Kamis, 24 Oct 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Ekspedisi Kali Serinjing,Telusur Sejarah Terbentuknya Kediri (14)

Serinjing, Airmu Tak Sejernih Dahulu

01 April 2019, 16: 34: 51 WIB | editor : Adi Nugroho

sungai serinjing

AGAR BERSIH: Aktivis peduli Kali Serinjing melakukan kegiatan bersih-bersih sungai. Sampah mulai menjadi penghambat aliran air sungai bersejarah ini. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Permasalahan sampah menjadi salah satu fenomena nyata di aliran Kali Serinjing saat ini. Terutama di kawasan perkotaan. Bisa menyebabkan penyakit hingga terjadinya banjir.

Sungai Serinjing menjadi sumber kehidupan hingga dulu. Mengairi ribuan hektare persawahan di sepanjang desa yang dilaluinya. Menjadi sarana aktivitas dalam keseharian warga.

Berbagai macam aktivitas dilakukan di sungai bersejarah ini. Mulai mencuci pakaian, mandi, juga sebagai arena bermain anak-anak di pedesaan.

Dikenal sebagai salah satu sungai terbesar dan terpanjang di Kabupaten Kediri menjadikan Serinjing sebagai sungai penting bagi warga. Mengalir di belasan desa dari 6 kecamatan di bagian utara kabupaten ini.

Terlepas dari semua itu, ternyata ada satu masalah yang cukup serius terjadi di sungai ini. Serinjing tak lagi seperti dulu. Tak sejernih dulu. Aktivitas warga di sungai juga semakin berkurang.

Semua itu tak lepas dari keberadaan sampah yang kini sangat mudah dijumpai di aliran sungai yang berhulu di Desa Siman, Kecamatan Kepung ini. Terutama di kawasan perkotaan seperti Kecamatan Pare. Sejumlah titik tumpukan sampah ada di sana. Menyebabkan pencemaran lingkungan di aliran Kali Serinjing bagian tengah tersebut.

Pendangkalan di sejumlah titik juga mudah dijumpai. Hal ini mengakibatkan kawasan Pare sempat tergenang beberapa tahun silam. Akibat meluapnya aliran Serinjing di daerah Sumberbiru, Desa Gedangsewu, Pare. Terlebih saat daerah atas atau lereng Gunung Kelud diguyur hujan deras. Maka sudah pasti aliran Serinjing akan menampung air yang berasal dari sungai-sungai corah yang berasal dari Gunung Kelud itu.

Hal ini tak lepas dari salah satu fungsi Kali Serinjing yang juga digunakan sebagai mitigasi bencana penampungan aliran air dari Gunung Kelud. Untuk itu, jika di sejumlah titik banyak tumpukan sampah karena aktivitas masyarakat yang membuang sampahnya sembarangan. Maka pendangkalan sungai sangat mudah terjadi. Dan itu berdampak pada terjadinya bencana banjir. Terutama di kawasan perkotaan seperti Kecamatan Pare yang juga dibelah oleh Kali Serinjing ini.

Kekhawatiran akan banyaknya sampah di aliran Serinjing ini pun menjadi perhatian sejumlah kelompok masyarakat. Akhir-akhir ini relawan peduli lingkungan mulai tergerak. Meski belum bisa maksimal, itu sangat membantu dalam mengurangi volume sampah yang ada di kali bersejarah ini.

Arif Fauzi misalnya. Salah satu aktivis lingkungan asal Desa Bendo, Pare ini mengaku prihatin dengan kondisi Kali Serinjing. Bahkan beberapa tahun ini dia dan rekan-rekan di sana aktif membersihkan Kali Serinjing. Utamanya kawasan aliran di daerah Pare.

"Dulu saya pernah survei ada 27 titik (tumpukan sampah). Tetapi sekarang ada 13 titik," katanya.

Arif menilai kesadaran masyarakat untuk tidak lagi membuang sampah di sungai masih sangat kurang. Apalagi untuk memperlakukan sampah tersebut. "Akhirnya secara otomatis mereka membuang sampah sembarangan. Tidak peduli meski telah dipasang imbauan larangan membuang sampah di bantaran sungai," sebutnya.

Beberapa waktu lalu Komunitas Peduli Sampah Sungai Serinjing dan sejumlah lapisan masyarakat membersihkan tumpukkan sampah yang ada di bantaran Serinjing. Tumpukan sampah yang nyaris membendung aliran sungai dihanyutkan. Kemudian ditangkap oleh warga yang ada di aliran bagian bawah menggunakan jaring. Sampah itu kemudian diangkat ke daratan dan dibawa ke TPA Sekoto.

“Alhamdulillah semua lintas sektor sudah mulai bergerak dan termotivasi untuk merawat sungai. Khususnya Serinjing,” ujar Arif Fauzi, aktivis lingkungan peduli sampah sungai Kabupaten Kediri.

Dia berharap, semua warga yang wilayahnya dilewati sungai bisa mulai sadar. Serta ada pergerakan sosial untuk mulai merawat sungai. Terutama di kawasan perkotaan. Ketua Komunitas Tubing Serinjing ini telah menyusuri Sungai Serinjing mulai dari hulu hingga hilir. Paling banyak penumpukan sampah mulai dari Desa Tertek, Pare hingga Desa Jambu, Kayenkidul. Di sana selalu ada tumpukkan sampah yang nyaris longsor ke Sungai Serinjing.

Menurutnya dampak sampah yang tidak terkendali adalah suatu cerminan bahwa tidak adanya peran serta masyarakat, pemerintah, dan pihak terkait dalam menangani sampah. Kali Serinjing merupakan aliran penting yang membelah Kabupaten Kediri. Menjaga dan merawatnya bersama merupakan kewajiban warga. Banyak berkah yang sudah diberikan dari kali tersebut. Menjadikan Kediri zaman dulu sebagai kawasan makmur. Menyediakan kebutuhan petani  lebih dari 1.000 tahun. Untuk itu sangat disayangkan apabila kali yang mempunyai nilai luar biasa ini penuh sampah yang membuatnya tidak lagi eksotis seperti dulu kala.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia