Minggu, 26 May 2019
radarkediri
icon featured
Features

Melihat Warga Binaan Lapas Nganjuk Membantu Bedah Rumah

Ikut Berbagi Kebahagiaan

16 April 2019, 12: 30: 27 WIB | editor : Adi Nugroho

Bantu

BANTU SESAMA : Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Nganjuk bergotong-royong merenovasi kediaman Tuki Astutik di Kelurahan Warujayeng, Kecamatan Tanjunganom, kemarin. (Rekian - radarkediri.id)

Menjalani masa hukuman bukan berarti tidak bisa berbuat baik terhadap sesama. Warga binaan Lapas Kelas IIB Nganjuk ikut membantu bedah rumah di Kelurahan Warujayeng, Kecamatan Tanjunganom. Itu jadi bekal mereka setelah bebas.

REKIAN

Rumah Tuki Astutik yang terbuat dari  gedhek (anyaman bambu) dibongkar. Kemarin (13/4) mulai pukul 07.30, warga di Lingkungan Bulurejo, Kelurahan Warujayeng, Kecamatan Tanjunganom bersama beberapa komunitas sosial membangun ulang tempat tinggal ibu dua anak itu agar layak untuk ditempati.

Bantu

KURANG LAYAK : Tuki Astutik menyapu lantai tanah rumahnya yang ditinggali sehari-hari bersama sang anak sebelum direhab. (Rekian - radarkediri.id)

Di tengah kerumunan pekerja laki-laki itu, ada rombongan berseragam merah tampak semringah serta kompak ketika mengangkut bata dan adukan semen. Mereka merupakan warga binaan Lembaga Pemasayarakatan (Lapas) Kelas IIB Nganjuk. Berjumlah 13 orang, narapidana itu berusia 30 sampai 50 tahun. “Ayo timbanya lagi,” teriak pekerja itu mempersiapkan adukan semen.

Salah satu narapidana itu bernama Muhadi. Laki-laki 32 tahun asal Lamongan ini mengaku senang bisa ikut membantu orang lain yang sedang kesusahan. Napi yang divonis enam tahun karena kasua anak itu tidak pernah mengira akan mendapat banyak pengalaman dari balik jeruji.

“Bisa membaur dengan masyarkat dan belajar bagaimana menata bata saat membangun rumah adalah ilmu baru,” ucapnya. Pria berambut lurus yang selama ini berkerja di ekspedisi itu percaya apa yang  dikerjakan saat ini akan menjadi bekal saat nanti bisa keluar dari lapas.

Berbeda dengan Muhadi, Purwo Hari, temannya yang divonis hukuman pidana enam tahun penjara karena pengeroyokan punya cerita lain. Laki-laki berambut ikal itu mengaku, kaget dengan perubahan Nganjuk. “Saya masuk 2016. Saat itu, belum ada bangunan apa-apa di sini,” kata pemuda asal Desa Ngepeh, Loceret ini.

Tergabung dalam pasukan merah putih Lapas Nganjuk, membuat Hari sering diajak keluar untuk ikut program binaan. “Sudah banyak sekali yang beda, dari yang dulunya tidak ada bangunan sekarang sudah banyak,” katanya. Menurut Kepala Lapas Nganjuk Diding Alfian mengatakan, kegiatan kerja bakti yang dilakukan pasukan merah putih itu sudah dua kali dilakukan. “Hari ini tadi bawa 13 orang, sepuluh laki-laki dan tiga orang perempuan,” katanya Diding.

Kasus yang menjerat mereka beragam, dari masalah narkoba di bawah lima tahun, laka lantas, hingga tindakan kriminal.

Pria asal Cirebon ini menyebutkan, program kerja bakti bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi napi berbuat kepada sesama. “Berbagi kebahagiaan, selain itu ada pembekalan keahlian,” ucap laki-laki 46  tahun ini.

Kemarin, rumah yang dibedah oleh pasukan merah putih adalah rumah Tuki Astuti. Dalam kondisi miring, rumah yang dihuni dua orang itu tidak layak huni. “Kalau hujan bocor, airnya masuk rumah,” beber perempuan  perempuan 58 tahun ini.

Sebelum dibongkar, rumah berukuran 4x7 meter itu hanya memiliki dua buah lincak untuk dijadikan tempat tidur. Tiap lincak diberi kasur tipis agar tidak terlalu keras. Tidak ada meja ataupun lemari di rumah Tuki. “Kalau baju saya masukkan ke dalam kardus,” ucapnya.

Selama belasan tahun, perempuan yang sudah menjanda belasan tahun ini hanya bisa bersabar menahan dinginnya udara malam menembus dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu itu. “Rumah (dari bambu, Red) saya bangun sendiri setelah suami meninggal,” akunya.

Selama ini, Tuki tinggal bersama anak keduanya di rumah. Setiap hari, Tuki bekerja sebagai buruh cuci. Sementara anak laki-lakinya bekerja di bengkel. Anak pertamanya tinggal di Kecamatan Ngetos dan sudah menikah.

Tuki mengaku, pekerjaannya sebagai buruh cuci itu hanya menghasilkan Rp 15 ribu. Sedangkan anaknya yang laki-laki sebulan hanya bisa mendapatkan uang Rp 400 ribu. Katanya, penghasilan anaknya diberikan kepadanya.

Meski ada uang untuk pemasukan, Tuki mengaku tidak cukup untuk membangun rumahnya  yang sudah hampir roboh itu. “Penghasilan kami cukup untuk makan,” ucapnya.

Tuki sendiri tak pernah mengeluh atas kondisi rumahnya itu. Apalagi saat terjadi hujan lebat, lantai dari tanah selalu tergenang air dan membuat becek lantai rumahnya.

Meski tergolong berpenghasilan minim, Tuki rupanya tidak lagi mendapatkan bantuan dari program keluarga harapan (PKH) dari pemerintah. “Dulu dapat sebentar, setelah itu dihentikan,” katanya. Sampai sekarang, Tuki jarang mendapatkan bantuan dari pemerintah termasuk beras prasejahtera.

Terpisah, Plt Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) M Yasin mengatakan, pemberhentian pemberian PKH biasanya disebabkan karena ada indikator yang tidak memenuhi syarat. “Yang memberhentikan bukan dinsos tapi dari kementerian,” katanya. Dari segi usia, Tuki belum tergolong sebagai lansia. Selain itu, anak-anaknya juga tidak ada yang sekolah.

Adanya pemberhentian karena tim dari PKH terus melakukan pendataan. Dari data yang baru itulah dimungkinkan ada perubahan. Terutama kelayakan warga menerima PKH yang disesuaikan dengan indikator yang ada. “Suatu misal, seorang anak mendapat PKH bila masuk sekolah. Bila tidak meneruskan, maka bantuan PKH untuk anak itu juga dihentikan,” terang Yasin.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia