Kamis, 24 Oct 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Ekspedisi Kali Serinjing, Telusur Sejarah Terbentuknya Kediri (18)

Cekdamnya Menjamin Sawah Selalu Terairi

05 April 2019, 19: 04: 17 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi serinjing

GANDA: Cekdam Pehlandak, salah satu bendungan yang ada di aliran Kali Serinjing. Selain untuk irigasi, cekdam juga untuk penahan banjir lahar. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Kali Serinjing menjadi sarana irigasi penting sejak dulu hingga sekarang. Banyak cekdam terbangun di sepanjang alirannya. Fungsinya, menahan tidak longsor, pengatur debit air, hingga pembagi aliran ke jaringan irigasi sekunder.

Sungai yang membelah Kabupaten Kediri ini bisa dibilang istimewa. Ribuan hektare areal persawahan pun mengambil air dari sungai ini. Meski hanya melewati 13 desa di 6 kecamatan, aliran sekundernya menyebar ke berbagai desa lain di sekitarnya. Termasuk ketika musim kemarau tiba, tak ada kata kekeringan bagi daerah di sekitar aliran sungai bersejarah ini.

Berbeda dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Konto yang merupakan sungai corah dari Gunung Kelud. Meski ukuran sungai tersebut lebih besar dari Serinjing, namun di berbagai daerah yang dialirinya masih saja kesulitan air. Sebab untuk pengaturan cek dam di DAS tersebut belum se-maksimal yang ada di Kali Serinjing.

Seperti di Desa Dungus, Kunjang misalnya. Daerah tersebut menjadi salah satu desa yang dilewati Kali Konto. Namun saat musim kemarau, petani padi harus menggunakan sumur bor untuk mengairi sawah mereka.

Setidaknya dari data yang diperoleh pada situs resmi Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, di sepanjang aliran Serinjing ada 14 cekdam. Rata-rata dibangun saat orde baru. Dari cekdam tersebut dipecah ke sejumlah aliran sekunder. Beberapa di antaranya merupakan aliran kali corah yang secara alami terbentuk dari aktivitas vulkanik Gunung Kelud. Salah satunya adalah pelimpah Keling yang ada di Dam Pehlandak, Desa Krenceng, Kepung. Selain membagi air di sana juga sebagai pengatur debit air aliran Serinjing.

Pengaturan debit ini dinilai efektif untuk mencegah sejumlah bencana yang mengancam kawasan aliran sungai ini. Menurut penggiat budaya Kabupaten Kediri Novi Bahrul Munib, jika Gunung Kelud meletus, imbas dari lahar hujan itu sangat luar biasa. Bahkan beberapa tahun yang lalu debit Serinjing sempat naik hingga meluap di kawasan Kecamatan Pare.

“Karena banyaknya sungai corah dari Gunung Kelud sehingga air hujan banyak yang masuk Kali Serinjing,” katanya.

Seperti yang terjadi beberapa tahun silam, termasuk pasca-letusan Gunung Kelud 2007. Kawasan perkotaan Pare sempat terendam banjir. Bahkan di daerah Dam Sumberbiru, Desa Gedangsewu, banjir bandang dari aliran Kali Serinjing menerjang kawasan tersebut.

Untuk itu keberadaan cekdam di sepanjang aliran Kali Serinjing ini sangat penting. Yaitu untuk menahan arus air besar yang sewaktu-waktu mengancam. Selain  sebagai pemecah untuk aliran irigasi.

Bahkan, ke depan, sejumlah kantung pasir untuk menanggulangi permasalahan yang diakibatkan penggerusan dasar sungai di daerah BBWS Brantas bagian Tengah dan Brantas Hilir akan dibangun. Salah satunya di Kali Serinjing yang masuk BBWS Brantas Tengah. Selama ini Kali Serinjing ini masuk kategori tingkat Bahaya B dari segi sedimentasi. Sedangkan untuk mengatasi permasalahan sedimen hasil letusan Gunung Kelud telah diusulkan pembangunan beberapa sabo dam, sand pocket dan consolidation dam pada beberapa sungai berdasarkan tingkat bahaya akibat letusan termasuk Kali Serinjing ini.

Keberadaan cekdam yang sebagian besar dibangun pada 1980-an itu sangat penting. Selain menjadi sarana pembagi aliran Kali Serinjing ke berbagai desa di kawasan timur dan utara Kabupaten Kediri juga menjadi penahan arus. Yang bisa membahayakan di berbagai daerah. Terutama daerah bantaran Kali Serinjing dengan kepadatan penduduk yang tinggi.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia