Jumat, 23 Aug 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Anang Iskandar, Anak Tukang Cukur, Meretas Jalan Menuju Senayan (3)

Dari Kediri dan Blitar, Bintangnya Bersinar

12 April 2019, 18: 38: 19 WIB | editor : Adi Nugroho

Anang iskandar

DIAKUI: Anang Iskandar meladeni wartawan saat menjabat kepala BNN. (Jpnn)

Share this          

Anang mendapat penugasan pertamanya di Polda Bali yang ketika itu masih bernama Polda Nusa Tenggara. Wilayahnya mencakup Bali, NTB, NTT, dan Timor Timur. Karirnya terus menanjak. 

-----

Pertama kali Anang menjadi perwira Polsek Kota Denpasar. Dia lalu mengikuti pendidikan dasar reserse di Ciputat selama empat bulan. Lulus dari sana, dia dikembalikan ke Polda Nusra sebagai Kapolsek Denpasar Selatan. “Kantornya di Sanur. Saya setahun empat bulan menjabat,” ungkapnya. 

Setelah itu, dia digeser menjadi Kapolsek Kuta. Enam bulan kemudian dipercaya sebagai Komandan Kesatuan Pelaksanaan Pengamanan Pelabuhan (KP3) Bali International Airport Ngurah Rai.

Usai melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dan lulus, Anang banyak bertugas di Polda Metro, Jakarta. Mulai dari kasatserse Polres Tangerang, kapolsek Metro Pancoran, kanit Vice Control Reserse Polda Metro, hingga Kapolsek Taman Sari Polres Jakarta Barat. “Kemudian saya ikut Sespim Polri dan lulus 1997,” jelasnya. Anang lalu ditempatkan di Polda Bengkulu sebagai Sesdit Bimmas dan kembali lagi menjadi Paban Madya Binkar Spers ABRI di Cilangkap, tempatnya bertugas sebelum ikut sespim. 

Tongkat komando pertamanya adalah ketika dilantik sebagai Kapolres Blitar menggantikan Letkol Pol Drs Sulistyo Ischak pada 1999. Saat itulah bintang Anang semakin bersinar. Banyak masalah besar dapat diselesaikannya dengan tuntas. Salah satunya kasus sengketa tanah antara perkebunan dengan warga di Branggah Banaran.

Setahun di Blitar, Anang dimutasi sebagai Kapolres Kediri. Di wilayah ini pun Anang mengukir prestasi tersendiri. Dia menerapkan zero tolerance terhadap praktik perjudian yang ketika itu sedang marak dan meresahkan masyarakat. Judi togel di mana-mana. 

Berkat kepemimpinan Anang, perjudian mampu ditekan serendah-rendahnya. Dia bahkan mendapat penghargaan dari Gerakan Pemuda (GP) Ansor atas hal itu. “Prinsip saya bekerja nothing to lose saja. Itu akan membuat ringan. Tidak punya kepentingan macam-macam,” katanya. 

Setahun kemudian, Anang dimutasi sebagai kepala Sekolah Polisi Negara (SPN) Bangsal, Mojokerto. Lagi-lagi dia membuat gebrakan. “Saat saya masuk, sudah 1,5 tahun tidak ada proses belajar mengajar karena tidak punya murid,” kenangnya. Kompleks gedung sekolah itu pun terkesan kumuh dan tidak terawat. 

Anang menerapkan metode outbond kepada para instruktur di sana. Tiap pagi mereka harus berangkat apel sambil membawa sapu, sabit, cikrak, dan alat-alat kebersihan lainnya. “Saya sendiri yang memimpin,” katanya. 

Lalu, mereka bersama-sama membersihkan kompleks sekolah tersebut. Alhasil, kompleks itu berhasil disulap menjadi bersih dan asri kembali. Semangat juang para instruktur dan pengelolanya juga bangkit. Sekolah itu pun kembali terisi oleh murid.  

Sekitar satu tahun empat bulan, Anang dipromosikan menjadi kepala SPN Lido, Polda Metro Jaya. “Di sana saya bertemu tutor outbond Suherman yang juga senior di Akpol dan dan Ibu Erna. Kami akhirnya menjadi satu tim untuk mengajar outbond di SPN Lido,” tuturnya. 

Di SPN Lido, Anang mengajarkan materi adult learning dan outbond dari negeri asalnya, Inggris. Plus muatan keteladanan berisi keserdahanaan dan kepedulian terhadap lingkungan, capacity building, team building, dan kejujuran. “Kami berhasil membawa mahasiswa PTIK, Taruna Akademi Pemasyarakatan, Satpol PP Pemda DKI, serta beberapa kementerian untuk melaksanakan outbond di Lido,” ungkapnya.

Anang lantas dipercaya memegang tongkat komando sebagai Kapolres Metropolitan Jakarta Timur. Di sana ia mempraktikkan teori keteladanan untuk membangun budaya polisi metropolitan. Untuk meningkatkan kemampuan personel, dia juga lakukan evaluasi rutin dan feedback setiap malam Jumat dalam acara gelar operasional. 

“Saya tunjukan bagaimana membangun tim yang solid melalui kesederhanaan, kepedulian terhadap sesama dan lingkungan, serta jujur dalam melaksanakan tugas. Juga, konsisten dalam menjalankan nilai-nilai kepolisian dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya. 

11 Januari 2006, Anang dilantik menjadi Kapolwiltabes Surabaya. Ia berhasil menyelesaikan tugas khusus yang diembannya. Yaitu memberantas perjudian, narkotika, dan illegal logging. Selain itu, Anang mencuat dengan idenya membangun citra polisi ideal. Meski, untuk merealisasikan hal itu dia mendapat tantangan yang berat. Dari dalam maupun luar. “Bahkan ada pimpinan yang menjuluki saya sebagai polisi yang tidak bisa diatur,” bebernya. 

Dinilai berhasil, dua setengah tahun kemudian Anang naik pangkat. Dari komisaris besar polisi menjadi brigadir jenderal (brigjen). Itulah bintang pertama yang diperolehnya dengan jabatan sebagai kapus cegah lakhar Badan Narkotika Nasional (BNN). 

Yang menarik, sebagai wujud syukurnya, Anang membeli seribu butir onde-onde khas Mojokerto untuk dibagikan kepada masyarakat. “Waktu pertama kali menjadi polisi, saya tidak pernah membayangkan bisa menjadi jenderal,” katanya. 

Bintang satu itu terus disandangnya ketika diangkat sebagai direktur advokasi Deputi Pencegahan BNN dan kemudian dipromosikan sebagai kapolda Jambi pada Oktober 2011. Saat memimpin Polda Jambi inilah Anang menerapkan manajemen SDM yang dia namakan BETAH (Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis). Termasuk, dalam rekrutmen calon peserta pendidikan. 

Hasilnya cukup membanggakan karena yang lolos benar-benar calon yang punya kualifikasi. Tidak ada unsur KKN di dalamnya. “Bayangkan, anak tukang ayam dan anak penjaga kebun bisa lolos tes menjadi polisi,” ungkapnya. 

Dengan manajemen itu pula dia bisa mempraktikkan operasi multisasaran dengan baik. Salah satu yang menonjol adalah mengungkap pengiriman ganja 1,1 ton dalam truk tronton yang melintas di wilayahnya. 

Delapan bulan kemudian, Anang ditarik ke mabes sebagai kadiv humas Polri. Pangkatnya naik lagi menjadi bintang dua alias inspektur jenderal (irjen). Namun, hanya dua bulan menduduki jabatan itu, Anang dipromosikan sebagai gubernur Akpol di Semarang. Itu berarti dia harus kembali mengajar. “Saya sangat menikmati menjadi guru sekaligus kepala sekolah yang menghasilkan perwira calon pemimpin Polri di masa yang akan datang,” tuturnya. 

11 Desember 2012, Anang ditarik lagi ke Jakarta. Dilantik menjadi Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) yang kedua (menggantikan Gories Mere, Red) oleh Kapolri. Pangkat Anang pun naik lagi menjadi komisaris jenderal (komjen) alias bintang tiga. 

Selama menjabat kepala BNN itulah Anang dikenal dengan program rehabilitasinya untuk para pecandu narkoba. Itu tak lepas dari pengamatannya atas fakta bahwa lapas selalu overload dan prevalensi pengguna narkoba tidak pernah menunjukkan kecenderungan penurunan sejak diberlakukan UU Narkotika tahun 1976. 

“Saya melihat persoalan itu disebabkan oleh fakta empiris di mana pengguna narkoba ilegal selalu diposisikan sebagai penjahat yang dihukum dengan hukuman penjara. Setelah saya pelajari dan teliti secara mendalam, saya yakini bahwa situasi ini harus diubah,” tutur Anang yang beberapa kali menjadi pimpinan delegasi Indonesia dalam sidang-sidang di Asia dan Eropa ini. 

Hal itulah yang lantas dia laporkan kepada Presiden RI –yang saat itu dijabat Susilo Bambang Yudhoyono—dalam peringatan Hari Anti-Narkotika Internasional (HANI) di Istana Merdeka pada pertengahan 2013. Ternyata, presiden menyambut baik bahkan mendorong agar masyarakat dapat menempatkan pengguna narkoba sebagai korban. “Mereka (pecandu, Red) sudah kehilangan masa kini dan masa lalunya, jangan sampai kehilangan masa depannya,” tandas Anang.

7 September 2015, Anang kembali ke Mabes Polri. Dia bertukar posisi dengan Komjen Pol Budi sebagai kepala Bareskrim. Jabatan itu disandangnya hingga 31 Mei 2016 sebelum kemudian pensiun dari dinas kepolisian. 

Sepanjang karirnya di kepolisian, bukan hanya penghargaan dari internal Polri yang dia dapat. Akan tetapi juga dari eksternal sebagai pengakuan atas prestasinya. Di antaranya Man of the Year 2007 dari Yayasan Penghargaan Indonesia, Insan Penggerak Pembangunan Indonesia Berprestasi 2007 dan 2008, Borgol Award JTV 2007 dan 2008, Citra Insan Informasi Indonesia, Peraih Mesin Jahit Emas 100 Tahun Singer, Bintang Emas 2014 versi Majalah Eksekutif, dan Tokoh Nasional Bidang Pemerintahan 2015 dari PWI Jatim. 

Anang menutup karirnya di kepolisian setelah berhasil menggapai bintang-bintangnya. 

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia