Minggu, 26 May 2019
radarkediri
icon-featured
Hukum & Kriminal

Pembunuhan Budi Hartanto: Dipicu Masalah Uang Kencan

16 April 2019, 14: 18: 23 WIB | editor : Adi Nugroho

pembunuhan budi

Pelaku mutilasi Budi Hartanto

KEDIRI KABUPATEN – Motif pembunuhan Budi Hartanto, 28, guru honorer SDN Banjarmlati 2 Kediri, terkuak melalui pengakuan dua tersangka, kemarin. Mereka, Aris Sugianto, 34, warga Desa Mangunan, Udanawu, Blitar, dan Aziz Prakoso, 23, warga Desa/Kecamatan Ringinrejo membeber alasan menghabisi hingga memutilasi kepala pelatih tari itu.

“Pengakuan tersangka juga disebutkan saat press release hari ini (kemarin, Red),” ujar Kabid Humas Polda Jatim Frans Barung Mangera ketika dikonfirmasi koran ini, kemarin.

Masing-masing tersangka mempunyai peran berbeda. Aris berperan lebih besar. Sebab terbunuhnya pemuda lajang asal Kelurahan Tamanan, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri tersebut terpicu persoalan dirinya dengan korban.

Sebelum berujung maut, Aris dan Budi ternyata sempat melakukan hubungan asmara sesama jenis. Mereka melakukannya di rumah kontrakan Aris yang sehari-hari digunakan untuk warung nasi goreng di Jl Surya, Desa Sambi, Kecamatan Ringinrejo.

Peristiwa itu terjadi pada Selasa, 2 April lalu. Kejadian berawal saat Aris berjanji bertemu dengan Budi di rumah kontrakannya. Kepada penyidik, pemuda yang pernah menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia ini mengaku, sebelumnya memang sudah janjian ingin bertemu.

Pembunuhan Budi Hartanto

Pembunuhan Budi Hartanto

Waktunya disepakati sekitar pukul 23.00 WIB, Selasa (2/4). Makanya, Budi yang saat itu baru selesai latihan di sanggar tarinya di GOR Jayabaya, Kelurahan Banjarmlati, Mojoroto, pamit dengan teman-teman yang ikut berlatih. Hanya saja, Budi tak menyebut akan ke mana. Ia hanya mengatakan ingin membeli makanan. Guru honorer ini pergi mengendarai sepeda motor Honda Scoopy bercat putih.

Sekitar pukul 23.00 WIB, Budi pun bertemu Aris di kontrakannya yang sekaligus dimanfaatkan untuk warung nasi goreng. Selanjutnya, Aris mengaku, mengajak Budi untuk melakukan hubungan intim di kamarnya. 

Saat itu, Aziz juga sudah berada di sana. Namun, pemuda yang sehari-hari bekerja sebagai dekorator di salon rias pengantin ini hanya kongko di luar warung. “Kedua pelaku (Aris dan Aziz) mengaku bahwa memang sebelumnya mereka berdua sedang main-main saja di warung milik pelaku AS (Aris Sugianto),” ungkap Barung.

Setelah berlalu beberapa waktu, menurut keterangan Aris, Budi lantas meminta uang sebesar Rp 100 ribu. Itu setelah dirinya melakukan hubungan intim. Ditengarai uang tersebut sebagai imbalan atas jasa kencannya. Namun, Aris tidak memberinya. Dia berdalih tidak memiliki uang untuk membayar jasa layanan seksual itu. Karena itu, Budi pun emosi.

Merasa dipermainkan, bujangan yang punya usaha kafe di kawasan GOR Jayabaya ini sontak mengamuk. Pengakuan Aris saat press release di mapolda menyebut, Budi berteriak-teriak. Bahkan, kemudian dirinya dan Budi terlibat cekcok.

Keduanya adu mulut. Hingga keributan tak terelakkan. Padahal, waktu sudah lewat tengah malam. Kejadian itu sempat terdengar oleh sejumlah tetangga. Namun, mereka tak keluar rumah lantaran telah larut malam.

Tidak selesai sampai di situ. Budi yang masih marah karena tidak terima ‘dipermainkan’ akhirnya keluar kamar sembari memaki-maki Aris. Di luar, Aziz yang terganggu dengan percekcokan Aris dan Budi berusaha meredam.

Dia berusaha menenangkan Budi. Pengakuan Aziz kepada pihak kepolisian, teriakan Aris dan Budi mengganggu warga sekitar. Karena keributan tersebut terjadi sudah lewat tengah malam.

Upaya Aziz menenangkan Budi tampaknya sia-sia. Kemarahan Budi tak terbendung. Bahkan gara-gara tidak terima ditenangkan Aziz, Budi pun menempeleng wajah Aziz.

Kaget dengan perlakuan itu, Aziz pun membalas. Dia sontak memukul Budi hingga terjatuh. Saat terjatuh, menurut Aziz, Budi melihat ada senjata tajam berupa parang di warung nasi goreng itu. Dia lalu mengambil senjata tajam itu. “Semua dijelaskan oleh kedua pelaku,” imbuh Barung.

Merasa terancam karena Budi menodongkan senjata tajam itu, Aziz pun mencoba melawan. Dia berusaha merebutnya. Sementara Aris yang sudah keluar kamar, membantu Aziz. Dia memegangi Budi agar tenang dan tidak melawan.

Sempat terjadi perlawanan. Tetapi, akhirnya Aziz dapat merebut senjata tajam itu. Dia lalu mengayunkan parang tersebut ke arah Budi. Ayunan sajam itu mengenai bagian leher dan bahu. Hingga akhirnya Budi terluka parah. Kehilangan banyak darah, pemuda ini akhirnya meninggal dunia.

Mengetahui Budi sudah tak bernyawa, Aris dan Aziz panik. Mereka lantas berusaha menghilangkan jejak. Bekas darah di warung dibersihkan. Setelah itu, keduanya berencana membuang jasad Budi.

Aris memiliki ide untuk memasukkan jenazah Budi ke dalam koper hitam milik ibunya. Tas itu sudah ada di kamar kontrakannya. Namun, ternyata tubuh Budi terlalu besar dimasukkan dalam koper itu. Karena tidak cukup muat, jasad Budi akhirnya dimutilasi.

Aris dan Aziz pun sepakat untuk memotong kepalanya. “Keduanya mengaku melakukannya (mutilasi) bergantian,” terang Barung. Selanjutnya, malam itu juga jasad Budi yang sudah termuat dalam koper dibuang.

Peran Pembunuh Budi Hartanto 

 

Tersangka Aris

-         Berjanji ketemu dengan Budi lalu berkencan di kamar kontrakannya

-         Menolak membayar setelah berhubungan intim dengan Budi

-         Memegangi tubuh Budi saat Aziz merebut senjata tajam yang dibawa Budi

-         Membersihkan darah Budi di warung kontrakannya

-         Menyiapkan koper untuk memasukkan jasad Budi

-         Ikut memutilasi kepala Budi

Tersangka Aziz  

-         Menenangkan Budi saat emosi karena Aris menolak membayar uang kencan

-         Memukul Budi karena tidak terima ditempeleng saat menenangkannya

-         Merebut parang yang diambil Budi dari warung

-         Mengayunkan parang hingga melukai bahu dan leher Budi

-         Melakukan mutilasi terhadap kepala Budi

-         Bersama Aris, membuang kepala dan jasad Budi dalam koper

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia