Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Bupati Novi Pimpin Ritual Boyongan

Ajak Masyarakat Membangun Nganjuk

10 April 2019, 14: 50: 22 WIB | editor : Adi Nugroho

pawai alegoris

DEKAT DENGAN RAKYAT: Salah seorang penonton nekat mendekati Bupati Novi Rahman Hidhayat dan meminta salaman saat dia turun dari kereta menuju pendapa Pemkab Nganjuk, kemarin. (Anwar Bahar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK–Ritual boyongan menandai rangkaian hari jadi ke-1082 Kabupaten Nganjuk, kemarin. Kirab dua pusaka, Tombak Kiai Jurang dan Payung Kiai Tunggul itu dipadati ribuan warga di sepanjang rute. Mulai dari Alun-Alun Berbek sampai Pendapa Pemkab Nganjuk.

          Berbeda dengan dengan dua tahun terakhir, ritual boyongan tahun ini dipimpin langsung Bupati Novi Rahman Hidhayat. Sedangkan 2017 dan 2018, arak-arakan hanya dipimpin sekretariat daerah (sekda) dan pelaksana tugas (Plt) bupati.

          Dimulai sekitar pukul 09.00, pawai pusaka diberangkatkan dari Alun-Alun Berbek. Di sana, Bupati Novi menerima serah terima pusaka yang akan dipindahkan ke Pendapa Pemkab Nganjuk. Ritual tersebut merupakan simbol perpindahan pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk pada tahun 1880.

          Menaiki kereta kuda, Novi yang didampingi Yuni Rahma Hidhayat, sang istri, berada di barisan depan pawai. Setelah itu disusul rombongan Wakil Bupati (Wabup) Marhaen Djumadi, forum komunikasi pimpinan daerah (forkompimda), kepala organisasi perangkat daerah (OPD) dan beberapa pejabat teras lainnya.

          Di sepanjang jalan, ribuan warga sudah memadati rute kirab. Tidak hanya orang dewasa, pelajar juga antusias menyaksikan iring-iringan yang menempuh jarak sekitar 10 kilometer (km) itu. Beberapa kali Novi dan pejabat melambaikan tangan kepada masyarakat ketika melintas di kerumuman penonton.

          Sekitar 30 menit, rombongan iring-iringan tiba di Alun-Alun Nganjuk. Sebelum masuk ke pendapa, Novi disambut tarian Maeswara Swatantra Anjuk Ladang. Ada pula arak-arakan gunungan berupa hasil panen sayuran dan buah-buahan. Setelah itu, ritual penyerahan dua pusaka dilakukan sebagai tanda pemerintahan sudah resmi berpindah ke Kota Nganjuk.

          Menginjak usia ke-1082, Bupati Novi mengajak masyarakat bersama-sama ikut berperan membangun Kabupaten Nganjuk. Dengan kebersamaan itu, pihaknya berharap Kabupaten Nganjuk menjadi lebih maju dan bermartabat. “Semua nyawiji untuk kemajuan Kabupaten Nganjuk,” pinta bupati 39 tahun ini.

          Selain membangun Nganjuk bersama, bupati juga berpesan agar masyarakat mau melestarikan budaya asli Nganjuk. Melihat antusias warga di sepanjang jalan, Novi meyakini warga sangat mencintai dan menghormati warisan lelulur mereka. “Tadi saya lihat masyarakat sangat bergembira. Kita jaga bersama-sama warisan budaya ini,” ajaknya.

          Untuk diketahui, selain menyaksikan kirab, masyarakat juga ikut berebut hasil panen dan jajanan berbentuk gunungan yang diarak. Begitu gunungan diturunkan, mereka langsung berebut dan membawa hasilnya pulang. “Supaya bisa dimasak di rumah,” ujar Misri, warga Desa Kutorejo, Bagor.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia