Minggu, 26 May 2019
radarkediri
icon featured
Features

Kampung Perajin Anyaman Bambu di Plaosan, Wates

Seni Turun-temurun yang Ramah Lingkungan

18 April 2019, 19: 02: 32 WIB | editor : Adi Nugroho

warga kampung bambu

KREATIF: Warga menganyam tompo yang sudah dipesan konsumen di halaman rumah, Dusun/Desa Plaosan, Kecamatan Wates, kemarin (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Salah satu RT di Dusun/Desa Plaosan, Kecamatan Wates adalah sentra penganyam bambu. Seni kerajinan tersebut sudah diwariskan turun-temurun. Sejak puluhan tahun lalu, hingga kini para perajinnya tetap melestarikannya.

IQBAL SYAHRONI

Selasa siang itu (16/4), cuaca sedang agak mendung. Jalanan menuju ke Dusun/Desa Plaosan, Kecamatan Wates terlihat agak sepi. Beberapa kali terlihat kendaraan bermotor melintas. Di jok belakangnya tampak terangkut karung berisi hasil panen dari sawah.

Sementara di beberapa rumah, sejumlah warga sedang bersantai di teras masing-masing. Ketika sudah sampai di RT03/RW08 Dusun Plaosan, terlihat beberapa perempuan di sedang melakukan kegiatan di kediamannya.

Setelah koran ini mencoba mendatangi untuk melihat lebih dekat, ternyata mereka sedang menipiskan potongan bilah bambu. “Iya, ini untuk dibuat anyaman,” ujar Lilik Sriani, 43, salah seorang warga Plaosan.

Saat itu, dia tengah menipiskan potongan bambu tersebut untuk dijadikan tompo atau tempat nasi yang sudah matang. Meski diajak mengobrol bertanya-tanya oleh wartawan Jawa Pos Radar Kediri, Lilik masih bisa mengerjakan anyaman tersebut, tanpa terdistraksi.

Di sampingnya, terlihat ada anak perempuan yang sedang membantu menganyam. Anak perempuan tersebut adalah anak kedua dari pasangan Lilik dan Jumilan. “Iya, ini anak saya yang kedua. Dia sering bantu-bantu bikin anyaman,” ungkapnya.

Memang, Lilik yang tinggal dengan suami dan dua anaknya itu menghabiskan waktu siangnya untuk bekerja menganyam bamboo. Kerajinan tersebut akan dijadikan tempat nasi. “Untuk variasi lainnya belum bikin, Mas, kalau ada yang pesan ya dibuatkan,” terangnya.

Lilik mengaku bahwa usaha tersebut sudah turun-temurun dari orang tuanya. Selain karena sudah terbiasa dan terampil, ibu dua anak ini juga tidak ingin tradisi seperti ini sirna. Apalagi bila sampai terputus ke generasi selanjutnya.

Bukan mengapa, namun agar masyarakat lebih menghargai lingkungan dengan memakai wadah nasi yang ramah lingkungan dibandingkan dengan plastik. Karena pembuatannya menggunakan bahan tanaman bambu.

Lilik juga menjelaskan, awal mula kampungnya disebut kampung anyaman bambu karena pernah diadakan pelatihan pembuatan anyaman bambu. Awalnya, ditujukan kepada para laki-laki di kampungnya. Namun seiring perkembangan zaman, para perempuan pun diberdayakan. “Sudah ada sekitar 30-40 tahunan, Mas, itu sejak zaman orang tua saya,” kenangnya.

Selain itu, berjarak sekitar 20 meter ke arah selatan dari rumah Lilik, terlihat pasangan suami istri (pasutri) yang juga sedang menganyam bambu. Pria tersebut bernama Nur Khamim, 50, dan istrinya bernama Siti Solikah, 47.

Terlihat, Nur sedang memotongi potongan bamboo. Sedangkan Siti menipiskan potongan bambu. “Bapake baru pulang dari sawah, ya, begini langsung membantu saya, Mas,” kata Siti

Perempuan ini menambahkan bahwa saat ini ada sekitar 25 kepala keluarga (KK) yang juga berbisnis di bidang anyaman bambu. Meski tidak tergabung dalam satu kelompok, biasanya para pengayam ini akan mengumpulkan ke satu pengepul, yang nantinya akan dikirim ke pasar.

Ada pula pembeli dari luar desa yang juga memesan. Mulai dari Pare, Nganjuk, Blitar, semua langsung datang ke rumah para perajin pembuat wadah nasi tersebut. “Biasanya juga ada yang datang langsung ke rumah, pesan berapa, nanti dibuatkan,” terang Siti.

Rata-rata para pengrajin anyaman bambu ini dapat membuat sepuluh wadah nasi dalam satu hari. Dengan harga yang berkisar mulai dari Rp 2.000- Rp 8.000 per biji. Harga itu tergantung ukuran.

Selain mendapatkan nuansa alam, masyarakat yang membeli untuk membantu mengurangi sampah wadah nasi yang terbuat dari plastik. Bahan plastik itu kini kian banyak dijumpai.

Seiring melangkahkan kaki meninggalkan tempat Nur Khamim dan Siti, mereka masih secara telaten memotong dan menipiskan potongan bambu agar kualitas dari wadah nasi yang mereka buat, kuat dan tahan lama.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia