Minggu, 26 May 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Anang Iskandar, Anak Tukang Cukur, Meretas Jalan Menuju Senayan (2)

Mau Jadi Lurah, eh Jalan Jenderal Terbentang

11 April 2019, 16: 50: 56 WIB | editor : Adi Nugroho

Anang Iskandar

BINTANG TIGA: Komjen Anang Iskandar waktu bertukar posisi dengan Komjen Budi Waseso sebagai kabareskrim.

Ketiadaan biaya dari orang tua tak menyurutkan langkah Anang Iskandar untuk melanjutkan pendidikan selepas SMA. Tiga bekal keterampilan membuatnya tak ragu untuk melangkah.

“Saya yakin saja. Saja ingin jadi sarjana,” kata Anang Iskandar. Toh, dia sudah bisa punya penghasilan sendiri sejak SMA. Yaitu, dari keahliannya memotong rambut. Ditambah bekal keterampilan fotografi dan melukis, Anang bertambah yakin bisa melanjutkan pendidikannya dengan biaya sendiri.

Selulus SMA pada akhir 1977 (dulu tahun pelajaran dimulai Januari sampai Desember, Red), Anang Iskandar lantas ikut tes masuk perguruan tinggi. Saat itu masih bernama SKALU (Sekretariat Bersama Antar-Lima Universitas) yang kemudian diperluas menjadi SKASU (Sekretariat Bersama Antar-Sepuluh Universitas). Dia mendaftar ke Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Unibraw, kini disingkat UB, Red).

Dari Mojokerto ke Malang, Anang naik oplet bersama teman-temannya. “Dari rumah ke pangkalan oplet di Jembatan Mlirip dibonceng bapak naik sepeda ontel,” kenangnya.

Mengapa fakultas peternakan? “Saya ingin jadi lurah di desa saya,” jawab Anang. Mimpi sederhana anak kampung seperti dia. Meski masuk Kecamatan Kota, Mojokerto, Kedundung –tempat kelahiran Anang—pada masa itu masihlah berupa pedesaan. Sebagian besar wilayahnya masih berupa persawahan. Banyak warganya yang menjadi petani sekaligus beternak.

Ayah Anang, Suyitno Kamari Jaya, selain tukang cukur juga menjadi petani. Meski lahannya tak luas. “Sejak kecil, saya juga sudah terbiasa nggaru (membajak) sawah dengan kerbau,” ungkap pria kelahiran 18 Mei 1958 ini.

Beriringan dengan tes di UB, Anang juga ikut seleksi masuk Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Itu karena ada teman yang mengajaknya untuk mendaftar. “Namanya Ali Suyono,” sebut Anang. Tapi, begitu hari H tes, sang teman justru tidak jadi ikut. Alhasil, Anang sendirian. “Tesnya di Surabaya. Naik oplet juga dari Mojokerto,” lanjutnya.

Keikutsertaan Anang pada seleksi masuk Akabri itu ternyata membuat heboh warga di kampungnya. Bukan karena apa-apa. Tapi, karena dia hanya seorang anak tukang cukur. Yang dianggap mustahil bisa menembus seleksi tersebut. “Yang masuk Akabri itu anaknya jenderal atau anaknya penggede yang banyak uangnya. Anang nggak mungkin bisa…,” katanya menirukan ucapan orang-orang di kampungnya waktu itu.

Ternyata, Anang mampu menjawab keraguan orang-orang tersebut. Dia lulus seleksi masuk Akabri kepolisian (dulu Akpol masih menjadi satu dengan Akabri, Red). Berada di urutan 43 dari 203 peserta yang dinyatakan lulus.

Pengumuman itu mendahului pengumuman seleksi masuk UB. Anang pun mantap melanjutkan pendidikannya di Akabri. Apalagi, di Akabri, dia tidak perlu memikirkan biaya. Sebab, semua sudah ditanggung oleh negara.

Lantas, apakah bekal keterampilan yang sudah disiapkannya sejak sekolah tidak berguna? Justru menjadi lebih berguna. Meski, bukan lagi diorientasikan untuk mencari uang guna membiayai pendidikannya.

Di Akabri, keterampilannya mencukur rambut sangat dibutuhkan. Oleh teman-teman seangkatan maupun para seniornya. Bahkan, karena keterampilannya itu, Anang sering selamat dari pembinaan. “Pada saat demikian, saya biasanya dipanggil senior untuk mencukur,” kenangnya sambil tersenyum.

Empat bulan lamanya, sebagai taruna Akabri, Anang harus ikut latihan olah keprajuritan Candradimuka di kaki Gunung Tidar hingga Bukit Menoreh. Bulan-bulan awal di tahun 1978 itu pun harus dilaluinya dengan latihan keras dan penuh kedisiplinan. Bersama taruna-taruna lainnya, mereka dididik untuk menjadi prajurit yang tangguh. Mampu menaklukkan berbagai tantangan kehidupan, godaan lingkungan, serta hambatan dan rintangan alam.

Sebagai anak tukang cukur yang terbiasa menghadapi kerasnya kehidupan sejak kecil, Anang mampu melewati itu semua dengan baik. “Rasanya waktu itu menyenangkan saja,” katanya. Padahal, bagi banyak taruna, itulah pendidikan yang termasuk paling berat. Seolah pertarungan hidup-mati yang akan menentukan apakah mereka benar-benar layak menjadi prajurit atau tidak.

Bukan sekadar bisa melewati, Anang bahkan mendapat penghargaan sebagai peserta terbaik ketiga dari Gubernur Akabri Umum dan Darat Mayor Jendral TNI Gunawan Wibisono. “Terbaik keduanya Dipo, terbaik pertama Sunaryo. Akhirnya mereka berdua masuk Akabri Udara,” terang Anang.

Itulah benih awal yang dia semaikan pada jalan pengabdiannya di kepolisian. Hari, bulan, dan tahun-tahun berikutnya di Akpol, bakat kepemimpinan Anang semakin terlihat. Misalnya ketika mulai menjadi senior, dia terpilih sebagai Dankie Korps Taruna Batalion Jagratara.

Anang harus mengasuh junior-juniornya di Akpol untuk menjadi polisi yang mempunyai karakter pejuang. Sebab, sebagai penegak hukum, kehidupan polisi penuh dengan godaan rupiah. Selain itu, sebagai taruna Akpol, Anang juga harus mengasuh mereka untuk siap menjadi pemimpin.

“Karena menurut saya tidak semua taruna Akpol menemukan semangat menjadi pemimpin. Bahkan, banyak di antara mereka yang tidak menemukan keyakinan bahwa bekal kehidupannya ada di Akademi Kepolisian,” kata dia.

15 Maret 1982 Anang dilantik menjadi perwira muda dalam upacara militer yang dipimpin Inspektur Upacara Presiden RI Soeharto. Lokasinya di Bumi Moro Krembangan, Surabaya. Suyitno Kamari Jaya dan Raunah, kedua orang tuanya, hadir. Begitu pula saudara-saudaranya.

Tentu, hal itu menjadi kebanggaan bagi mereka semua. Anang yang sempat diragukan bisa lolos seleksi Akabri, hari itu resmi menyandang pangkat letnan dua (letda) polisi (kini ipda, inspektur polisi dua, Red). “Pulang ke rumah, orang tua bikin syukuran. Ya sekadar tumpengan dengan ayam panggang yang meriah ala tradisi keluarga,” kisahnya.

Sejak itulah, jalan yang terbentang untuk Anang bukan lagi sekadar lurah desa seperti cita-citanya. Akan tetapi, justru jalan jenderal di kepolisian.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia