Minggu, 26 May 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Ekspedisi Kali Serinjing, Telusur Sejarah Terbentuknya Kediri (24)

Ada Kuburan ‘Dursasana’ di Pertemuan Sungai

11 April 2019, 13: 06: 27 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi serinjing

MAKAM MISTERI: Makam di dekat pertemuan Kali Serinjing dan Sungai Panca di Desa Minggiran, Papar. Tak banyak cerita tentang makam tersebut. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Minggiran menjadi desa terakhir yang dialiri Kali Serinjing. Sebelum sungai bersejarah ini bermuara di Sungai Brantas. Ada satu pertemuan yang ditandai makam yang masih jadi misteri.

Sebelum aliran Serinjing bertemu Sungai Brantas, ada dua sungai lain yang bertemu dengan sungai legendaris ini. Dua sungai ini adalah Kali Pancar dan Kali Toyoaning. Namun di peta Belanda, sungai yang berukuran lebih kecil dibanding Serinjing itu bernama Bulurejo. Sungai tersebut digunakan sebagai aktivitas sehari-hari masyarakat. Dengan aliran air yang cukup jernih. Tak ayal saat bertemu dengan aliran Kali Serinjing, tampak jelas perbedaan warnanya.

Jika kali yang berasal dari sejumlah sumber di kawasan Kecamatan Pagu dan Kayenkidul itu berwarna kebiruan, untuk Kali Serinjing warnanya coklat. Membuat pertemuan aliran tersebut tampak jelas tak bisa menyatu hingga puluhan meter. Aliran kedua sungai yang berimpitan itu bisa terlihat jelas. Seolah-olah dua jenis air yang berbeda warna. Dipisah pembatas tak kasat mata.

Pertemuan dua sungai ini terletak di barat pemukiman. Masuk Dusun Rejowinangaun, Desa Minggiran. Tak jauh dari jembatan jalur kereta api (KA). Itu sekitar 400 meter dari Sungai Brantas. Warga sekitar tak banyak yang bisa berkomentar terkait peninggalan sejarah di pertemuan dua sungai ini. Padahal, jika menurut cerita rakyat, biasanya pada pertemuan dua aliran merupakan daerah yang dianggap sakral.

Hal ini dipertegas oleh penggiat budaya Kabupaten Kediri Novi Bahrul Munib. Menurutnya, tidak menutup kemungkinan di daerah itu ada peninggalan bersejarah. “Sebagai tempat penting. Biasanya didirikan Arca Ganesha dengan posisi berdiri,” katanya.

Memang, seperti pada sejumlah sumber sejarah, pertemuan dua sungai biasanya ditandai dengan arca Ganesha. Apalagi Kali Serinjing menjadi sungai penting seperti halnya sungai Brantas. Meski ukurannya tak sebesar Brantas.

Seperti arca yang ditemukan di daerah Karangkates dan sungai-sungai lain. Arca Ganesha Karangkates berada di dekat pertemuan sungai Sengguruh dan Brantas. Hal ini sejalan dengan berbagai temuan mengenai posisi dari arca Ganesha yang terdapat di beberapa daerah lain di Jawa.

Sejumlah literatur menyebut bahwa arca Ganesha banyak ditemui di wilayah Jawa. Dan umumnya berada dekat wilayah perairan. Sebab, selain sebagai dewa pengetahuan, Ganesha dipercaya sebagai dewa penolak bahaya. Sehingga sering ditemukan di dekat air yang pada masa lalu merupakan tempat penyeberangan.

Satu-satunya yang menandai pertemuan dua sungai itu adalah keberadaan makam. Makam itulah yang diduga merupakan sesepuh desa setempat. Ada delapan makam di tempat tersebut. Namun yang paling tua adalah Eyang Dursasana. Seperti yang ada di papan pada makam tersebut. Lokasinya hanya 50 meter dari pertemuan dua sungai bersejarah itu.

Sementara sungai lain yang dikenal sebagai Kali Toyoaning letaknya ada di perbatasan Desa Pehkulon dan Desa Pehwetan. Keduanya juga masih masuk Kecamatan Papar. Untuk Kali Toyoaning ini sebelumnya melewati Desa Adan-Adan, Gurah. Juga menjadi salah satu aliran sungai penting. Sebab di Desa Adan-adan. Ada satu arung yang ada di sungai ini. Arung tersebut diduga sebagai akses aliran ke petirtaan kuno yang lokasinya tak jauh dari situs Candi Adan-adan.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia