Minggu, 26 May 2019
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Serangan Umun-Umun

18 April 2019, 19: 39: 15 WIB | editor : Adi Nugroho

Sego Tumpang

Sego Tumpang

Habis nyoblos, kemarin, Dulgembul muring-muring. Bukan karena harus mliliki satu-satu gambar parpol berikut caleg yang lebih banyak tidak dikenal daripada dikenalnya. Juga bukan karena kangelan mbukak kertas coblosannya yang lebar sementara bilik suaranya sudah penuh oleh badannya yang juga lebar. Bukan pula karena jenthikan-nya yang berukuran sejempolan orang-orang sehingga kesulitan masuk ke dalam botol tinta untuk menandai bahwa dirinya sudah nyoblos.

Tapi, karena usai nyoblos, perutnya krucukan. Suara krucuk-krucuk-nya sampai kedengaran petugas dan orang lain yang antre nyoblos. Sementara, begitu nyingklak sepedah lalu ngebut mancal golek sarapan, warung-warung malah pada tutup.

“Oalaah bapaa… oalaah biyuungg…! Iki karepe podo piye too…?!,” protesnya keranta-ranta.

Mbok Dadap sendiri dua hari sebelum hari coblosan sudah kasih pengumuman kepada para pelanggannya, termasuk Dulgembul. Bahwa warungnya ndak bukak pas coblosan. Sebab, Te-Pe-Es-nya agak jauh. Daripada wira-wiri, dia milih prei sekalian. Apalagi, rewang-nya juga harus pulang. Ka-Te-Pe-nya belum pindah. Masih beralamat ndesa binti nggunung. Jadi, harus nyoblos di sana.

“Sekalian pulang nginguk wong tuwa ya, Mbok?,” begitu katanya waktu pamitan ke Mbok Dadap. Si Mbok yang sudah merasakan bungah-nya diendangi anak yang jauh ndak bisa menolak. “Iya..iya..Nduk. Iki tambahan sangu nggo tuku oleh-oleh,” jawabnya sambil nyelipne selembar lima puluh ribuan ke telapak tangan rewang-nya.

Mau nggodok mi instan sendiri di rumah, Dulgembul sudah mblenger. Sebab, waktu melekan hingga dini hari buat ndedepi serangan fajar, dia sudah habis berbungkus dan berpanci-panci. “Aku pengin sego tumpaaanggg…!!,” teriaknya.

Di dompetnya sudah terselip berlembar-lembar uang merah. Juga uang biru. Kalau yang hijau dan ungu, ehm…Dulgembul ndak mau. Sebab, dia tau, eseman-nya jauh lebih manis daripada senyuman di uang hijau dan ungu itu.

“Sssstt…iki olehku ndedepi serangan fajar kae mau,” bisiknya kepada Matkriwul sambil memamerkan isi dompetnya. Yang dipameri ganti memamerkan isi kantongnya yang tak kalah nggedebel.

Tapi, tiba-tiba, “Hoooiii..! Ra sah nggawa-nggawa jenengku. Aku ra tau ngono kuwi..!,” semprot Dulfajar yang merasa tidak pernah bikin serangan apapun. “Mbok diganti namanya. Serangan subuh gitu…”

Halah, kali ini ganti Matsubkhi yang protes. “Subuh, Subkhi, kuwi mirip. Nanti dikira aku yang bikin serangan. Ganti serangan dini hari ae..”

Jeng Dini yang baru nyoblos ndak terima juga. “Ndak usah bawa-bawa namaku juga. Aku ndak mungkin bikin-bikin serangan gitu.”

Semua terdiam. “Ya wis, ya wis..,” Dulgembul yang selak keluwen segera nyingklak sepedahnya lagi, “Iki asil serangan isuk umun-umun..!”

Percuma saja bagi dia, apapun sebutannya, amplopan yang dia terima pada serangan fajar, eh.. serangan subuh, eh.. serangan dini hari, eh.. serangan isuk umun-umun itu, ndak banyak gunanya. Meskipun, isinya berlembar-lembar uang merah atau biru.

Lha wong ndak bisa dipakai buat ngobati perutnya yang krucukan sekaligus lidahnya yang –ndak bisa ndak—nyidam sego tumpang. Di pagi hari usai nyoblos kemarin.

Maklum, bakul-bakul sego tumpang memang banyak yang mrei. Bukan semata karena agar bisa nyoblos. Tapi, karena duit sedang ndak payu di warung-warung mereka. Sebab, seperti Dulgembul, mereka sendiri sedang kandel. Ya gara-gara dapat serangan fajar, eh..subuh, eh..dini hari, eh..isuk umun-umun itu.

Tanpa perlu bukak dasar, mereka bisa dapat uang merah atau biru. Yang, jumlahnya bisa melebihi hasil jualan di warung seharian. “Sekali-kali prei to, Mbul. Mosok mbok kongkon kerja terus..,” jawab Mak Dlongop sambil mengibas-kibaskan amplopan di depan warungnya yang tutup.

Prei bakulan tapi dapat duit. Itu yang jadi idaman orang-orang seperti mereka. Makanya, tanggal-tanggal coblosan selalu mereka bunderi. Semakin banyak hari coblosan dalam setahun, mereka lebih senang. Sebab, ndak perlu bakulan, ndak perlu mbecak, ndak perlu ngarit, ndak perlu macul, sudah mesti dapat duit. Bisa prei dan dolan-dolan.

Toh, siapa pun yang jadi pemenang, mereka masih tetap harus bakulan lagi, mbecak lagi, ngarit lagi, macul lagi. Yang, seringkali, meski sudah direwangi ndak pernah prei, hasilnya ndak bisa buat dolan ke sana kemari.

Beda dengan orang-orang yang walau bolak-balik mrei, ninggal gawean untuk dolan ke sana kemari, duitnya terus mili.. (tauhid wijaya)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia