Senin, 14 Oct 2019
radarkediri
icon-featured
Hukum & Kriminal

Budi Hartanto, Mayat Tanpa Kepala yang Ditemukan dalam Koper

Tulang Punggung Keluarga Yang Multitalenta

05 April 2019, 18: 09: 35 WIB | editor : Adi Nugroho

mayat tanpa kepala udanawu

MASIH BERDUKA: Hamidah (paling kanan berjilbab merah) tak kuasa menahan tangis saat menerima kunjungan rekan-rekan guru Budi Hartanto, di rumahnya kemarin. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

Semasa hidupnya Budi Hartanto terkenal ramah dan humoris. Memiliki banyak bakat. Lulusan PGSD ini juga merupakan tulang punggung ekonomi keluarga.

HABIBAH A. MUKTIARA

Cuaca siang kemarin (4/4) begitu cerah. Sinar matahari tercurah melimpah dari langit. Awan pun tak terlalu banyak menghiasi angkasa.

Sayangnya, kecerahan itu tak tergambar di rumah Darmaji di Jalan Tamansari, Kelurahan Tamanan, Mojoroto, Kota Kediri. Sebaliknya, ayah dari Budi Hartanto itu tak banyak berkata-kata. Raut wajah bapak tiga anak itu menyiratkan kesedihan yang menyelimuti hatinya. Matanya masih terlihat memerah. Terutama ketika menyalami tamu yang datang untuk melayat.

Di teras hingga dalam rumah itu masih tergelar karpet yang diduduki para pelayat. Ramainya pelayat yang datang, tidak membuat Hamidah, istri Darmaji, terhibur. Sebaliknya, air mata nyaris selalu tertumpah. Wanita itu tak mampu menahan air matanya. Terlihat sekali dia masih meratapi kepergian Budi, anaknya, yang meninggal dengan cara tidak wajar pada Rabu (3/4).

RAMAH: Budi Hartanto semasa hidup.

RAMAH: Budi Hartanto semasa hidup.

“Anak saya itu orangnya memang pendiam. Namun sangat ramah dengan siapapun,” ucap Darmaji dengan suara sedikit serak sembari terduduk di sofa yang berpindah tempat ke depan rumah.

Lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai penjual susu segar keliling ini tak bisa menutupi rasa terpukulnya atas kematian anak sulungnya itu. Apalagi secara mendadak dan tragis seperti itu.

Walaupun masih muda, berumur 28 tahun, Budi adalah anak yang sangat bertanggung jawab. Di usia muda itu Budi merupakan tulang punggung keluarganya. Penghasilannya sebagai guru honorer di salah satu sekolah dasar (SD) di Kota Kediri ditambalnya dengan berbagai usaha. Mulai dari pelatih tari hingga membuka kedai kopi. Dari hasil pekerjaannya itulah dia bisa membantu kedua orang tuanya membiayai sekolah kedua adiknya.

Di bidang seni tari, nama Budi relatif sudah dikenal. Tak hanya di Kediri, juga sampai Nganjuk dan beberapa daerah lain. Lelaki yang semasa hidupnya dikenal taat beribadah ini sering diminta mengajar seni tari. Entah modern dance maupun tradisional. Beberapa sekolah di Nganjuk juga memintanya menjadi pengajar dance bagi para siswanya.

Budi juga memilik sanggar tari. Namanya CK Dance. Tempatnya di kompleks ruko GOR Jayabaya. Persis di sebelah kedai kopi yang juga milik almarhum.

“Malamnya (sebelum kejadian) sekitar pukul delapan malam, saya sempat melihat Budi berada di sanggarnya,” ungkap Darmaji.

Kini, setelah anaknya menjadi korban pembunuhan sadis, Darmaji hanya bisa sedikit berharap. Yaitu agar kepolisian segera menangkap pelaku. Kemudian menghukum sesuai hukum yang berlaku.

Kepergian Budi, tidak hanya meninggalkan luka yang dalam bagi keluarga. Juga kedukaan bagi orang-orang yang selama ini mengenalnya. Seperti Endang Pujiastutik, kepala SDN Banjarmlati 2 Kota Kediri. Selama ini Budi bertugas sebagai tenaga administrasi. Tepatnya sebagai operator data pokok pendidikan (dapodik). Di mata Endang, Budi adalah sosok yang ramah pada semua orang. Juga mudah sekali akrab. Termasuk dengan siswa.

“Di sekolah, Budi dengan murid-muridnya sudah seperti kakak-beradik,” jelas Endang menggambarkan keakraban itu.

Sehari sebelum ditemukan dalam keadaan meninggal, Budi sempat andil dalam kegiatan Isra Mikraj di sekolahnya. Sempat diminta sang kepala sekolah untuk menjadi juri salah satu lomba, Budi menolak. Dia lebih memilih menjadi pembawa acara.

Siang setelah usai jam sekolah Budi bahkan sempat berjalan-jalan ke Kediri Mall. Bersama dengan teman-temannya. “Pada saat itu terakhir lihat waktu jalan-jalan,” kenang Nanik, yang juga rekannya sebagai operator dapodik.

Nanik mengaku akrab dengan Budi. Beberapa kali Budi bahkan sempat menumpahkan curahan hati (curhat)-nya kepada Nanik. Sering bercerita tentang kegiatan di sanggar tarinya itu. Termasuk ketika dia membuat koreografi untuk murid tarinya.

Tak hanya soal tari, Budi sering pula curhat masalah pribadi kepada Nanik. “Pernah dia cerita suka pada cewek. Namun karena (hanya) sebagai pegawai honorer membuatnya merasa minder,” kenang Nanik.

Kini, tak ada lagi sosok Budi di antara rekan-rekannya. Tiada lagi seseorang yang dikenal humoris dan memiliki banyak bakat. Kenangan di antara mereka adalah seorang lulusan pendidikan guru sekolah dasar (PGSD) yang ringan tangan dalam membantu kegiatan sekolah. Mulai mengajari siswa cara ber-fashion show, tari, hingga ber-make up.  

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia