Minggu, 22 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Politik

DPTb Masuk Mencapai Ratusan Orang

KPUD Masih Merekap Jumlah Pemilih Keluar

12 April 2019, 12: 14: 03 WIB | editor : Adi Nugroho

DPT

Share this          

NGANJUK–Setelah diperpanjang, daftar pemilih tambahan (DPTb) pemilihan umum (pemilu) di Kabupaten Nganjuk bertambah puluhan orang. Ditambah DPTb sebelumnya, dipastikan ada ratusan orang luar daerah yang akan mencoblos di Kota Angin.

          Komisioner Divisi Perencanaan dan Informasi Data KPU Kabupaten Nganjuk Muchiyin mengatakan, setelah ditutup pada Rabu lalu (10/4), pihaknya baru bisa merekap jumlah DPTb masuk. Total jumlahnya sebanyak 948 orang. “Itu jumlah akumulasi dari DPTb sebelumnya,” ujar Muchiyin kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.

          Seperti diketahui, jumlah DPTb tahap II sebanyak 871 orang. Dengan angka tersebut, ada tambahan sebanyak 77 orang yang terdaftar sebagai di DPTb perpanjangan.

          Dari rekap yang dilakukan KPUD, Muchiyin mengungkapkan, mayoritas DPTb yang masuk adalah para pekerja. Di antaranya, pegawai di RSUD Nganjuk dan Kertosono serta beberapa pekerja proyek Bendungan Semantok di Kecamatan Rejoso.”Banyak yang pekerja,” ungkap pria asal Desa Margopatut, Kecamatan Sawahan ini.

          Di luar itu, sebenarnya KPUD juga telah menerbitkan formulir A5 atau pindah pilih untuk warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Nganjuk. Jumlahnya sebanyak 240 orang. “Jumlah itu sudah kami komulatifkan,” terangnya.

          Bagaimana dengan DPTb keluar? Muchiyin mengatakan, pihaknya masih terus merekap jumlahnya hingga tadi malam. Diperkirakan jumlahnya baru bisa diketahui dalam waktu 1-2 hari ke depan. Sebelumnya, jumlah pemilih yang keluar dari TPS asal sebanyak 1.853 orang. “Karena yang keluar tidak hanya di satu kota,” imbuh alumnus IAIN Kediri ini.

          Dari informasi yang diterima, menurut Muchiyin, beberapa warga Nganjuk memutuskan memilih di Surabaya dan Malang. Mereka rata-rata bekerja di kota tersebut. “Ada yang bekerja di bandara dan beberapa tempat lain,” terang Muchiyin.

          Adapun kota lain adalah Kediri. Di kota tetangga tersebut, rata-rata warga Kota Angin menjadi santri di pondok pesantren (ponpes). “Anak pondok yang paling banyak memilih di Kediri,” imbuhnya.

          Untuk daftar pemilih khusus (DPK), Muchiyin mengatakan, potensinya sekitar 1.200 orang. Jumlah itu merujuk dari pemilihan kepala daerah (pilkada) 2018 lalu. Pemilih kategori tersebut baru bisa datang ke tempat pemungutan suara (TPS) pada pukul 12.00-13.00 dengan membawa kartu tanda penduduk elektronik (E-KTP) atau surat keterangan (suket).

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia