Minggu, 26 May 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Pedagang Mengeluh Omzet Turun, Pengelolaan Pasar Mojo Dievaluasi

07 April 2019, 11: 47: 05 WIB | editor : Adi Nugroho

pasar mojo

MENUNGGU PEMBELI: Sutrisno (kanan) dan istrinya berada di kiosnya di Pasar Mojo kemarin. Mereka merasakan penurunan pendapatan dalam beberapa bulan terakhir. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

 KEDIRI KABUPATEN - Beberapa pedagang di pasar Mojo mengeluhkan menurunnya omzet yang mereka dapatkan. Terutama bagi pedagang hasil bumi dan bumbu masakan yang lokasi berdagangnya di los utara.

Penurunan tersebut dinilai cukup drastis jika dibandingkan omzet yang didapatkan kala pasar Mojo belum renovasi. Penurunan justru terasa setelah adanya renovasi di pasar tersebut.

“Dulu (sebelum renovasi) lebih ramai pembeli. Omzet yang didapatkan juga lebih banyak,” aku Sutrisno, salah seorang pedagang hasil bumi dan bumbu masakan kepada Jawa Pos Radar Kediri saat ditemui di lapaknya.

Pria asal Desa Banjaranyar, Kras, tersebut mengaku telah berjualan di pasar tersebut selama puluhan tahun. Sehingga ia tahu betul dengan dinamika yang dirasakan.

Hal yang sama dikatakan Srinatun, 52, warga Desa Jugo, Mojo. Ia juga mengaku merasakan penurunan omzet yang tajam. “Dulu cabai sehari 20 kilogram bisa tembus (habis, Red), sekarang paling cuma sekilo saja,” ungkapnya.

Dia menilai kondisi pasar sewaktu masih beralas tanah justru ramai pembeli. Sedangkan kondisi yang lebih bagus sekarang tidak sejurus dengan pendapatan yang dikantongi. Ia menambahkan bahwa setelah renovasi pasar memang sempat ramai pembeli. Namun hanya bertahan beberapa bulan saja.

Pelaksana tugas (plt) Kepala Dinas Industri dan Perdagangan (Disdag) Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih pun tidak menyanggah fenomena tersebut. Ia pun mengaku telah beberapa kali turun langsung untuk mengetahui kondisi pedagang. Pada kunjungannya itulah ia mendapati keluhan serupa dari para pedagang.

“Memang ada efeknya yang dirasakan pedagang setelah renovasi Pasar Mojo tersebut. Memang masih perlu proses pembiasaan dari pedagang dan pembelinya juga,” ujar Tutik kepada koran ini saat dihubungi melalui sambungan telepon kemarin.

Menurutnya, penurunan pendapatan pedagang tersebut salah satunya juga karena perbedaan pola berjualan di sana. Yaitu pada saat sebelum dan sesudah renovasi Pasar Mojo.

Pada saat sebelum renovasi pedagang ramai-ramai ingin berjualan di depan, dengan harapan agar lebih mudah dijangkau oleh pembeli. Cara itu pun nampaknya jitu untuk menarik pembeli. Sehingga mereka mendapatkan pendapatan yang lumayan kala itu. Hanya saja dengan model berjualan tersebut kondisi pasar menjadi semrawut dan kurang tertata baik.

Sementara itu, setelah adanya renovasi kondisi pasar menjadi lebih tertata. Namun pendapatan yang didapatkan justru mengalami penurunan.

Tutik menegaskan disdag akan terus melakukan evaluasi guna mencari formula terbaik. Yaitu untuk mengembalikan atau bahkan meningkatkan pendapatan pedagang. Namun tetap mengedepankan aspek penataan, estetika, dan kenyaman dari pembeli.

“Kami akan evaluasi terus secara rutin. Harapan kami tidak akan lama lagi bisa kembali lagi (omzet pedagang),” pungkasnya.

Untuk diketahui, Pasar Mojo diresmikan oleh Bupati Haryanti Sutrisno pada 19 Desember 2017 silam. Pasar ini menempati tanah seluas 66.000 m2 dan terdiri dari dua los besar berukuran 13,5 m x 65 m.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia