Selasa, 17 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Features

Dolanan Tradisional Ikut Dipentaskan

Ribuan Warga Menyaksikan Pawai Budaya

11 April 2019, 14: 32: 00 WIB | editor : Adi Nugroho

Pentas

KREATIF: Salah satu peserta pawai memamerkan kostum karnival yang mereka rancang. Total ada 18 peserta perwakilan sejumlah daerah yang meramaikan pawai budaya peringatan Hari Jadi Kabupaten Nganjuk, kemarin. (Anwar Bahar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK–Rangkaian peringatan hari jadi ke-1082 Kabupaten Nganjuk masih belum usai. Setelah pawai alegoris Selasa (9/4) lalu, kemarin giliran pawai budaya yang digelar di depan pendapa Pemkab Nganjuk. Ribuan warga Kota Angin pun memadati sepanjang rute untuk menyaksikan agenda tahunan itu.

          Start di depan pendapa sekitar pukul 10.00, sebanyak 18 peserta pawai harus melewati rute yang ditentukan panitia. Mulai Jl Basuki Rahmat, Jl Merdeka, Jl Diponegoro. Kemudian, masuk ke perempatan terminal lama hingga ke Jl Barito dan finish di GOR Bung Karno.

          Dari belasan peserta pawai tersebut, tidak semuanya berasal dari Kabupaten Nganjuk. Lima di antaranya berasal dari perwakilan kota/kabupaten tetangga. Mulai Bojonegoro, Madiun, Ponorogo, Situbondo dan Kota Kediri.  

          Bupati Novi Rahman Hidhayat yang kemarin membuka pawai, mengaku terkesan dengan kreativitas para peserta. Termasuk peserta dari luar Nganjuk. “Ini (pawai, Red) merupakan upaya untuk melestarikan budaya,” ujarnya sembari meminta agar warisan leluhur yang merupakan jati diri tiap daerah itu tak ditinggalkan.

          Karenanya, selepas ritual boyongan, pemkab akan menggelar pawai budaya secara rutin. “Ini juga sebagai bentuk hiburan untuk masyarakat,” tandasnya. 

          Tak hanya memperhatikan seni dan budaya, bupati muda itu juga berharap ke depan Kabupaten Nganjuk semakin maju dan berprestasi. Dalam lima tahun, pemkab sudah merancang sejumlah program pembangunan sesuai dengan visi dan misinya. Yakni, pembangunan infrastruktur, peningkatan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, dan kemandirian ekonomi.

          Dengan tiga sasaran itu, Novi optimistis Kabupaten Nganjuk tidak lagi tertinggal dari kabupaten lain di Jawa Timur (Jatim). “Kita tidak ingin ketinggalan dalam pembangunan,” tegasnya.

          Untuk diketahui, berbagai seni dan budaya dipentaskan dalam pawai kemarin. Misalnya, perwakilan dari Kabupaten Bojonegoro yang mementaskan sendra tari pemberantasan hama berjudul Raja Mala. Kemudian, Kabupaten Ponorogo mementaskan reog.

          Ada pula kreasi kostum karnival hingga tarian dolanan tradisional dari sejumlah sekolah di Nganjuk. Kepala SMAN 3 Nganjuk (Smaga)  Lanang Suprihadi mengatakan, sekolahnya sengaja membawakan tarian dolanan tradisional dalam pawai kemarin.

Tarian tersebut sengaja dibawa untuk mengingatkan masyarakat tentang pentingnya melestarikan permainan zaman dulu itu. “Sekarang dolanan tradisional sudah jarang dimainkan anak-anak,” ujarnya.

          Dia mengungkapkan, ada sekitar 50 siswa yang terlibat di pawai kemarin. Mereka merupakan gabungan dari kelas 10 dan 11. Sejak dini hari, puluhan anak didiknya tersebut sudah bersiap sebelum start sekitar pukul 10.45. “Setiap tahun sekolah kami memang terlibat dalam pawai hari jadi,” pungkas pria asal Bondowoso ini.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia