Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Hujan Lebat hingga Minggu Pertama April

Waspadai Longsor di Lereng Wilis

01 April 2019, 12: 16: 43 WIB | editor : Adi Nugroho

Cuaca

TIDAK MERATA: Hujan deras mengguyur sebagian wilayah Nganjuk kemarin sore. Hujan dengan intensitas tinggi masih akan selama peralihan musim April ini. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK-Awal April ini, warga yang tinggal di kawasan rawan bencana di Nganjuk masih harus waspada. Pasalnya, peralihan musim hujan ke musim kemarau diprediksi akan menyebabkan hujan lebat merata di wilayah Kota Angin. Kondisi tersebut rentan menimbulkan sejumlah bencana.

          Kepala Stasiun Geofisika, Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika Sawahan M. Chudori menegaskan, potensi hujan lebat masih akan terjadi hingga beberapa hari ke depan. Hujan di peralihan musim ini bisa menyebabkan terjadinya gangguan sirkulasi angin dan awan di daerah lokal. “Hujan lebat juga karena belokan angin yang menyebabkan awan konsentrasinya di sekitar Jawa Timur,” terang Chudori kepada koran ini.

          Karenanya, hujan lebat yang sporadis ini akan membahayakan lokasi rawan bencana. Sebab, memungkinkan terjadinya bencana seperti tanah longsor, banjir, dan angin kencang. “Karena kondisi cuaca kerap mengalami gangguan sirkulasi, patut diwaspadai untuk lokasi kawasan rawan bencana khususnya longsor,” imbaunya.

          Terpisah, Plt Kabid Kedaruratan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk Agus Sulistiyono menambahkan, lokasi rawan longsor itu berada di kawasan utara Nganjuk. Tepatnya, di sekitar Gunung Wilis. Mulai Kecamatan Ngetos, Sawahan, dan Berbek.

Apalagi, sebelumnya BPBD sudah mendapati banyak retakan tanah di Desa Margopatut, Sawahan. Kemudian di Desa Kepel, Ngetos dan tebing tepi jalan di Desa Salamrojo, Berbek.

          Retakan tanah di Desa Salamrojo, Berbek, lanjut Agus, ada di perbatasan Ngetos dengan jalan menuju Sawahan. Dari hasil pengecekan lokasi oleh tim desa tangguh bencana (destana), di Desa Salamrojo masih ada retakan sepanjang 150 meter di dekat rumah penduduk. “Ada kekhawatiran tim destana, bila hujan lebat tanahnya longsor lalu menutup sungai,” beber Agus.

          Selain material tanah, di lokasi tanah retak itu juga didapati banyak batu-batu besar. Melihat kondisi itu, tidak hanya material di tebing saja yang membahayakan. Melainkan, air sungai yang tertutup bisa menyebabkan banjir bandang. “Informasi retakan di Desa Salamrojo itu termasuk lokasi baru,” imbuhnya.

          Terkait penanganan lebih lanjut, Agus bersama tim BPBD akan melakukan survei lanjutan. Sebab, di desa tersebut sebelumnya sudah terjadi longsor di tebing pinggir jalan desa.

          Longsor sering terjadi setelah wilayah setempat diguyur hujan deras. “Kami akan melakukan pengecekan untuk memetakan ulang daerah yang rawan,” urai Agus sembari menyebut pihaknya juga memberi perhatian khusus di wilayah Desa Kepel, Ngetos yang beberapa tahun lalu terjadi longsor hebat.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia