Minggu, 26 May 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Pemungutan Suara di TPS Khusus Lapas Nganjuk

Yang Tak Punya NIK pun Golput

18 April 2019, 14: 17: 16 WIB | editor : Adi Nugroho

Lapas

LEMBUR: Petugas Pembinaan Kepribadian Lapas Nganjuk Kusdianto mengecek surat suara dalam penghitungan di aula, kemarin sore. (Rekian - radarkediri.id)

Aula Lapas Nganjuk di Jl Supriyadi, Kota Nganjuk kemarin berubah fungsi. Ruangan yang biasanya jadi pusat kegiatan warga binaan itu disulap jadi tempat pemungutan suara (TPS). Meski berada di balik jeruji besi, ratusan penghuninya tak kehilangan suara.

Seperti halnya ribuan TPS lain yang tersebar di Nganjuk, aktivitas pemungutan suara dimulai sekitar pukul 07.00. Tujuh anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) melakukan sejumlah persiapan.

Mulai pengambilan sumpah, penandatanganan surat suara dan persiapan lainnya. “Setelah semua persiapan selesai, barulah narapidana dikeluarkan bertahap dari sel untuk mencoblos,” ujar Kusdianto, petugas pembinaan kepribadian Lapas Nganjuk.

Berbeda dari biasanya, Kus, sapaan akrab Kusdianto, kemarin menjadi petugas KPPS. Bersama empat petugas lapas lainnya, mereka menyelenggarakan pesta demokrasi bagi total 308 narapidana dan warga di sana. Selain lima petugas, ada dua warga lainnya yang juga menjadi petugas KPPS.

Pria asal Desa Ngudikan, Wilangan yang setiap harinya memang sudah akrab dengan para narapidana itu bertugas memanggil nama-nama mereka agar mencoblos. “Karena waktunya terbatas, kami harus memastikan pencoblosan tepat waktu,” lanjutnya.

Dibanding pemilihan kepala daerah (pilkada) 2018 lalu, pemilu kemarin memang lebih lama. Dengan lima jatah surat suara yang harus dicoblos, rata-rata narapidana membutuhkan waktu antara 5-10 menit di TPS. Adapun saat pilkada, mayoritas hanya berada di TPS selama 1-2 menit.

Lamanya pencoblosan berdampak pada penghitungan suara. Hingga pukul 21.00 tadi malam, KPPS di lapas masih harus menghitung satu kotak suara yang tersisa. “Ya semua lelah. Tetapi kami bersyukur karena pemilu di sini berlangsung kondusif,” tutur pria berusia 46 tahun itu.

Bagaimana hasil pemilu di TPS khusus itu? Kalapas Nganjuk Diding Alpian mengungkapkan, untuk pemilihan presiden, pasangan Jokowi Ma’ruf Amin mendapatkan 132 suara. Kemudian, pasangan Prabowo-Sandiaga Uno mendapat 165 suara. “Total ada 11 suara yang tidak sah,” ungkap Diding.

Uniknya, meski Jokowi kalah di sana, tetapi PDI Perjuangan mendapat 61 suara atau yang paling tinggi dalam perhitungan suara DPR RI. Disusul Gerindra dengan 28 suara. Selebihnya, dibagi sejumlah parpol lain.

Sementara itu, jika ratusan narapidana bisa menyalurkan suara di lapas, ada 48 narapidana lainnya yang kurang beruntung. Mereka tidak bisa mencoblos karena tidak memiliki nomor induk kependudukan (NIK). “Ada 11 (tahanan, Red) yang baru masuk. Jadi total yang tidak mencoblos 59 orang,” urai Diding sembari menyebut narapidana yang mencoblos adalah yang masuk ke dalam DPT dan DPTb.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia