Selasa, 19 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Dukun Bayi Akui Beri Jamu Telat Bulan

13 April 2019, 09: 15: 20 WIB | editor : Adi Nugroho

sidang bunuh bayi

BERI KETERANGAN: Sumini saat dalam persidangan. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN – Dukun pijat yang membantu Ika Wahyuningsih aborsi menjalani persidangan, (11/4). Sumini, 75 pun membenarkan kalau memberi jamu agar janin yang dikandung Ika bisa gugur.

 “Jamu apa yang Mbah berikan kepada terdakwa Ika,” tanya hakim ketua Agus Tjahjo Mahendra kepada Sumini di sidang yang berlangsung di ruang Cakra Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri.

Mendapat pertanyaan tersebut, Sumini semula menjawab bahwa jamu yang diberikan kepada Ika merupakan jamu telat bulan. Mendengar jawaban tersebut, sontak membuat hakim keheranan. Karena jamu telat bulan, digunakan sebagai jamu melahirkan. “Masak orang mau melahirkan diberi jamu telat bulan?” tanya hakim anggota Mellina Nawang Wulan.

Sumini pun mengganti jawabannya, dengan mengatakan bahwa jamu yang diberikan kepada Ika merupakan jamu yang ia beli. Sehingga wanita yang mengaku baru satu bulan memijat, hanya tinggal menyeduh jamu.

Untuk mendapatkan keterangan dari Sumini, hakim memerlukan kerja ekstra dengan berkali-kali mengulang pertanyaan. Hal tersebut dikarenakan, Sumini tidak mendengar pertanyaan hakim. Tidak hanya itu saja, keterbatasan bahasa Indonesianya juga menjadi penghambat proses persidangan. “Perut terdakwa diinjak-injak ?” tanya Agus.

Sumini menjelaskan, karena Ika memiliki tubuh lebih besar darinya. Membuatnya mengunakan tumit untuk memijat. Sedangkan perut yang dipijat adalah perut sebelah kanan. Dilakukan pemijatan, dengan tujuan bayi tersebut kembali lurus,  tidak melintang. “Minyak GPU, dioleskan di perut untuk dipijat,” terang Sumini.

Selesai meminta keterangan sang dukun pijat, majelis kembali memeriksa Kamsidi, 31, ayah bayi sebagai saksi. Pria yang baru saja menerima tuntutan jaksa tujuh tahun ini tidak berbelit-belit. Di hadapan majelis hakim, laki-laki yang sehari-hari berjualan pentol mengaku bahwa Ika merupakan selingkuhannya.

Mengetahui Ika dalam keadaan mengandung, sempat membuatnya kaget. Padahal, selama ini Kamsidi mengaku memberi Ika uang untuk membeli pencegah kehamilan berupa kapsul. “Pada saat di rumah Sumini, saya baru tahu kalau Ika dalam keadaan mengandung,” terang Kamsidi.

Setelah mendengar keterangan saksi, hakim mempersilakan Ika untuk menanggapi keterangan yang diberikan oleh saksi. Menanggapi hal tersebut, Ika mengatakan ketika sedang dipijat oleh Sumini. Sumini sempat berpegangan bingkai jendela.

Sidang pada siang itu akhirnya ditunda. Sidang akan kembali dibuka pada Selasa (16/4) dengan agenda keterangan saksi yang memberatkan. Setelah hakim mengetukkan palu, Ika digiring kembali ke ruang sidang sementara PN Kabupaten Kediri.

Untuk diketahui, kejadian tersebut bermula pada tanggal 14 November 2018. Pada saat itu Ika bersama dengan Kamsidi datang ke rumah Sumini untuk menggugurkan bayi yang ia kandung.

Untuk menggugurkan bayi tersebut, Sumini meminta bayaran sebesar Rp 3 juta. Namun saat itu, Kamsidi yang mencari pinjaman, hanya mampu mendapatkan uang sebesar Rp 1,5 juta. Uang itu ia diberikan ke Sumini.

Setelah mendapatkan uang tersebut, Sumini lantaran memberi jamu ke Ika dan juga memijatnya. Namun setelah setengah jam dipijat, rupanya bayi tersebut tidak langsung keluar. Ika dan Kamsidi pulang ke rumah masing-masing.

Rupanya, saat itu Ika tidak pulang ke rumahnya. Namun pulang ke tempat kos yang berada di Jalan Kandangan, Desa Kencong, Kecamatan Kepung.

Di tempat kos tersebut, tanpa dibantu, Ika melahirkan bayi perempuan. Setelah berhasil melahirkan, Ika langsung membunuh bayinya dengan cara menutup saluran pernapasan bayi.

Baru tanggal 15 November 2018, Ika membuang jenazah bayi yang dimasukan ke dalam kresek di area pinggir jalan Dusun Kebonsari, Desa Krenceng, Kecamatan Kepung.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia