Minggu, 26 May 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Korban Rumah Ambruk Tunggu Bantuan Perbaikan

Mengungsi, Tak Punya Uang untuk Membangun

16 April 2019, 12: 49: 12 WIB | editor : Adi Nugroho

Rumah

BERATAP LANGIT: Jumini merapikan kompor di pelataran bekas rumahnya yang ambruk. Dia meletakkan meja dan kursi di sana untuk mengobrol pada malam hari. (Rekian - radarkediri.id)

NGANJUK- Jumini, 41, warga asal Desa Putukrejo, Loceret, masih harus bersabar. Perempuan yang rumahnya ambruk akibat angin kencang dan hujan deras pada Februari lalu itu belum kunjung mendapat bantuan hingga sekarang. Padahal, sebelumnya dia dijanjikan mendapat bantuan pembangunan rumah dari Pemkab Nganjuk.

          Untuk diketahui, akibat bencana tersebut Jumini tidak hanya kehilangan tempat tinggalnya. Lamidi, 90, sang kakek juga tewas setelah tertimpa reruntuhan bangunan.

          Rupanya, hingga 40 hari meninggalnya Lamidi, bantuan perbaikan rumah belum kunjung datang. Jumini bersama keluarganya pun masih harus tinggal mengungsi di rumah tetangga. “Suami saya pernah Tanya (bantuan, Red) ke desa (kepala desa, Red), katanya disuruh menunggu,” ujar Jumini kepada koran ini, kemarin.   

          Lebih jauh Jumini mengakui, dirinya pernah menerima bantuan semen dari Polsek Loceret. Kemudian, ada pula bantuan uang dari Pemkab Nganjuk, Kecamatan Loceret dan Program Keluarga Harapan (PKH). Di luar itu, dirinya juga menerima bantuan dari komunitas sosial dan calon anggota legislatif.

Meski sudah ada beberapa pihak yang membantu, uang yang terkumpul tidak cukup untuk membangun rumah. Melainkan, hanya cukup untuk

memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

          Suwandi, sang suami, lanjut Jumini, sebenarnya juga terus bekerja. Tetapi, penghasilannya sebagai buruh tani tidak menentu. Yaitu, hanya sekitar Rp 50 ribu. “Kalau sedang musim panen bisa Rp 100 ribu. Tapi itu jarang,” lanjutnya.

          Karenanya, Jumini berharap dinas sosial, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (dinsos PPPA) bisa membantu membangunkan rumahnya agar bisa ditempati lagi. “Saya sungkan karena sudah lama menumpang,” terangnya.

          Terpisah, Plt Kepala Dinsos PPPA Nganjuk M. Yasin mengungkapkan, pihaknya sudah menerjunkan tim untuk mengecek ke lapangan. Hasil dari tim lapangan itu, lanjut Yasin, disinkronkan dengan pemerintah desa dan camat. “Ini pengajuan (bantuan, Red) masih proses. Setidaknya butuh waktu tiga bulan,” terang Yasin sembari menyebut dinsos PPPA sudah mengajukan bantuan tersebut ke Bupati Novi Rahman Hidhayat.

          Proses pengajuan bantuan dan realisasi, lanjut Yasin, diperkirakan menelan waktu sekitar tiga bulan. Ditanya tentang jenis bantuan yang akan diberikan, Yasin menjelaskan, kemungkinan pemkab akan memberi bantuan kepada korban yang meninggal dan bangunan yang rusak. “Mungkin nanti bantuannya Rp 10 juta untuk bangunan dan korban Rp 10 juta,” tandasnya.

          Jika bantuan tersebut sudah bisa dicairkan, menurut Yasin dinsos PPPA akan segera menyerahkannya kepada keluarga korban. Dengan demikian, rumah mereka bisa segera diperbaiki.

Pantauan koran ini, bekas rumah yang roboh itu kini diberi meja dan kursi yang biasanya digunakan untuk ngobrol saat malam hari. Selain ada meja dan kursi, di bekas rumah yang ditempati Jumini dan keluarganya itu juga dipasang kompor gas. Sementara, material seperti kayu sisa bangunan rumah diletakkan di halaman tetangganya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia