Minggu, 26 May 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Takut Kehilangan Siswa, Bangun Sendiri Kelas Rusak

Rehab Kelas, Pinjam Uang dari Koperasi

16 April 2019, 12: 53: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

Sekolah

TAK TUNGGU DAK: Tiga kelas rusak di SDN Watudandang III dibangun lebih awal menggunakan uang koperasi atas kesepakatan komite sekolah. (Rekian - radarkediri.id)

NGANJUK-SDN Watudandang III, Prambon, agaknya tak sabar menunggu cairnya dana alokasi khusus (DAK) untuk memperbaiki tiga kelas mereka yang rusak. Sejak Maret lalu, mereka sudah merehab ruangan yang dikosongkan itu. Alasannya, sekolah membangun lebih awal karena takut tidak ada siswa yang mau bersekolah di sana pada tahun ajaran baru nanti.

          Pantauan koran ini, tiga ruang kelas yang sebelumnya atapnya ambrol itu sudah dipasang kerangka atap baru dari kayu. Sebagian dindingnya masih menggunakan konstruksi lama. Kemudian, di bagian depan ada sepuluh tiang penyangga dari beton.

          Kepala SDN Watudandang III Prambon Ali Hafidz mengatakan, pembangunan kelas secara swakelola dilakukan setelah ada kesepakan dengan komite sekolah. “Sebentar lagi penerimaan siswa baru, makanya ini dibangun,” ujarnya.

Sebelum membangun kelas yang rusak itu, lanjut Ali, pihaknya sudah konsultasi dengan dinas pendidikan (disdik). Dalam pertemuan itu, pihak sekolah meminta rancangan anggaran biaya (RAB). “Setelah itu direalisasikan,” lanjutnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Nganjuk M. Yasin membenarkan bila SDN Watudandang III sudah berkoordinasi dengannya. “Untuk sementara (pembangunan kelas rusak, Red) menggunakan uang pinjaman koperasi,” ungkap Yasin sembari menyebut pembangunan gedung menggunakan dana koperasi itu diperbolehkan khusus untuk perbaikan bangunan rusak akibat bencana.   

Terkait proses pencairan DAK untuk rehab sekolah rusak, Yasin menegaskan, saat ini prosesnya tengah berlangsung. “Sudah. Sudah (dalam proses pencairan, Red,” lanjutnya.

          Seperti diberitakan, perbaikan kerusakan bangunan di SDN Watudandang tiga dipatok Rp 285 juta dari DAK. Anggaran terebut untuk memenuhi kebutuhan biaya bangunan yang ambruk.

Meski demikian, dana ratusan juta rupiah itu belum mencakup kerusakan ruang guru yang juga tak kalah parah. Hingga kemarin, bangunan yang dalam kondisi berbahaya itu tetap digunakan.

          Sementara itu, jika sebelumnya siswa sempat menumpang di Madrasah Diniyah Al-Muhibbin, saat ini mereka sudah kembali belajar di SDN Watudandang tiga. Karena kondisi ruangan yang terbatas, siswa kelas I, II dan III tetap digabung. Siswa kelas I dan II belajar di perpustakaan yang diberi pembatas lemari. Kemudian, siswa kelas III dan IV menjadi satu ruangan di dekat ruang guru.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia