Minggu, 26 May 2019
radarkediri
icon featured
Features

Unyo Budoyo, Kesenian Jaranan “Gila” dari Desa Ngadi, Kecamatan Mojo

Pemainnya Para Lansia, Sesajinya Sate Ayam

16 April 2019, 14: 28: 00 WIB | editor : Adi Nugroho

jaranan unyo budoyo

UNIK: Basuki Eko Margono tampil bersama para pemain jaranannya di Festival Jemblung, Desa Dukuh, Kecamatan Ngadiluwih (6/4). (Andhika Attar - radarkediri.id)

Seni jaranan yang dimodifikasi Basuki Eko Margono ini menawarkan pertunjukan yang berbeda. Banyak hal lucu yang bisa dijumpai dalam pergelaran kesenian jaranan Unyo Budoyo ini. Apa itu?

ANDHIKA ATTAR

Mulut Basuki Eko Margono, penggagas jaranan Unyo Budoyo, komat-kamit. Kedua telapaknya berada di atas tungku kecil yang penuh arang. Dengan posisi punggung tangan berada di atas. Kepulan asap dari tungku di depannya pun menari-nari. Mengikuti gerak tangan Eko dan sapuan angin.

Enam lelaki parobaya dan lanjut usia (lansia) duduk bersila. Mereka mengitari tungku itu. Masing-masing membawa jaranan, lengkap dengan cambuknya. Tak lama kemudian, mereka lalu berdiri semua.

Kini giliran Eko berkeliling di depan pemain jaranan tersebut. Dia mempersiapkan para pemainnya untuk beraksi pada Festival Jemblung di Desa Dukuh, Kecamatan Ngadiluwih pada Sabtu (6/4) lalu.

Dibawanya tungku yang penuh asap mengepul tersebut di tangan kiri. Sementara tangan kanannya bergerak menari-nari. Gerak tangannya mantap. Dipadu dengan cincin batu akik di jari tengah dan manisnya.

Lalu Eko duduk berseberangan dengan para pemainnya. Sesaji kemudian datang, tangannya pun menyambutnya. Jika diamati dengan seksama, banyak hal aneh dalam kesenian jaranan yang ditampilkan oleh Eko dan pemainnya.

Mulai dari pemain yang sudah berumur tua dan perlengkapan jaranannya sendiri. Yang paling mengganjal adalah sesajinya. Biasanya sesaji yang dimakan adalah ayam mentah. Tidak dengan jaranan tersebut.

“Kalau kita sesajinya menggunakan sate ayam yang dibakar di atas tungku. Kan lebih enak kalau daging ayamnya matang,” ujar pria yang juga tercatat sebagai Kepala Desa (Kades) Ngadi, Mojo tersebut sembari tertawa.

Pria yang sering diminta untuk menjadi pranata acara dalam adat Jawa tersebut mengaku, memang sengaja merubah sesaji tersebut. Ia dengan sadar mengubah sesaji yang biasanya ayam atau daging mentah dengan yang matang.

Seperti halnya sate ayam yang dibakar terlebih dahulu. Praktis, bukan bau kemenyan yang tercium. Namun harum gurih sate yang terbang bersama asap yang merangsek lubang hidung.

Pria yang kerap menggunakan pakaian adat Jawa tersebut memang banyak ide-ide dalam benaknya. Lebih hebatnya lagi, ide tersebut banyak yang berhasil direalisasikan. Salah satunya juga kesenian jaranan tersebut.

Eko menggagas kesenian tersebut sekitar tiga tahun silam. Kala itu ia memang sengaja melakukan modifikasi terhadap kesenian jaranan yang sudah umum dikenal orang. Ia memutar otaknya untuk menemukan rumus atau formula yang tepat untuk digunakan.

Pencarian ide pun berlabuh pada sebuah pelabuhannya. Akhirnya Eko memutuskan untuk memodifikasi kesenian jaranan dengan konsep yang lucu. Tidak seperti kebanyakan, yang menawarkan kesan mistis dan ditakuti oleh anak-anak kecil.

Eko justru berusaha menampilkan hal yang berbeda. Lalu lahir lah kesenian jaranan yang diberinya nama Unyo Budoyo. Unyo sendiri merupakan sebuah kata dalam bahasa Jawa. Di mana bisa diartikan gila. “Kalau orang itu ya kadang nyambung, kadang tidak,” imbuhnya berkelakar.

Salah satu formula yang diterapkannya adalah perekrutan pemain jaranan yang umurnya tak lagi muda. Bisa dikatakan juga lansia. Menurutnya hal itu dilakukan guna menguatkan premis lucu yang sedang diciptakannya. Bahkan para lansia tersebut juga menggunakan kacamata hitam saat beraksi.

Tak hanya itu, bahan yang dipakai untuk jaranan pun berbeda. Biasanya jaranan terbuat dari anyaman bambu. Dilukis dengan indahnya, diberi detail-detail yang semakin mempercantiknya. Dalam Unyo Budoyo, jaranan yang dipakai terbuat dari blarak atau daun kelapa tua.  Itu pun juga dirangkai dengan seadanya, tanpa hiasan maupun pernak-pernik lainnya.

Tak berbeda jauh, gamelan yang dipakai juga terbuat dari bahan dasar bambu. Bahan yang dipilih itu pun memberikan kesan yang berbeda dengan bunyi gamelan jaranan pada umumnya.

Pria yang hobi berkendara skuter tersebut memiliki alasan tersendiri atas ide yang digagas. Ia ingin melestarikan kesenian jaranan dengan caranya sendiri. Pasalnya budaya dan kesenian pun butuh untuk terus diperbarui agar tidak statis atau monoton.

“Sama sekali tidak ada maksud untuk menghina kesenian jaranan yang telah ada dengan membuatnya seperti bercanda. Saya harap tidak ada salah paham,” ungkap ayah dua anak tersebut.

Jaranan Unyo Budoyo menawarkan sesuatu yang berbeda. Meskipun bukan sebuah kesenian baru. Namun apa yang ditampilkan oleh Eko dan pemainnya menjadikan kesenian jaranan semakin banyak pilihannya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia