Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Hukum & Kriminal

Korban Mutilasi di Blitar: Mayatnya Dikubur di Kediri Tanpa Kepala

Kedai Kopi Korban Porak-poranda

04 April 2019, 19: 52: 40 WIB | editor : Adi Nugroho

pembunuhan udanawu

GEGERKAN BLITAR: Koper yang berisi mayat saat berada di RSUD Mardi Waluyo. (MOCHAMMAD SUBCHAN for radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KOTA – Rumah keluarga Budi Hartanto, 28, di Jalan Tamansari, Kelurahan Tamanan, Mojoroto, tadi malam tak sepi dari tamu. Baik kerabat maupun para tetangga silih berganti berdatangan. Mereka menunjukkan rasa simpati terhadap musibah yang menimpa lelaki yang juga guru honorer di SDN Banjarmlati 2 Kota Kediri.

Ya, Budi Hartanto yang diduga kuat sebagai sosok mayat tanpa kepala yang ditemukan dalam koper di Kali Termas Lama, Desa Karanggondang, Udanawu, Kabupaten Blitar.  “Saya tadi berada di luar daerah. Tiba-tiba dapat kabar keponakan saya sudah tidak ada (meninggal, Red),” ucap Nasukan Sogleng, paman dari Budi.

Menurut Nasukan Sogleng, telepon dari Polres Blitar datang sekitar pukul 12.00 WIB. Yang menerima telepon Hamidah, ibu sang korban. Sontak, sang ibu langsung jatuh pingsan. Apalagi informasi yang dia terima anak pertamanya itu meninggal dalam keadaan mengenaskan. Tubuhnya dalam keadaan telanjang dan dimasukkan dalam koper. Hingga tadi malam, Hamidah belum bisa ditemui karena kondisinya masih shock.

Lelaki yang akrab disapa Sogleng ini mengatakan, keponakannya itu terakhir terlihat pada Selasa (2/4). Sekitar pukul 18.30 WIB. Saat itu dia berpamitan ke kedua orang tuanya, Darmaji dan Hamidah, akan pergi ke GNI. Budi pergi dengan mengendarai motor.

“Terakhir Budi keluar bersama Roni, sepupunya,” terang Sogleng. Roni sendiri, menurut Sogleng, kemarin sudah dipanggil oleh polisi dari Polres Blitar. Dimintai keterangan terkait posisi terakhir korban. Karena Roni yang diketahui pergi bersama korban untuk terakhir kalinya, dia merupakan saksi kunci kasus ini.

KORBAN: Budi Hartanto, semasa hidup.

KORBAN: Budi Hartanto, semasa hidup.

Saat pergi Budi diketahui membawa tas laptop. Menariknya, di tas itu tak hanya berisi laptop saja. Tapi juga ada uang tunai. Hanya, berapa nilai uang yang dibawa korban sampai kemarin belum diperoleh kepastian.

Selama ini, oleh keluarganya, Budi dikenal sebagai sosok yang ramah. Memiliki tanggung jawab tinggi dengan membiayai kebutuhan sekolah adik-adiknya. Budi juga memiliki bisnis sampingan berupa kedai kopi. “Biasanya kalau sore buka kedai kopi di (area) GOR (Jayabaya),” imbuh Sogleng.

Ada beberapa fakta menarik dalam kasus ini. Sebelum dinyatakan menghilang pada Selasa itu, gawai Budi sempat aktif hingga pukul 22.50. Namun, setelah itu Budi seperti menghilang ditelan bumi. Di grup-grup WA yang dia ikuti nomor itu sudah tidak aktif lagi.

Fakta lain yang menarik adalah kondisi kedai kopi milik korban yang ada di area GOR Jayabaya. Menurut paman korban, kondisi kedai kopi yang juga ada arena bermain bilyar itu porak-poranda. Sayangnya, Sogleng tak bersedia menjelaskan lebih lanjut seperti apa kondisi porak-poranda itu.

Sementara itu, tadi malam sekitar pukul 23.00 WIB, mayat Budi Hartanto dibawa ke rumah duka. Walaupun kondisi mayat masih tanpa kepala, penguburan rencananya langsung dilakukan tadi malam. Penguburan itu dilakukan di pemakaman setempat.

Penemuan mayat tanpa kepala itu terjadi sekitar pukul 08.00. Tepatnya di pinggir Kali Termas Lama, di sisi timur jembatan yang ada di Jalan Raya Kediri – Blitar. Penemunya adalah Imam, warga di sekitar jembatan. Polisi yang datang langsung memasang police line di tempat kejadian perkara (TKP).

Mayat tersebut berada di koper hitam. Saat ditemukan kondisi tubuh tanpa busana alias telanjang. Dan, mayat itu diketahui tanpa kepala. Hal itulah yang menguatkan mayat tersebut merupakan korban mutilasi.

"Saat itu dia (Imam, Red) yang menemukan dan melapor ke kami. Ketika dicek tidak terlihat, posisinya melungker. Kepalanya tidak kelihatan. Apa dipotong atau tidak saya tidak tahu," jelas Kepala Desa Karanggondang Edi Sucipto kepada awak media, kemarin.

Edi mengatakan, kondisi koper ketika kali pertama ditemukan terbuka sedikit. Jadi warga yang menemukan bisa melihat isi dalam koper tersebut. "Setelah warga mengecek dan memastikan ini mayat, warga langsung melapor ke kami," terang pria yang rambutnya sudah beruban ini.

Imam, jelas dia, menemukan mayat dalam koper saat sedang mencari rumput di pinggir Kali Termas Lama di bawah Jembatan Jalan Raya Blitar-Kediri tersebut. Memang kebetulan lokasi penemuan mayat itu lahan milik saksi. "Pak Imam ini memang sedang bersih-bersih lahannya dari pohon bambu. Mau ditanami tanaman kolonjono," kata pria ramah ini.

Usai olah TKP di lokasi, polisi langsung membawanya ke RSUD Mardi Waluyo untuk diotopsi. Otopsi dilakukan oleh tim dokter dari RS Bhayangkara Kediri. Proses otopsi tersebut berlangsung sampai pukul pukul 17.00  WIB. "Mayat mulai diotopsi sekitar pukul 15.00," kata petugas kebersihan kamar mayat RSUD Mardi Waluyo, Sasongko Buntaran, kemarin.

Sasongko mengaku sempat ikut mengangkut koper hitam berisi mayat itu ke kamar jenazah sebelum diotopsi. Saat dibuka, dia sempat melihat mayat tersebut dalam posisi melungker. "Tubuhnya kurus kecil. Kulitnya putih. Ada luka juga di siku tangan kanannya," terangnya. Usianya sekitar 20 tahunan.

Saat itu, dia mengetahui bahwa kondisi tubuh masih utuh. Namun, kepalanya tidak ada. "Kalau untuk kondisi kepalanya saya tidak melihat langsung. Tapi informasinya itu tidak ada kepalanya. Soalnya ketika mayat akan dimasukkan ke freezer, saya sedang menerima telepon," terang pria ramah ini.

Sementara itu, terkait dugaan mayat tanpa kepala dalam koper tersebut, Kasatreskrim Polres Blitar Kota AKP Heri Sugiono belum bisa berkomentar lebih jauh. Sebab, saat itu dia tidak melihat kondisi mayat dalam koper hitam itu. "Saya tidak melihat karena langsung saya bawa ke rumah sakit,” terangnya.

Apakah hilangnya kepala mayat tersebut diduga karena dipenggal, belum ada keterangan resmi dari kepolisian. Pun dengan hasil otopsi mayat laki-laki tersebut, juga belum diumumkan kepolisian. “Besok (hari ini, Red) saja ya. Rencananya bapak kapolres langsung yang menyampaikan rilis hasil otopsi. Maaf, soalnya saya masih fokus di TKP,” janji Heri melalui grup awak media sekitar pukul 18.00.

Kronologi Cari Rumput Temukan Mayat

1.     Sekitar pukul 08.00 Imam mencari rumput di sekitar lokasi kejadian.

2.     Saksi curiga dengan benda warna hitam yang diketahui ternyata koper.

3.     Setelah dicek, ada kaki menyembul dari dalam koper.

4.     Saksi memberitahu ke warga yang lain. Kemudian meneruskan ke perangkat desa setempat.

5.     Polisi datang untuk evakuasi. Mayat kemudian dibawa ke RSUD Mardi Waluyo untuk diotopsi.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia