Minggu, 22 Sep 2019
radarkediri
icon-featured
Hukum & Kriminal

Lika-liku Azis dan Aris, Duo Terduga Pelaku Pembunuhan Budi Hartanto

13 April 2019, 09: 59: 06 WIB | editor : Adi Nugroho

pembunuhan budi

TKP: Tempat eksekusi pembunuhan Budi Hartanto. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN - Bangunan itu sangat sederhana. Terkesan kurang terawat. Meskipun ada pintu lipat dari besi yang biasa digunakan untuk penutup toko tapi tak difungsikan. Justru yang digunakan untuk warung nasi goreng (nasgor) tepat di timur ruangan pintu lipat itu.

Namun, bangunan di Desa Sambi, Kecamatan Ringinrejo, itu mendadak terkenal kemarin. Sebab, warung nasi goreng milik Aris Sugianto itu yang diduga menjadi lokasi pembunuhan sekaligus mutilasi terhadap Budi Hartanto, warga Kelurahan Tamanan, Mojoroto, Kota Kediri. Yang jadi terduga pelakunya adalah Aris, si pemilik  warung nasgor, dan Azis Baskoro alias Aan (versi polisi berinisial Aj). Aris disebutkan beralamat rumah di Desa Mangunan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar.

Kemarin rumah kontrakan itu sudah bergaris polisi. Menurut warga, polisi sudah banyak berdatangan sejak Kamis (11/4) malam. Namun, garis polisi baru terpasang kemarin pagi.

“Tadi malam (kemarin malam, Red) banyak polisi datang ke sini,” terang Sujirah, 69, warga yang rumahnya persis di timur warung nasgor itu.

Sujirah mengaku tak tahu apa yang dilakukan polisi di tempat itu. Dia hanya melihat beberapa polisi duduk-duduk di teras rumahnya. Baru keesokan paginya dia melihat ada pita kuning melingkar di rumah berpintu cokelat itu.

DITANGKAP: Salah satu terduga pelaku pembunuhan Budi Hartanto.

DITANGKAP: Salah satu terduga pelaku pembunuhan Budi Hartanto.

Keberadaan pita kuning itulah yang sontak menarik perhatian warga. Sekitar lokasi mendadak jadi tempat parkir. Banyak warga berhenti. Tak sekadar melihat-lihat tapi banyak di antara mereka memfoto rumah yang diduga jadi lokasi mengeksekusi guru honorer di SDN Banjarmlati 2 Kota Kediri itu.

Meskipun berdempetan, Sujirah mengaku tak tahu bahwa rumah itu jadi lokasi pembunuhan. Dia pun baru mengenal Aris belum ada satu bulan. Apalagi Aris baru berjualan di rumah yang dikontraknya itu lima hari sebelum kejadian.

Menurut Sujirah, pengontrak rumah itu sering berganti-ganti. “Juhari, anak pemilik rumah ini sedang bekerja di Batam. Sujakir, pemiliknya sudah meninggal,” terang Sujirah.

Sujirah mengatakan rumah tersebut sudah sepuluh hari tidak berpenghuni. Terakhir terlihat pada Rabu (3/4). Semenjak itu si penghuni tidak pernah menampakan batang hidungnya.

Sebelum ditinggal oleh penghuninya, Sujirah sempat melihat aktivitas rumah tersebut terahir  malam Selasa (2/4). Pada malam itu terdengar ada keributan dari dalam warung. Suara tersebut mirip dengan suara orang yang sedang bertengkar. Namun Sujirah tidak berani keluar rumah karena takut.

Aris baru tinggal di rumah Sujakir, 70, itu sebulan ini. Selama itu pemuda kelahiran 1985 itu berjualan nasi goreng. “Kalau jualan nasi goreng tidak mesti. Kadang jual kadang tidak,” terangnya.

Meski berjualan nasi goreng warga tak banyak yang mengenal Aris. Apalagi, selama tinggal di tempat itu ternyata dia tak pernah memberitahukan ke perangkat desa setempat. Bahkan kepada ketua RT setempat dia juga tak melapor. “Saya baru tahu kalau ada orang yang kontrak lagi di rumah itu usai saat maghrib. Diberitahu oleh salah seorang warga,” kata Marsum, ketua RT 2 RW 2 Dusun Sambi, lokasi rumah itu.

Sebelum dikontrak Aris, rumah tersebut dikontrak oleh warga desa sekitar untuk berjualan sate. Namun Marsum tidak tahu kapan ia pindah.

Sementara itu, satu terduga pelaku lainnya ditangkap polisi di rumahnya di Desa Ringinrejo, Kecamatan Ringinrejo. Penangkapan ini diakui oleh Kepala Desa Ringinrejo Ahmad Ali. “Kemarin ada penangkapan di rumah Pak Pri,” aku kades Ali.

Ali menjelaskan penengkapan tersebut terjadi Kamis (11/4) tengah malam. Banyak polisi yang mendatangi rumah Supri, orang tua Azis. Sebelum diamankan, Azis sendiri sempat disebut-sebut oleh pihak kepolisian sebagai salah satu tersangka pembunuhan. Namun tidak ada yang mengetahui apa peran anak bungsu dari empat bersaudara tersebut. “Sehari-hari Azis bekerja sebagai karyawan (salon) Nuansa,” terang Ali. Salon tersebut juga berlokasi di Desa Ringinrejo.

Selama menjadi warganya, tidak ada perilaku yang aneh ditunjukan pemuda tersebut. Sehari-hari Azis dikenal sebagai orang yang ramah dan bergaul dengan warga sekitar. Jika tidak bekerja di salon, Azis sering terlihat nongkrong di warung.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia