Minggu, 26 May 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Warga Kediri Gigit Jari Sendiri Sampai Putus

Pemdes Bawa ke RSJ

20 April 2019, 14: 23: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

gigit jari putus

BUTUH BANTUAN: Tangan Wiji Fitriani yang luka diperban didampingi Jirah, neneknya, di rumah, Dusun Tambak, Desa Ngadi, Kecamatan Mojo, kemarin. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

KEDIRI KABUPATEN – Kedua tangan Wiji Fitriani, 29, warga Dusun Tambak, Desa Ngadi, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri terlihat dalam keadaan diperban kain kasa putih. Jari-jari kedua tangannya sudah tidak lengkap lagi. Bahkan hampir semua jari tangan kiri dan kanan sudah putus.

Perempuan ini mulai mengigit jarinya ketika tangannya sedang berdarah.  Akibatnya, jari-jarinya mulai menghitam karena membusuk. Diduga mengalami infeksi. Kini jari tangan sebelah kiri sudah habis. Hanya tersisa telapak tangan yang dibalut perban.

Tidak jauh berbeda dengan tangan kanan. Kini jari-jari tangan kanan pun nyaris sama nahasnya. “Karena sudah parah, dulu sempat akan diamputasi di RSUD Pare,” ujar Bedi Indiarti, Bidan Desa Ngadi yang merawat Wiji.

Jadwal operasi sudah pernah ditetapkan. Namun setibanya di rumah sakit, Wiji mendadak ingin pulang. Bahkan ia sempat membuat petugas rumah sakit kerepotan. Suasana lembaga layanan kesehatan itu pun dihebohkan. Wiji tiba-tiba mengamuk dan mengganggu pasien yang dirawat di rumah sakit.

Selama ini, Wiji hanya tinggal bersama Jirah, 76, neneknya. Sang nenek lah yang sehari-hari membantu kegiatannya. Bahkan yang mengobati jarinya yang terluka. Namun, Jirah hanya mengobati dengan mengoleskan cairan pembersih luka. Tidak hanya kedua tangan cucunya, namun bagian lutut Wiji pun mengalami pembusukan.

Mengapa Wiji sampai tega menyakiti dirinya sendiri? Ditengarai perempuan ini mengalami gangguan kejiwaan. Ketika Jawa Pos Radar Kediri menanyainya, Wiji menjawab singkat. “Saya mendengar bisikan-bisikan dari adik saya,” ujarnya ketika ditemui di rumahnya, kemarin (19/4).

Bertemu dengan koran ini, perempuan dengan rambut dikuncir tengah itu dalam keadaan normal. Wiji dapat merespons ketika diajak berkomunikasi. Meski terkadang sedikit tidak nyambung dengan apa yang ditanyakan.

Berdasrkan keterangan yang didapatkan Jawa Pos Radar Kediri, Wiji telah mengalami gangguan mental semenjak duduk di bangku kelas enam sekolah dasar (SD). Pada saat itu, Wiji menolak untuk pergi ke sekolah. Hal tersebut diduga karena status orang tuanya yang telah bercerai. “Wes mati (sudah meninggal),” jawab Wiji ketika ditanyai keberadaan orang tuanya.

Sejak dilahirkan, Wiji telah ditelantarkan oleh kedua orang tuanya. Meski begitu, pada kenyataannya, Supeno dan Sarimi, orang tua Wiji masih hidup. Namun keduanya sudah memiliki kehidupan yang baru. Mereka sama-sama sudah menikah kembali.

Sarimi pergi merantau di Kalimantan. Sementara Supeno tidak diketahui keberadaannya.  Rupanya perceraian orang tuanya, menjadi momok yang besar bagi Wiji. Bahkan Sarimi sempat mengatakan akan kembali jika ibunya (Jirah) dan Wiji telah meninggal.

Sesekali, perempuan menggunakan baju gamis warna cokelat itu tersenyum memperlihatkan giginya yang tanggal. “Ini dipukul sama pakde,” terangnya.

Namun ketika dikonfirmasi, Karyoto, 65, paman Wiji, tidak membenarkan hal tersebut. Laki-laki yang merupakan kakak dari Sarimi tersebut mengatakan, penyebab tanggalnya gigi Wiji diakibatkan sering membentur-benturkan kepalanya di lantai ketika sedang kambuh. Tidak hanya membenturkan di lantai, keponakannya tersebut kerap berguling-guling di tengah jalan.

Semula warga sekitar merasa iba. Mereka menolong untuk menenangkan amukan Wiji. Namun, lama-kelamaan warga mulai jengkel dengan kelakuan tersebut. Tidak hanya karena Wiji, namun karena tingkah laku sang nenek. “Neneknya selalu mengambinghitamkan pakdenya,” terang Kepala Dusun (Kasun) Tambak Imam Maki.

Karena rumahnya dekat dengan rumah Wiji, Imam mengaku, sangat mengetahui apa yang terjadi ketika tetangganya itu sedang dalam keadaan mengamuk. Tidak hanya melukai diri sendiri, namun ia juga berusaha menghancurkan barang-barang orang lain.

Bahkan karena mengamuk, Wiji pernah masuk ke dalam kakus. Saat itu bila tidak ditolong, Wiji dapat meninggal. Imam pun nekat masuk ke dalam septic tank untuk menolongnya. Namun rupanya hal tersebut disalahartikan oleh Jirah. Ia mengira cucunya tengah dianiaya.

Untuk pengobatan, pemerintah desa (pemdes) telah menyediakan bantuan. Meski begitu, Wiji masih tetap sering mengamuk. Salah satu upaya desa adalah membawa Wiji ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lawang, Malang. Namun untuk membawa ke sana, pemerintah desa bersama dengan pihak terkait mengalami kendala. Neneknya tidak menginginkan cucunya dirawat di sana.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia