Kamis, 24 Oct 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Ekspedisi Kali Serinjing, Telusur Sejarah Terbentuknya Kediri (20)

Satu Loji Masih Berdiri di Bekas PG Tegowangi

07 April 2019, 12: 29: 36 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi kali serinjing pabrik

MASIH GAGAH: Rumah bergaya kolonial yang masih berdiri di kawasan bekas lokasi pabrik gula Tegowangi, Pare. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Pabrik Gula Tegowangi menjadi salah satu unit produksi Handles Vereniging Amsterdam (HVA). Satu perusahaan terkemuka di era Hindia Belanda. Kini bukti adanya pabrik gula di bantaran Kali Serinjing tersebut hampir tak tersisa.

Tanah yang subur membuat kawasan lereng Kelud mudah ditanami berbagai jenis tumbuhan. Menjadikan kawasan ini sebagai lahan bisnis perkebunan di era Kolonial Belanda. Tebu merupakan komoditas terbesar kala itu. Tak ayal apabila di Kabupaten Kediri ini dahulu banyak berdiri pabrik gula (PG) sebagai unit produksi perusahaan perkebunan milik Belanda itu.

Salah satu perusahaan pengolah hasil tebu terbesar di Kabupaten Kediri adalah PG Tegowangi. Tepat berada di bantaran Kali Serinjing. Sekarang masuk Desa Bendo, Kecamatan Pare. Belum banyak yang tahu kenapa pabrik gula ini dinamakan Tegowangi, padahal nama Tegowangi sendiri merupakan nama sebuah desa yang ada di utara Bendo. Lokasinya beberapa kilometer dari sana.

Jika PG lain mungkin masih meninggalkan bekas fondasi dan bukti lainnya. Namun tidak untuk PG yang terletak di Jalan Soekarno-Hatta Pare ini. Sebab bangunan utama pabrik sudah diubah total menjadi perusahaan rokok Karyadibya Mahardika. Bekas anak perusahaan Gudang Garam yang telah diakuisisi oleh Japan Tobacco Inc.

Untung saja masih ada satu bangunan bekas tempat tinggal yang diperkirakan milik salah satu sinder. Bangunan itu ada di timur pabrik. Terlihat masih belum ada perombakan. Sementara rumah dinas lain di sekitarnya sudah dijadikan bangunan sarang walet. Pintu dan jendelanya dihilangkan.

Sebenarnya dari peta yang dikeluarkan Belanda tahun 1914, ada enam rumah di sebelah timur. Atau tepatnya di depan pabrik gula. Serta belasan bangunan yang menyebar mengelilingi bangunan utama pabrik gula. Termasuk Stasiun Bendo yang saat itu milik Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM) Sektor Pare - Kediri.

Satu rumah yang tersisa itu saat ini milik salah satu warga Desa Bendo. Masih ditempati. Hanya saja menurut kabar terbaru dalam waktu dekat rumah itu akan dijual. Untuk bangunan lain yang ada di bagian barat, dulu sekitar tahun 2000-an masih ada beberapa yang tersisa. Namun saat ini kawasan tersebut telah rata dengan tanah. Tak ada satu fondasi pun yang berbekas.

Yang menarik dari PG Tegowangi ini adalah letaknya yang ada tepat di bantaran Kali Serinjing. Menurut cerita masyarakat, ada yang mengatakan bahwa sebagian limbah perusahaan dibuang ke sungai tersebut. Namun tidak adanya bekas pipa atau  bangunan saluran pembuangan belum bisa membuktikan hal tersebut.

Hanya saja, di sekeliling perumahan ada saluran air. Itu merupakan saluran drainase, pembuang genangan di sekitar perumahan, dan menuju ke daerah utara yang memang menjadi aliran Kali Serinjing.

Merujuk pada foto PG Tegowangi, diambil dari KITLV-sebuah situs penyedia foto lama era kolonial-tepat di belakang PG tampak kolam penampungan. Laiknya sebuah bendungan. Namun jika dilihat pada peta Belanda memang aliran Serinjing yang sedikit berbelok itu menjadi seperti bendungan yang luas. Tepat di arah timur laut pabrik. Tentu saja ini merupakan salah satu bukti yang belum terpecahkan. Penelitian lebih jauh akan adanya bendungan di sekitar PG tersebut juga harus ditelaah lagi.

Dari sejumlah catatan, PG Tegowangi didirikan pada 1889. Sudah lebih dari 50 tahun perusahaan tersebut beroperasi. Namun ketika ada agresi militer era penjajahan Jepang, pabrik tersebut dirusak dan dibakar hingga tak berbekas.

Yang jelas, dengan keberadaan PG Tegowangi yang tepat di aliran Kali Serinjing ini, menjadi salah satu Khasanah kejayaan kawasan aliran Serinjing. Mulai zaman kerajaan, kolonial, hingga sekarang.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia