Minggu, 26 May 2019
radarkediri
icon featured
Features

Ketika Umat Kristiani di Sidorejo, Pare Rayakan Ibadah Jumat Agung

Ribuan Jemaat dari Satu Desa Penuhi Ruangan

20 April 2019, 13: 46: 00 WIB | editor : Adi Nugroho

umat sidorejo pare

SAKRAL: Jemaat memanjatkan doa dalam perayaan Jumat Agung di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Sidorejo, Kecamatan Pare, kemarin. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Hampir seluruh warga Desa Sidorejo, Kecamatan Pare memeluk agama Kristen. Mereka khusyuk memperingati hari wafat Isa Almasih, kemarin (19/4). Perayaan Jumat Agung pun terasa sangat sakral. Jemaat tumpah-ruah.

ANDHIKA ATTAR

Teng! Teng! Teng! Suara lonceng Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Sidorejo, Kecamatan Pare berdenting tiga kali. Ribuan jemaat bersiap dengan khidmat. Duduk rapi di bangku panjang di dalam gereja. Sementara yang lainnya berada di tenda yang terpasang di halaman.

Banyaknya jamaat membuat panitia menyediakan tempat duduk dan tenda tambahan. Kendati berada di luar, kekhusyukan mereka tetap sama. Tidak terpengaruh lalu-lalang kendaraan di jalan. Juga dengan paparan sinar mentari pagi yang mengintip di sela-sela tenda.

Remaja, dewasa hingga yang sudah kakek-nenek berkumpul di sana. Mengikuti ritual peribadatan Jumat Agung penuh kasih. Suasana intim dan sakral rangkaian ibadah Paskah pun terasa sangat kuat. Tidak hanya sebagai jemaat semata. Lebih dari itu, mereka semua selayaknya keluarga besar.

Pendeta GKJW Jemaat Sidorejo Dwi Cahyono memulai peribadatan. Lantunan doa dan lagu memenuhi seluruh ruangan. Semakin menebal dan membesar kasih yang terasa. Melihat wajah-wajah tulus bernyanyi, merapalkan nada-nada kepada Tuhannya.

Mereka semua di sana untuk mengenang pengorbanan Yesus. Menebuskan dosa. “Pengorbanan itulah yang harus kita jadikan. Semoga kita semua bisa meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari,” tutur pria yang telah menjadi pendeta di sana sekitar tiga tahun tersebut.

Berbagai ritual terus berjalan. Hingga saat perjamuan kudus. Jemaat dibagikan potongan roti dan minuman anggur. Hal itu sebagai perlambang kasih Yesus. Wujud kasih Allah supaya bisa mendapatkan kekuatan iman.

Tak lama berselang, rangkaian peribadatan telah selesai dilaksanakan. Satu per satu jemaat pun meninggalkan gereja untuk pulang ke rumah masing-masing. Sebagian cukup berjalan kaki karena rumahnya tak jauh dari gereja. Beberapa lainnya menggunakan kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat.

Suasana usai peribadatan tak kalah menyita perhatian. Rasanya jalanan Desa Sidorejo, Pare tersebut penuh dengan orang-orang yang berpakaian rapi. Dengan kemeja, batik atau kebaya. Suasana pagi hari yang hanya dapat dijumpai ketika ada perayaan tertentu saja.

Keramaian tersebut tidak lagi aneh ketika sadar bahwa pemeluk agama Nasrani memang mayoritas di sana. Tak ayal, ketika ada perayaan hari besar seperti Jumat Agung, suasana langsung meriah. Seluruh warga merayakan bisa berkumpul di hari sakral tersebut.

Berdasarkan keterangan Penetua GKJW Jemaat Sidorejo Adi Kantoro, jemaat di sana mencapai sekitar 5 ribuan orang. Hampir semuanya merupakan warga dari dalam desa sendiri. Hanya satu-dua saja yang berasal dari luar desa dan beribadah di sana.

Saking banyaknya jemaat di sana, bahkan sampai ada dua gereja di sana. Gereja tersebut merupakan penambahan. Karena tidak mampu lagi menampung dan memang untuk memudahkan peribadatan warga lainnya. Akhirnya, sekitar 15 tahun yang lalu, didirikanlah GKJW Jemaat Purwoharjo.

GKJW Jemaat Sidorejo, Pare sendiri telah ada sejak masa sebelum masa perjuangan kemerdekaan. “Sebelum merdeka sudah ada gereja ini. Pada tahun 1933 gereja ini didirikan,” cerita Adi.

Ibadah Jumat Agung sendiri dilaksanakan dalam dua kali. Pada pagi hari dan agak siang sekitar pukul 09.00 WIB. Pagi hari hampir semua kalangan yang datang, mulai dari remaja hingga yang dewasa.

Sedangkan yang sesi kedua, kebanyakan terdiri dari orang tua. Bahasa yang digunakan pun berbeda. Pada pagi hari menggunakan bahasa Indonesia. Sedangkan siangnya menggunakan bahasa Jawa.

Tempat peribadatan tersebut sudah turun-temurun dari leluhur mereka yang ada di sana. Kebersamaan dan kekeluargaan pun berusaha terus dipertahankan untuk menjaga keharmonisan.

Ada satu kunci yang dinilai menjadi dasar kebersamaan mereka di sana. Rasa kesederhanaan dan ikatan kuat antarumat lah yang menjadi tali persaudaraan mereka. Rasa saling mengasihi antar sesama yang tak bisa lepas dari urat nadi.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia