Selasa, 21 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Jual Sabu-Sabu, Buruh Tani Beli Sabu-Sabu Lagi

30 Maret 2019, 18: 26: 19 WIB | editor : Adi Nugroho

sabu sabu

BISNIS GELAP: Zaenal Abidin alias Paitul hendak keluar dari ruang sidang Kartika usai menjalani pemeriksaan terdakwa di PN Kabupaten Kediri (28/3). (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN – Di sidang perkara peredaran sabu-sabu (SS), terdakwa Zaenal Abidin alias Paitul, 29, warga Desa Gadungan, Kecamatan Puncu tak bisa berkelit. Dia membeber proses transaksi hingga memasarkan bubuk kristal adiktif tersebut.

Kamis sore lalu (28/3), pemuda bujangan ini menyampaikannya pada persidangan beragenda pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri. Di hadapan majelis hakim yang dipimpin Hakim Ketua Lila Sari, Paitul mengungkapkan, membeli sabu-sabu dari seseorang yang mengaku bernama Irul.

Kala itu, ia menghubungi Irul pada 27 November 2018. “Saya hubungi terlebih dahulu, karena saya ingin membeli darinya,” akunya.

Dari komunikasi via telepon seluler (ponsel) tersebut, keduanya sepakat bertemu di Jalan Raya Kelurahan Sepanjang, Kecamatan Taman, Sidoarjo. Sore berkomunikasi, malamnya Paitul yang berangkat ke lokasi yang dijanjikan. “Bertemunya pada malamnya langsung,” imbuh Paitul.

Di lokasi pertemuan itu, Paitul membeli satu gram sabu-sabu dari Irul. Serbuk kristal itu dikemas dalam satu plastik klip. Paitul lalu memberikan uang sebanyak Rp 1,2 juta.

Ketika ditanya majelis hakim, apakah SS yang diberikan Irul tersebut benar-benar seberat satu gram. Paitul mengaku, tak mengetahui pasti. Karena ragu, maka ia hanya menggelengkan kepala.

Paitul mengatakan, dirinya percaya saja dengan Irul. Setelah bertransaksi, Paitul langsung pulang. Sampai di rumah, dia lantas membagi SS dalam satu plastik klip tersebut menjadi tiga bagian. Masing-masing ditakar sama. Lalu dimasukkan dalam tiga plastik klip. Diperkirakan berat tiap satu klip sekitar 0,35 gram.

Ketika ditanya majelis hakim lagi, bagaimana terdakwa bisa mengira-ngira berat yang dipisah tersebut tepat. Paitul menjawab, dirinya hanya mengira-ngira saja. “Saya tidak punya timbangan di rumah,” ujarnya.

Setelah selesai mengemas, Paitul menjual dua bungkus SS tersebut kepada dua orang yang berbeda. Masing-masing dihargai Rp 350 ribu. Penjualan itu di hari yang sama, namun di jam yang berbeda.

Bagaimana transaksinya? Paitul mengatakan, kedua orang yang hendak membeli disuruhnya datang ke Desa Gadungan. Di sanalah mereka bertransaksi. Pembeli pertama datang sekitar pukul 09.00 WIB. Sedangkan pembeli kedua tiba sekitar pukul 20.00 WIB. Keduanya datang di hari yang sama, pada 29 November 2018.

Setelah bertransaksi, Paitul kembali ke rumahnya. Selain mengedarkan SS, ia mengaku, juga mengonsumsi zat adiktif itu. Alasan, buruh tani serabutan ini agar menjadi rajin bekerja.

Saat ditanya hakim, untuk apa uang hasil menjual SS itu? Paitul mengaku, uang tersebut ia kumpulkan. Kemudian, ia belikan sabu-sabu lagi. Pasalnya, selama ini dirinya belum memiliki keluarga. Sehingga belum mempunyai beban tanggungan menafkahi anak dan istri.

Setelah memeriksa terdakwa, majelis hakim menutup persidangan. Sidang ditunda untuk dilanjutkan pada Kamis depan (4/4). Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Syaecha Diana menjerat Paitul dengan pasal 114 UU Nomor 35/2009 tentang Narkotika. Dia terancam sanksi pidana maksimal 20 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 10 miliar.

Untuk diketahui, Paitul diamankan petugas Satresnarkoba Polres Kediri di rumahnya, Desa Gadungan, Puncu pada Sabtu 1 Desember 2018. Dalam penggeledahan, polisi menemukan sabu-sabu yang disimpan dalam plastik klip. SS seberat sekitar 0,35 gram itu dimasukkan bungkus kopi saset.

Barang haram tersebut disembunyikan di bawah meja di kamar Paitul. Selain sabu, kepolisian juga mengamankan satu bong plastik, empat pipet kaca, satu serok sedotan plastik, satu karet merah, dua korek api gas, satu bungkus plastik klip, satu bungkus sedotan plastik, dan satu handphone merek Asus warna putih yang diduga dijadikan alat komunikasi saat transaksi.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia