Minggu, 26 May 2019
radarkediri
icon featured
Features

Bryant Faustin Andreas, Balita Penderita Jantung Bocor asal Bagor

Boleh Dioperasi saat Berusia Lima Tahun

09 April 2019, 10: 27: 13 WIB | editor : Adi Nugroho

Boks

CEPAT SEMBUH YA : Anik Winarsih mendampingi Bryant Faustin Andreas, sang putra yang sedang tidur siang di rumahnya di Desa Sekarputih, Kecamatan Bagor kemarin. (Rekian - radarkediri.id)

Di usia yang masih belia, Bryant harus menghadapi ujian berat. Sejak berusia tiga bulan, balita asal Desa Sekarputih, Kecamatan Bagor itu didiagnosa menderita jantung bocor. Anik Winarsih, sang ibu, terus berupaya agar anaknya diberi kesembuhan.

REKIAN

Bryant Faustin Andreas tidur pulas di kursi busa yang sudah bolong-bolong. Mengenakan celana pendek dan kaus oblong, balita berusia empat tahun itu terbaring dalam posisi miring. Kemarin, sekitar pukul 14.00, di tengah guyuran hujan, bocah yang tinggal di Desa Sekarputih, Kecamatan Bagor itu tampak menikmati tidur siangnya.

Rembesan air hujan yang menembus genting rumahnya rupanya tak menganggu tidur siangnya. Bryant tetap nyaman dengan tiupan sepoi-sepoi kipas angin yang ada di ruang tengah rumahnya. Televisi tabung berukuran 14 inci sengaja dimatikan. Apalagi siang kemarin, hujan deras menetes hingga membasahi lantai semen rumahnya.

Sang ibu, Anik Winarsih, mengatakan, anak keduanya itu baru saja tidur. Karena itulah, dia tidak mudah terbangun. “Kalau malam tidurnya di kamar,” tutur perempuan 35 tahun ini. Bila dilihat sepintas, anak kedua dari pasangan Anik dan Kasianto, 37, ini seperti balita berusia dua tahun.

Kaki dan tangannya terlihat lebih kecil dari anak seusianya. Begitu juga tubuhnya. Bocah yang kini sudah menginjak usia empat tahun itu belum bisa berjalan. Untuk beraktivitas, dia masih harus merangkak. “Tidak bisa jauh, tiga meter saja sudah ngos-ngosan,” aku Anik. Dia menyebut anak keduanya itu belum cukup kuat menahan keseimbangan badannya bila diminta berdiri.

Meski kerap mengeluh panas dan gerah, suhu badannya normal. Selain badannya terlihat lebih mungil dari anak-anak seusianya, ciri-ciri yang menunjukkan dia sakit terlihat dari ujung jari kaki dan tangan serta bagian mulut dan mata. Semuanya bagian tubuh itu berwarna biru kehitaman. “Sejak dinyatakan jantung bocor kondisinya seperti ini,” kata ibu dua anak ini.

Saat ini, jantungnya yang bocor semakin membesar. Dari awalnya berdiameter seujung jarum, kini sudah berukuran 1,8 sentimeter (cm). “Itu hasil periksa Desember 2018 lalu,” bebernya.

Untuk menghindari agar bocornya tidak semakin membesar, perempuan yang setiap hari menjadi penjual tahu goreng di Pasar Wage Nganjuk itu berupaya menjaga anaknya agar tidak menangis dengan keras. Semakin keras detak jantungnya, makin berisiko bagi kesehatannya. “Biar tidak nangis kalau di rumah, saya terpaksa ajak dia ikut ke pasar,” ucap Anik.

Agar bisa sampai ke lokasi, Bryant dan ibunya harus menggunakan sepeda motor. Bocah empat tahun itu tidak boleh kedinginan. Karena itu, setiap pergi ke pasar, Bryant harus memakai jaket dan kaos kaki. Rencananya, Senin (15/4) nanti, dia akan membawa anaknya ke RSUD dr Soetomo Surabaya untuk melakukan periksa rutin. “Saya sebulan sekali ke Surabaya, ngobatin Bryant,” ungkap Anik.

Sebelum dirujuk ke rumah sakit milik pemprov itu, Bryant awalnya sempat dibawa ke RSUD Nganjuk. Saat itu, usianya masih tiga bulan. Gejala awal yang dialami adalah badan panas, pilek dan batuk. “Saya kira sakit biasa,” kata Anik.

Ketika datang ke sana, dokter menyarankan agar membawa Bryant ke dokter anak spesialis jantung. Awal-awal ke Surabaya, Anik terpaksa menjual motor Yamaha Vega R. Saat itu, motor hanya laku Rp 2 juta. Meski biaya pengobatan ditanggung pemerintah, tapi biaya hidup di Kota Pahlawan itu harus bayar sendiri. Mulai dari sewa kos hingga biaya makan.

Sudah hampir empat tahun berobat ke Surabaya, Bryant belum sembuh. Meski demikian, ayahnya yang bekerja sebagai buruh di pabrik tahu, tidak pernah menyerah untuk mengobati sang putra. Dari hasil kerja seadanya, mereka bersikukuh membawa Bryant ke Surabaya. Selain pengobatan secara medis, anak bungsunya itu juga dibawa ke alternatif. Salah satunya ikut terapi di Malang.

Anik menambahkan, buah hatinya itu bisa dioperasi ketika usianya menginjak lima tahun. “Kalu sudah besar, jantungnya juga besar,” kata Anik mengenai pertimbangan dokter tersebut. Untungnya, Bryant tidak sulit makan. Untuk menghindari pantangan, dia mengonsumsi bubur ayam dan roti khusus makanan bayi. “Tidak boleh makan bersantan dan berminyak,” ucap Anik.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia