Jumat, 23 Aug 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Anang Iskandar, Anak Tukang Cukur, Meretas Jalan Menuju Senayan (4)

Tanpa Beban, Karir dan Keluarga Sudah Mapan

13 April 2019, 13: 04: 14 WIB | editor : Adi Nugroho

anang iskandar

TUNTAS: Anang Iskandar dan Budi Try Yuliarti menimang dua di antara lima cucu mereka.

Share this          

Bukan hanya karir yang sukses. Anang Iskandar juga seorang pembelajar dan kepala keluarga yang sukses. Jalan politiknya didukung penuh istri dan anak-anaknya yang telah mandiri.

-----

Delapan judul buku. Itu bukanlah jumlah yang sedikit. Apalagi untuk sosok sesibuk Anang. Buku pertamanya, Surabaya Kinclong, terbit pada 2007 ketika dia menjabat sebagai kapolwiltabes Surabaya. Pada tahun yang sama pula dia menerbitkan buku keduanya, Outbond Polwiltabes Surabaya Menuju Budaya Baru.

Dua buku itu saja menunjukkan betapa Anang masih sempat berolah pikir lewat membaca dan menulis di tengah kesibukannya. “Menulis memang sudah menjadi hobi saya yang lain,” katanya. “Sebab, kata para ulama, dengan menulis berarti kita telah mengikat ilmu. Agar tidak gampang lepas.”

Dia menulis berdasarkan bahan bacaan maupun pengalaman sehari-hari. Karena sebagai polisi, tentu saja hampir seluruh tulisannya terkait dengan kepolisian. Baik pada aspek penegakan hukumnya maupun manajemen sumberdayanya. “Jadi, ya sebenarnya tidak ada yang berat. Wong tinggal menuliskan saja,” ujarnya, merendah.

Setiap ada ide, Anang Iskandar terbiasa untuk segera menuliskannya. Tidak harus seketika tuntas menjadi tulisan yang lengkap. Melainkan, bisa baru beberapa hari kemudian selesai. Dengan cara itu, hingga pensiun –bahkan sampai kini—Anang masih bisa menghasilkan buku dari tulisan-tulisannya.

Mulai dari Paradigma Baru Pencegahan Narkoba yang terbit pada 2009, Dari Kampung untuk Indonesia (2010), Perjalanan Menuju Indonesia Bebas Narkoba (2010), Polisi Ditantang Keringetan (2012), hingga Jalan Lurus Penanganan Penyalah Guna Narkotika dalam Konstruksi Hukum Positif (2015). Yang terbaru, Konstruksi Hukum Perang Melawan Narkotika (2018).

Anang begitu terampil menulis karena semangat belajarnya memang tak pernah padam. Tak cukup lewat pendidikan dan latihan di internal kepolisian, dia juga merasa perlu membekali diri dengan ilmu di luar itu.

Untuk strata 1 (S1), misalnya, meski sudah lulus dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dengan gelar sarjana ilmu kepolisian (SIK), dia kuliah lagi di Fakultas Hukum Universitas Pancasila ketika banyak bertugas di Jakarta. “Saya lulus sarjana hukum 1994,” katanya.

Ketika berdinas di Surabaya, Anang melanjutkan pendidikannya ke S2 mengambil program magister hukum di Universitas 17 Agustus (Untag). Kuliahnya dilakukan di sela-sela tugasnya sebagai kapolrestabes. Dia lulus pada 2007.

Belum cukup, ketika ditarik lagi ke Jakarta, Anang mengambil program doktor ilmu hukum di Universitas Trisakti. Jenjang S3 ini diselesaikannya pada 2013 dengan disertasi yang cukup ‘menggemparkan’ dunia penegakan hukum narkotika. Anang memberinya judul “Dekriminalisasi Pengguna Narkoba dalam Konstruksi Hukum Positif.”

Di situlah, Anang Iskandar mengenalkan tentang hukuman rehabilitasi untuk para pecandu. Salah seorang pengujinya sampai memberikan komentar khusus tentang hal itu. “Disertasi Saudara menjungkirbalikkan tatanan berpikir para ahli dan penegak hukum yang saat ini sudah mapan,” katanya menirukan komentar tersebut.

Maklum, praktik hukum di Indonesia dari dulu bahkan sampai kini, cenderung memenjarakan semua pelaku penyalahgunaan narkoba. Hukum rehabilitasi adalah wacana baru yang diangkat oleh Anang.

“Dunia sudah mengarah ke sini. Pengedar dan bandarnya diberantas, ditumpas. Pecandunya, penggunanya, direhab karena mereka adalah korban,” lanjut Anang yang atas disertasi itu menjadi doktor ilmu hukum pertama yang mendalami narkotika.

Dekriminalisasi pengguna narkoba itulah yang dia terapkan selama memimpin Badan Narkotika Nasional (BNN). Bahkan, hingga kini, Anang masih aktif untuk mengampanyekan penerapannya. “Termasuk ketika saya mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI dari PPP sekarang. Salah satu tujuannya adalah memperjuangkan hal itu di legislatif agar lebih efektif,” tandas Anang yang juga dosen di Universitas Trisakti ini.

Pentingnya pendidikan ia tanamkan pula kepada keluarganya. Anak pertama hingga ketiga, semuanya dokter. Yang pertama, dr Suryo Gading SpA, menjadi dokter di Denpasar, Bali. Yang kedua, dr Rambo Garudo MARS, kepala RS Kamar Medika di Mojokerto. Yang ketiga, dr Tiara Iradewi membuka praktik sendiri. “Saya bilang kepada yang sulung saat masih SMA, dokter itu profesi yang mandiri. Eh, ternyata diikuti dua adiknya. Semua kuliah di kedokteran,” kata suami Budi Try Yuliarti alias Iik ini.

Anak nomor empat, Rajasa, yang memiliki pilihan berbeda. “Dia baru lulus sarjana hukum tahun kemarin. Kalau yang ragil (Alolita, Red), baru kelas dua SMP,” lanjut Anang. Tidak ada yang menjadi polisi.

Tiga puluh enam tahun sejak 1983 membangun rumah tangga bersama Iik yang asli Batang, Jawa Tengah, Anang menerapkan keterbukaan sekaligus kedisiplinan dalam keluarganya. Dia juga menanamkan dasar-dasar moral yang kokoh kepada anak-anaknya. “Terutama prinsip untuk menjauhi malima. Itu saya tanamkan betul sejak mereka kanak-kanak,” ungkapnya.

Malima adalah lima bentuk kejahatan yang harus dijauhi dalam filsafat Jawa. Yaitu, mendem (mabuk), main (judi), madat (candu, narkoba), maling (mencuri), dan madon (main perempuan). “Biasanya menjelang pubertas mereka saya ajak bicara tentang hal ini,” lanjut Anang yang punya panggilan sayang ‘Bu Anang’ kepada istrinya itu.

Tiga anaknya telah berkeluarga. Mereka sudah menghadiahi Anang dan Iik dengan lima orang cucu yang lucu-lucu. “Mereka hiburan kami jika senggang,” timpal Iik.

Dengan semua kesuksesan itu, karir maupun keluarga, Anang lebih ringan melangkahkan kaki untuk berjuang di jalur politik. Tidak ada beban. Apalagi, semua anggota keluarga mendukung penuh. “Apapun yang terbaik menurut Bapak, kami semua akan mendukungnya,” tandas Iik.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia