Kamis, 24 Oct 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Ekspedisi Kali Serinjing, Telusur Sejarah Terbentuknya Kediri (16)

Sumber Corah, Arung Kuno yang Masih Berfungsi

03 April 2019, 18: 25: 09 WIB | editor : Adi Nugroho

terowongan air serinjing

TEROWONGAN AIR: Choirul Anam (kanan) menunjukkan sisi dalam arung Sumber Corah. Arung ini sampai sekarang masih difungsikan untuk suplai air PDAM. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Sumber besar lain di dekat Kali Serinjing adalah Sumber Corah. Dipercaya sebagai arung kuno dan hingga kini tetap difungsikan. Menjadi penyuplai air minum dan kolam pemandian.

Meskipun terletak di tengah kota, Sumber Corah masih mengeluarkan air yang cukup besar. Menjadi sarana berbagai macam aktivitas. Seperti penyuplai Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Pare dan wisata pemandian Canda Bhirawa. Tak hanya itu, sisa airnya juga dialirkan ke areal persawahan. Untuk keperluan irigasi di wilayah Kecamatan Pare.

Sangat mudah untuk menjumpai sumber ini. Berada di Jalan Letjen Sutoyo, Pare. Tepatnya 1,5 kilometer dari pusat kota. Terletak di utara jalan. Penandanya adalah pohon beringin besar yang ada di tepi jalan penghubung Kecamatan Pare dengan Kecamatan Kandangan tersebut. Tak lebih 300 meter di utara Kali Serinjing.

Suasana di areal sumber terasa asri. Berbagai macam vegetasi tumbuh. Ukuran pohonnya pun masih besar-besar. Tak ayal jika dahulu kawasan ini sempat berjaya di masanya. Sebagai wisata keluarga favorit bagi masyarakat Pare dan sekitarnya. “Awalnya pernah dinamakan sumber kere. Terus dibangun tahun 1975 menjadi daerah wisata,” kata Sumardi penjaga Wisata Canda Bhirawa saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri.

Sumber kere yang dimaksud lantaran dahulu di kawasan tersebut digunakan sebagai markas atau tempat tinggal para gelandangan. Bahkan daerah sumber sebelum menjadi kawasan wisata juga sebagai tempat pembuangan sampah dari Pasar Pare. Hal ini tak lain karena daerah tersebut dahulu merupakan lembah yang tidak terurus. “Dulu untuk membuat wisata tanah kawasan ini harus diurug dahulu. Karena daerah cekungan,” jelasnya.

Titik sumber air ada di lembah dengan kedalaman kurang lebih 10 meter. Terdapat tandon air dengan pipa besi sebagai penyuplai air ke PDAM Pare. Selain itu, ada sebuah terowongan besar yang sudah dicor. Tinggi mulut terowongan 1 meter dengan lebar 1,5 meter. Namun di bagian dalam ketinggiannya bertambah. Sekitar 2,5 meter dengan lebar 2 meter. Semakin ke dalam semakin sempit. Digunakan sebagai sarang kelelawar.

Jika melihat bagian dalam terowongan, karakternya mirip dengan Terowongan Surowono dan terowongan lain yang diduga sebagai arung kuno atau terowongan air bawah tanah. Karakter arung masih tampak pada bangunan yang dibuat sekitar 1970-an itu.

“Terowongan ini panjang. Ada yang bilang tembus Kali Serinjing,” kata Choirul Anam, warga Desa Gedangsewu, Pare.

Dari keterangannya di tebing Kali Serinjing dekat dari Sumber Corah itu ada lubang di sisi utara ada juga di sisi selatan. Sisi utara menyambung ke Sumber Corah. Namun lubang tersebut ukurannya semakin sempit. Letaknya juga lebih di atas aliran Serinjing. Hal ini lantaran debit air saat ini sangat berbeda dengan zaman dahulu yang belum terpecah di cekdam. Menariknya, di sini dahulu dikenal sebagai tempat persembunyian saat perang kemerdekaan. Di dalamnya ada sejumlah cabang terowongan.

Sumber air di lokasi tersebut tak hanya satu. Sebab, untuk sumber ke PDAM langsung menampung dari sumber alami yang berasal dari bawah tanah. Sementara air yang mengalir dari arung itu ditampung di kolam penampungan besar yang sebagian untuk keperluan kolam pemandian.

Keberadaan Sumber Corah ini juga menjadi salah satu bukti kuat aktivitas zaman dahulu di sekitar aliran Kali Serinjing. Tepatnya di Kecamatan Pare. Yang jelas, sumber air tersebut selain untuk keperluan sehari-hari juga digunakan sebagai sarana irigasi persawahan di kawasan utara sungai bersejarah itu.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia