Minggu, 22 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Peralihan Musim, Tujuh Kecamatan Rawan Banjir

BMKG Prediksi Terjadi Hujan Lebat

09 April 2019, 09: 57: 02 WIB | editor : Adi Nugroho

Angin

WASPADA BANJIR: Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk mengecek kondisi salah satu rumah yang diterjang puting beliung di Kecamatan Tanjunganom, Jumat (5/4). (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK- Hujan lebat diperkirakan akan terjadi hingga tiga hari ke depan. Dalam rilisnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisikia (BMKG) merilis tujuh kecamatan di Kota Angin berpotensi terjadi banjir. Lokasinya berada di Kecamatan Gondang, Loceret, Rejoso, Sawahan, Tanjunganom, Wilangan dan Ngetos.

Kepala  Stasiun Geofisika BMKG Sawahan M Chudori mengatakan, potensi banjir tersebut disebabkan intensitas hujan lebat dalam kurun waktu cukup lama. “Meskipun potensi banjir hanya kriteria rendah,” katanya.

Hujan dengan intensitas tinggi itu tidak hanya terjadi di Nganjuk, tapi juga di daerah lain. Dia memaparkan bahwa distribusi curah hujan yang terjadi di Nganjuk ini diperkirakan kriteria tinggi dari 151 sampai 300 milimeter (mm). “Dari peta perkiraan cuaca hanya tujuh kecamatan yang rawan banjir,” bebernya.

Meski sifat banjir yang terjadi di Kota Angin sementara, dia meminta tetap harus diwaspadai. Pasalnya tidak hanya hujan dengan intensitas tinggi, peralihan musim ini bisa juga mengakibatkan terjadinya angin kencang disertai hujan lebat. “Untuk waspada terjadinya bencana, setiap waktu kami berkoordinasi dengan BPBD (Bdan Penanggulangan Bencana Daerah),” kata Chudori.

Apalagi melihat dari kejadian sebelumnya, dari tujuh lokasi yang dirilis BMKG itu sejak awal tahun 2019 ini sudah pernah terkena banjir. Menurut Plt Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Agus Sulitiyono banjir yang terjadi selama ini akibat limpahan air dari hulu ke hilir yang dibawa aliran sungai  atau irigasi.  

Sepeti banjir yang terjadi di Loceret dan Tanjunganom, dia menyebutkan, dua kecamatan itu dilewati Sungai Bodor yang hulunya berada di wilayah Gunung Wilis. Bulam Maret lalu, air menggenang dan masuk ke perkampungan karena tanggul sungai Bodor ada yang jebol.

“Di lokasi banjir hujannya tidak terlalu deras, tapi di hulunya wilayah pegunungan Wilis terjadi hujan lebat dalam waktu lama,” kata Agus. Air kiriman dari atas itulah yang membuat beberapa Kecamatan terkena dampak banjir. Kondisi seperti itu terjadi kecamatan lainnya. Sebab, menurut Agus, wilayah Nganjuk banyak aliran sungainya, termasuk Sungai Widas dan aliran anak Sungai Semantok.

Sebab itu, sampai kini BPBD masih mengaktifkan poskonya di beberapa titik yang dianggap rawan bencana. Tidak hanya banjir, yang patut diwaspadai adalah terpaan angin kencang. Terjadi sewaktu-waktu dan lokasinya berbeda-beda. Seperti yang terjadi pada Jumat (6/4) lalu, angin puting beliung merusak belasan bangunan rumah yang ada di Desa Plosoharjo, Kecamatan Pace dan Desa Kedungombo, Kecamatan Tajunganom.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia