Minggu, 26 May 2019
radarkediri
icon featured
Features

Ratusan Umat Kristiani Ikuti Ibadah Jumat Agung

Jemaat Makan Roti dan Minum Anggur

20 April 2019, 13: 24: 10 WIB | editor : Adi Nugroho

jumat agung

RITUAL: Petugas menyiapkan potongan roti untuk dibagikan kepada umat Kristen di GKJW dalam perayaan Jumat Agung, kemarin. (Anwar Bahar Basalamah - radarkediri.id)

NGANJUK–Rangkaian peringatan Paskah, berlanjut hingga kemarin. Di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Nganjuk Jl Diponegoro, ratusan umat Kristiani mengikuti ibadah Jumat Agung. Selain mendengarkan khotbah dari pendeta, mereka juga menjalani ritual perjamuan malam terakhir Yesus Kristus.

          Rangkaian ibadah diawali dengan khotbah Pendeta Agus Kurnianto. Khotbah bertema “Kebangkitan Kristus Memampukan Kota Berdiri Teguh dan Terus Melayani Semua” itu diikuti sekitar 450 jemaat. Setelah itu, ritual dilanjutkan dengan pembacaan doa.

          Puncaknya, ibadah Jumat Agung ditandai dengan perjamuan Yesus Kristus. Setiap jemaat mendapat sepotong roti dan secangkir kecil anggur. Selanjutnya, tiap jamaah langsung memakan roti dan meminum anggur tersebut.

          Menurut Pendeta Agus, roti disimbolkan sebagai tubuh Yesus. Sedangkan anggur adalah darahnya. Bagian tubuh itu merupakan bentuk pengorbanan Yesus kepada umat manusia.

Dalam peristiwa kematiannya yang disalib, Yesus disebut tengah menebus dosa-dosa manusia. “Ada peristiwa pengampunan. Kematiannya menghapus dosa-dosa,” tutur Agus tentang makna Jumat agung.

          Dia mengungkapkan, setiap perbuatan dosa manusia harus ada penyelesaiannya. Sebab, jika tidak mereka akan menemui puncak hukuman. “Makanya dosa manusia diselesaikan. Karena dosa bisa menjerumuskan ke lautan api (neraka),” ungkap pria asal Kota Kediri ini.

          Di Jumat Agung, menurut Agus umat Nasrani memperingati kematian Yesus Kristus. Kemudian, pada Minggu besok (21/4), jemaat merayakan Paskah yang dimulai pagi hari. “Hari Paskah untuk memperingati kebangkitan Yesus,” terangnya.

          Kebangkitan tersebut, jelas Agus, merupakan bentuk kemenangan Yesus dari kuasa maut, dosa dan iblis yang membelenggu manusia. Sehingga Yesus tidak selamanya mati.

          Sebelumnya, tradisi dimulai dengan ibadah Kamis Putih. Agus mengatakan, Kamis Putih merupakan bentuk penghayatan kematian Yesus Kristus. Dengan demikian, manusia diharapkan bisa menghayati kematiannya. “Jadi sebelum Jumat Agung, manusia memahami makna kenapa Yesus mati. Ternyata kematiannya untuk menebus dosa-dosa kita,” bebernya.

          Yang pasti, selain menebus dosa, Yesus juga memberikan teladan agar manusia mengasihi sesamanya. Tidak hanya mengasihi manusia yang  sama agamanya, tetapi juga yang berbeda. “Jadi kita diajarkan untuk mengasihi semua manusia. Tanpa melihat perbedaan,” tandasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia