Minggu, 26 May 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Belum Bebas dari Money Politics

Satu Orang Bisa Dapat Dua Amplop

18 April 2019, 14: 22: 08 WIB | editor : Adi Nugroho

Uang

REZEKI PAGI: Warga menunjukkan dua amplop berisi uang yang didapat dari timses caleg sebelum pencoblosan kemarin. (Rekian - radarkediri.id)

Pemilu yang berlangsung kemarin masih belum bebas dari praktik money politics. Bagi-bagi uang oleh tim sukses calon anggota legislatif (caleg) ditemukan di sejumlah daerah.

Informasi yang dihimpun koran ini, pembagian uang dilakukan pada Selasa (15/4) malam. Sebagian lainnya membagikan pagi hari jelang coblosan. Seperti diakui oleh Kolik, 21. Pemuda asal Kertosono itu mengatakan, pada pukul 02.00 dini hari kemarin dirinya didatangi oleh tim sukses caleg.

Tim caleg berbeda mendatanginya pukul 04.00 kemarin. “Saya tidak tahu tim sukses siapa. Mau bagi-bagi uang, tapi saya usir,” ujar Kolik sembari menyebut sang tim sukses juga mendatangi rumah tetangganya.   

Tak hanya di Kertosono, serangan fajar juga terjadi di Kecamatan Prambon. Para tim sukses mendatangi rumah warga dini hari hingga pagi sebelum coblosan. “Saya dapat dua amplop,” aku Agus Andrianto, 36, asal Prambon.

Satu amplop berisi uang Rp 20 ribu diterima dari timses caleg DPR RI. Kemudian, satu amplop lainnya berisi uang Rp 50 ribu diterima dari caleg DPRD Kabupaten Nganjuk.

Tidak hanya Agus, rupanya uang dari dua caleg itu juga diberikan kepada tiga anggota keluarganya yang memiliki hak pilih. Karenanya, dari dua caleg itu keluarga Agus mendapat uang total Rp 280 ribu.

Walaupun menerima uang dari dua caleg tersebut, Agus mengaku tidak mencoblos keduanya. Sebab, dia sudah menetapkan pilihan caleg di DPR RI dan DPRD Kabupaten Nganjuk sejak jauh-jauh hari. “Tidak saya coblos,” lanjutnya sembari mengaku tidak mengenal dua caleg yang memberi uang.

Sementara itu, meski menerima uang dari para caleg, Agus mengaku tidak melapor ke bawaslu. Alasannya, dia tidak tahu prosedurnya. “Biar saja, nanti kalau mereka (caleg, Red) kalah rugi sendiri,” terangnya sambil tersenyum.

Terpisah, Anggota Bawaslu Nganjuk Divisi Penindakan Pelanggaran Fina Lutfiana yang dikonfirmasi tentang praktik money politics di Prambon dan Kertosono mengungkapkan, pihaknya tidak mendapat laporan dari dua daerah tersebut. Panitia pengawas kecamatan (panwascam) maupun pengawas pemilu lapangan (PPL) juga tidak mendapat temuan.

Kepada koran ini Fina mengungkapkan, sebenarnya ada banyak informasi yang masuk. Hanya saja, setiap info yang diberikan kepadanya tidak memenuhi syarat formil dan materiil. Sehingga, tidak bisa ditindaklanjuti.

Lebih jauh Fina mengungkapkan, kemarin bawaslu juga sempat menindaklanjuti temuan money politics di Kecamatan Gondang. Ada warga yang melapor setelah menerima uang dari tim sukses.

Sayangnya, laporan itu juga tidak bisa diproses karena korban tidak mengetahui siapa identitas pemberi uang.  “Secara formil materiil juga tidak diketahui siapa,” bebernya sembari menyebut uang yang disebar di Gondang itu senilai Rp 60 ribu tiap amplopnya.

Sementara itu, pemilu di Kabupaten Nganjuk kemarin jadi pantauan khusus Polda Jatim. Sekitar pukul 13.30 kemarin, Wakapolda Jatim Brigjen Pol Toni Harmanto mengecek TPS 04 Kelurahan Mangundikaran, Nganjuk.

Toni kemarin bersama dengan Kasdam V Brawijaya Brigjen Bambang Ismawan dan Kasgartab III/Surabaya Brigjen (Mar) Lukman Hasyim. Setelah memastikan kondisi TPS aman, Toni dan rombongan menuju Polres Nganjuk untuk mengecek potensi kerawanan di Kota Angin.

Kepada sejumlah wartawan, Toni menjelaskan, kedatangannya ke Nganjuk untuk memastikan pemilu berjalan lancar dan aman. “Antisipasi kerawanan akan dilakukan hingga proses (pemilu, Red) berakhir,” tuturnya.

Terkait kondisi sejumlah daerah di Jatim, Toni mengakui, hingga kemarin ada beberapa peristiwa yang diduga masuk pidana pemilu. “Tetapi saat ini masih jadi kajian bawaslu,” lanjut Toni sembari menyebut kejadian yang diusut itu terkait politik uang.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia