Minggu, 26 May 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Diguyur Hujan Deras, Satu Rumah Roboh

Pohon Tumbang Menimpa Dua Tiang Telkom

16 April 2019, 12: 42: 23 WIB | editor : Adi Nugroho

Rumah

RATA DENGAN TANAH: Korlap BPBD Nganjuk Bambang Suparwanto ikut menyisihkan puing-puing di rumah Supaisar saat mengecek kondisi rumah yang ambruk itu kemarin. (Rekian - radarkediri.id)

NGANJUK-Supaisar, 24, harus mengungsi ke rumah kerabat. Pasalnya, rumah pemuda asal Dusun Padasan, Desa Bagorwetan, Sukomoro itu ambruk sekitar pukul 23.00 Sabtu (14/4) lalu. Diduga, rumah Paisar, sapaan akrabnya, ambruk karena rapuh dan tak kuat menahan guyuran air hujan.

          Pemuda yang bekerja sebagai sales makanan itu mengungkapkan, rumahnya berukuran 6x7 meter dan berdinding anyaman bambu itu memang lama tidak ditempati. “Saya takut karena kondisi bangunannya sudah miring,” ujar lulusan salah satu SMK di Jakarta Selatan ini.

          Saat kejadian, Paisar juga sedang tidak berada di rumah. Dia menumpang di rumah keponakannya yang juga di Desa Bagorwetan. “Saya baru tahu kalau rumah roboh setelah diberi tahu tetangga,” lanjut pemuda berambut lurus ini.

Jumiati, 61, tetangga Paisar menambahkan, sebelum rumah pemuda lajang itu ambruk, Dusun Padasan diguyur hujan deras selama beberapa jam. Beberapa saat setelah hujan itulah, dia mendengar benturan keras sebanyak dua kali. “Saya kaget malam-malam ada bunyi keras di belakang rumah,” ungkapnya.

Bersama anaknya, perempuan yang akrab disapa Jum itu langsung keluar rumah. Saat itulah perempuan tua itu mengetahui jika rumah Paisar ambruk. Benturan keras itu tidak hanya membangunkan Jum. Melainkan juga beberapa tetangga lainnya.

          Kemarin pagi rumah Paisar yang sudah rata dengan tanah langsung dibersihkan. Warga setempat bergotong royong menyisihkan puing-puing bangunan. Mulai kayu, genting, dan perlengkapan bangunan rumah diangkut ke tempat yang lebih aman. “Ini rumah peninggalan orang tua. Memang sudah lama. Sejak saya kecil,” urai Paisar.

          Selama ini, rumah itu memang jarang ditempati oleh Paisar. Pekerjaannya sebagai sales membuatnya sering bepergian ke luar kota. Karena rumah tidak bisa lagi ditempati, dia berencana membangun ulang rumah tersebut. “Kalau uangnya sudah terkumpul, nanti akan dibangun secara permanen,” tutur putra tunggal pasangan Sumarti dan Surip ini.      

          Untuk diketahui, kemarin tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk mengecek lokasi rumah yang ambruk. Koordinator Lapangan BPBD Bambang Suparwanto memastikan, ambruknya rumah tersebut disebabkan karena bangunan rumah yang sudah rapuh. “Memang robohnya setelah hujan, tapi kondisi bangunan sebelumnya sudah miring,” bebernya.

Pascamengecek kondisi rumah kemarin, Bambang meminta perangkat desa untuk segera memberikan laporan ke BPBD. “Agar bisa segera ditindaklanjuti,” tegasnya.

Sementara itu, bencana tidak hanya terjadi Sabtu malam lalu. Sekitar pukul 11.00 kemarin, angin kencang menyapu Desa Salamrojo, Kecamatan Berbek. Akibatnya, pohon besar di Jl Raya Sedudo yang berdiameter 20 sentimeter itu ambruk.

 Akibatnya, tiang kabel telepon milik PT Telkom ambruk tertimpa pohon. Kejadian tersebut sempat membuat lalu lintas di jalur besar itu terhambat. Arus baru kembali lancar setelah pohon yang ambruk dipotong dan kayunya diangkut ke tepi. Demikian juga dengan tiang kabel telepon yang ambruk.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia