Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Rizki Burstiando, Melatih untuk Wujudkan Mimpi Masa Kecil

Dulu Tak Tahu Bisa Jadi Prestasi

07 April 2019, 12: 22: 51 WIB | editor : Adi Nugroho

Rizki Burstiando

LOMPAT TINGGI: Rizki Burstiando bersama Tristan, atlet binaannya, saat berlatih di kawasan GOR Jayabaya Kediri Senin (1/4). (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

 Mengenal olahraga sepatu roda sejak usia belia. Sayang, masih sebatas hobi belaka. Belum mampu memberikan prestasi seperti impiannya sejak kecil. Kini, pelampiasannya adalah dengan mencetak atlet potensial di cabang olahraga ini.

“Ayo! Cepat! Cepat! Tambah lagi!” teriak Riski Burstiando. Di jalanan kawasan GOR Jayabaya Kota Kediri itu Rizki Burstiando meneriaki anak didiknya. Agar berlatih maksimal di lintasan aspal.

Dan….wushhh…! Satu per satu anak didiknya melesat. Lalu menikung dengan tajam. Lintasan dari aspal pun tandas dilibas. Mereka terus melaju hingga beberapa putaran.

Minggu Inspiratif Jawa Pos Radar Kediri

Minggu Inspiratif Jawa Pos Radar Kediri

Pria yang kerap disapa Ando itu berulang kali melihat stopwatch di tangan kanannya. Mengukur waktu yang dicatatkan anak didik setiap putarannya. Jika waktu yang didapatkan sesuai dengan harapan, senyum simpulnya terlihat. Sebaliknya, jika seharusnya bisa lebih cepat lagi, Ando akan meneriaki. Memberikan semangat.

Teriakan-teriakan koreksi dan penyemangat hampir tidak pernah berhenti meluncur dari mulutnya. Setiap teriakannya pun menjadi dengan lecutan semangat dari anak didiknya.

Ando memang menerapkan tradisi yang berbeda kepada anak didiknya. Baginya, olahraga sepatu roda bisa dijadikan lebih dari sekadar hobi belaka. Lebih dari itu, ia ingin anak didiknya bisa meraih prestasi dari olahraga tersebut.

“Dulu waktu kecil saya tidak tahu kalau olahraga ini bisa dijadikan prestasi. Saya tidak ingin anak-anak ini merasakan apa yang saya rasakan. Saya ingin mereka berprestasi dan menjadi atlet hebat,” ungkap pria yang belum lama ini melepas masa lajangnya ini kepada Minggu Inspiratif Jawa Pos Radar Kediri.

Besar di era 90-an, tren sepatu roda memang mulai merambah Indonesia. Tidak hanya di kota-kota besar saja, olahraga tersebut pun telah masuk di daerah-daerah. Ando sendiri mengaku kenal olahraga tersebut pada saat mengenyam bangku sekolah dasar di Desa/Kecamatan Gurah.

Suatu ketika teman-teman sebayanya banyak yang bermain sepatu roda. Ia pun tertarik dan akhirnya meminta untuk dibelikan juga. Nasib mujur dikandung, Ando kecil pun mendapatkan sepatu roda pertamanya.

“Hari pertama dibelikan itu saya langsung memainkannya dari pagi hingga siang,” celetuk pria yang juga dosen Penjaskesrek di UNP Kediri tersebut diikuti tawa lepas.

Tidak ada yang mengajari. Tidak banyak informasi yang bisa didapatkan bocah umur 7 tahun pada saat itu. Hanya ada satu jalan, mencoba sendiri. Dan itulah yang dilakukan oleh Ando. Belajar sepatu roda secara otodidak.

Kegemarannya dengan olahraga tersebut bertahan hingga ia akan memasuki masa SMP. Namun tak lama kecintaannya mulai pudar. Pasalnya ada stigma bahwa sepatau roda hanyalah permainan anak kecil. Ia pun akhirnya beralih haluan ke skateboard dan longboard.

Reuninya kembali lagi setelah belasan tahun berselang. Tepatnya pada 2015/16. Ando diminta untuk melatih seorang anak dari rekan sekaligus dosennya dahulu. Tawaran tersebut seperti menjadi tiket untuk kembali ke masa lalu. Membenahi apa yang masih bisa dibenahi. Tentu bukan  baginya, tetapi bagi anak-anak binaannya.

Awalnya hanya melatih seorang anak saja. Lama-kelamaan satu-dua anak lain ikut bergabung. Akhirnya ia memutuskan untuk membuat klub sepatu roda. Alasannya remeh sejatinya. Untuk memudahkan saat ikut turnamen. Namun berawal dari hal yang terkesan sepele itulah yang menjadi pintu masuk Ando untuk meretas potensi bibit muda.

Ando pun kemudian dipercaya menjadi pelatih Persatuan Olahraga Sepatu Roda Indonesia (Porserosi) Kota Kediri. Kejuaran pertama yang diikutinya adalah Kejurprov di Tuban pada 2018. “Kalau lihat kontingen dari Surabaya dan Sidoarjo itu rasanya sudah siap perang semua. Sedangkan kami masih seadanya,” kenang pria yang menamatkan S2 pada 2015 tersebut.

Meskipun sempat minder, kontingen yang dibawanya berhasil mendapatkan podium. Dua medali perak disabet oleh dua anak didiknya. Prestasi itulah yang menjadi tonggak pelecut semangat bagi kontingennya.

Hingga akhirnya pada kejurprov  tahun ini di Tulungagung, Ando berhasil mengantarkan anak didiknya mendapatkan medali lebih banyak lagi. Tiga emas, satu perak, dan satu perunggu.

“Di satu sisi rasanya sangat puas dan bangga. Tetapi di sisi lain saya juga merasa sedih. Kalau saja dulu saya ada kesempatan untuk mendapatkan wadah seperti mereka, saya yakin saya juga akan dapat podium,” ungkapnya kepada Minggu Inspiratif Jawa Pos Radar Kediri

Namun Ando berbesar hati. Ia sadar garis Tuhan sudah ditetapkan sedemikian rupa. Takdirnya memang bukan untuk menjadi atlet sepatu roda. Tetapi mengantarkan bibit-bibit muda menjadi juara. Mimpi Ando kecil, dititipkan bersama senyum anak didiknya yang merekah saat merengkuh medali.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia