? (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

 

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia