Jumat, 23 Aug 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Masa (Tak) Tenang

14 April 2019, 18: 23: 19 WIB | editor : Adi Nugroho

Puspitorini Dian

Puspitorini Dian

Share this          

Berita Terkait

Mulai hari ini, kita memasuki masa tenang pemilu. Jelang tiga hari menjelang pesta demokrasi yang akan berlangsung Rabu, 17 April nanti. Tenang? Benarkah? Itu harapan kita. Tenang karena bisa menjadi waktu berpikir para calon pemilih untuk menentukan pilihan yang tepat. Baik itu sang wakil rakyat atau presiden.

Masa tenang memang diagendakan agar hiruk-pikuk proses kampanye yang periode pemilihan ini berlangsung sangat panjang bisa berkurang. Setidaknya, harapannya dengan masa tenang maka akan membuat proses pemilu nanti akan lebih berlangsung damai.

Karena pentingnya makna masa tenang itulah, maka Bawaslu benar-benar menerapkan pengawasan yang ketat. Ketahuan kampanye, maka teguran keras akan diberikan. Bahkan, sanksi diskualifikasi jika nantinya terpilih pun bisa dijatuhkan jika memang terbukti.

Yang menarik, aturan no kampanye ini berlaku untuk segala media. Baik media cetak, elektronik dan tentu saja media sosial. Termasuk kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan promosi diri, pencitraan dan sejenisnya. Inilah yang membuat para peserta pemilu wajib berhati-hati. Salah langkah, pasti akan merugikan diri sendiri.

Tapi, benarkah akan tenang? Inilah yang masih menjadi pertanyaan. Jika saat masa kampanye, para peserta pemilu memang diberikan wadah untuk mempromosikan diri, nah..selama masa tenang inilah, sudah menjadi rahasia umum, gerakan promosi diri itu pun masih saja berlangsung. Meski dalam bentuk yang berbeda.

Seorang teman memberi cerita. Ada seorang caleg yang menahan diri untuk promosi di media saat kampanye. Bukan karena tak punya uang untuk promosi. Bukan, karena dia memang sudah menyiapkan bujet khusus untuk promosi. Tak lain karena saat si peserta pemilu yang masih terhitung baru terjun ke politik ini bertemu rekannya.

Pertemuan itulah yang membuat pemikiran dia tentang promosi diri berganti. Ya, pertemuan itu membuat dia mengalihkan bujetnya untuk kebutuhan mengisi amplop-amplop menjelang coblosan. Diberikan ke masyarakat agar memilihnya. Besarannya antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu per amplop.

Ya, terlepas benar atau tidak, praktik-praktik seperti ini sudah menjadi rahasia umum dan benar-benar terjadi di politik kita. Bahkan, buktinya sudah ada dengan tertangkapnya salah satu caleg di Jawa Tengah bersama 400 ribuan amplop beberapa waktu lalu. 

Akhirnya, dengan masih adanya praktik-prakti seperti ini, masa tenang yang diharapkan untuk meredam panasnya suhu politik tak tercapai, justru masa tenang inilah yang membuat hawa politik kian panas. Masyarakat yang biasa dibuai dengan amplop-amplop bertebaran untuk caleg pun jadi berharap. Tak berangkat jika tak ada amplop. Tak akan mencoblos jika tak ada amplop. Miris? Ya miris. Tapi, semoga ini hanya segelintir orang saja.

Untung saja, tahun ini, pileg bersamaan dengan pilpres yang biasanya memang menarik minat masyarakat datang ke TPS. Setidaknya, ada keinginan untuk memilih pimpinan baru.

Mendekati masa tenang inilah, yang perlu diwaspadai, adalah usaha untuk membuat suasana pemilu dalam kondisi panas. Hoaxs atau berita bohong pun harus benar-benar diwaspadai. Saring sebelum share, memang menjadi saran yang paling tepat. Janganlah cepat menyebarkan kalau belum yakin dengan info itu. Media sosial menjadi media yang perlu diwaspadai karena menjadi media yang paling rentan menyebarkan hoaxs.

Karena itulah, semoga para pemain politik dan yang memanfaatkannya, benar-benar menjadikan masa tenang ini jadi masa penuh ketenangan menuju pemilihan. Biarkan dan bantu masyarakat agar mampu menentukan dengan hati nurani. Memanfaatkan hak suara yang hanya sekali dalam lima tahun dengan sebaik-baiknya. Selamat menyambut pesta demokrasi..selama menikmati masa tenang. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia