Kamis, 24 Oct 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Ekspedisi Kali Serinjing, Telusur Sejarah Terbentuknya Kediri (12) 

Gentong Kuno Masih Digunakan

30 Maret 2019, 14: 29: 47 WIB | editor : Adi Nugroho

masjid bersejatah mahir arriyadi

BERSEJARAH: Masjid di Ponpes Mahir Arriyadl, Dusun Ringinagung, Desa Keling, termasuk yang tertua di wilayah Kawedanan Pare. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Gentong kuno Ponpes Mahir Arriyadl, Ringinagung, ditemukan di aliran Kali Serinjing. Itu bukti peradaban masa kerajaan sekaligus kemakmuran sisi utara Serinjing.

Selain terkenal sebagai salah satu yang tertua di wilayah Pare, Pondok Pesantren (Ponpes) Mahir Arriyadl atau yang biasa disebut Ponpes Ringinagung menyimpan banyak cerita sejarah. Salah satunya adalah keberadaan gentong kuno di pondok yang terletak di Dusun Ringinagung, Desa Keling, Kecamatan Kepung tersebut.

Gentong itu kini berada di serambi masjid pondok. Tepatnya di sisi utara masjid. Hingga sekarang gentong yang terbuat dari batu andesit dengan inskripsi aksara kaligrafi kwadrat itu masih difungsikan. Yakni sebagai penampung air yang digunakan untuk minum para santri di sana.

Memang air yang ada di gentong itu berasal dari sumur tua di sekitar masjid. Kondisinya pun tampak jernih. Tak ayal kalau air tersebut dari dulu biasa digunakan untuk minum.

Tak sulit untuk menuju lokasi pondok yang berdiri sejak tahun 1800-an itu. Jaraknya hanya sekitar 500 meter dari Jalan Raya Pare-Kandangan. Suasana di sana juga masih sangat asri. Dengan pohon sawo di halaman masjid. Pepohonan itu menjadi ciri khas masjid kuno milik prajurit Pangeran Diponegoro.

gentong

BUKTI PERADABAN: Gentong kuno di masjid Pondok Ringinagung yang masih digunakan untuk tempat minum. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Pengasuh Ponpes Mahir Arriyadl Kyai Jali Romlani mengaku, tak mengetahui secara pasti kapan ditemukannya gentong kuno tersebut. “Saya masih kecil. Gentong itu dibawa santri-santri dari sungai di daerah Kepung,” katanya saat ditanya asal mula gentong yang syarat akan nilai sejarah tersebut.

Menurutnya, gentong tersebut memang tidak berada insitu atau pindahan dari lokasi lain. Sungai yang dimaksud Kyai Jali merupakan daerah aliran Kali Serinjing yang ada di Desa Kepung, sebelah selatan Desa Keling.

Ukuran gentong masuk kategori sedang. Terlihat masih utuh dan terbuat dari batu andesit. Yang paling menarik dari gentong ini adalah adanya inskripsi Jawa kuno berkaligrafi aksara kwadrat. Dari keterangan Penggiat Budaya Kabupaten Kediri Novi Bahrul Munib, bahwa aksara semacam ini sama dengan aksara yang ada di situs Brumbung.

“Secara kontekstual, jika berada daerah Brumbung, berarti itu pada masa Kerajaan Panjalu, Raja Bameswara,” jelasnya. Masa tersebut diperkirakan berlangsung antara tahun 1117 hingga 1130 Masehi.

Penggiat budaya sekaligus ketua Komunitas Pelestari Sejarah dan Budaya Kadhiri ini pun menyebut bahwa aksara pada zaman Bameswara juga menggunakan kaligrafi kwadrat. Acara semacam ini berkembang di era Kerajaan Panjalu.

Dari aksara yang ada pada gentong tersebut terbaca ada tiga huruf kwadrat. Ditambah lambang bunga di awal kata. Dari pemaparan Novi, lambang bunga yang ada bisa dibaca ‘Sekaring’ sementara tiga huruf di belakangnya adalah kata ‘Bawana’.

Sehingga dari gabungan istilah tersebut bisa diartikan sebagai Sekaring Bawana atau bunga di dunia. “Itu bermakna kehidupan, mengandung nilai ajaran agar kehidupan yang baik itu bisa memberi manfaat bagi sesama makhluk ciptaan Tuhan,” terang Novi.

Maka jika dihubungkan dengan fungsi gentong batu tersebut adalah laiknya persediaan air minum untuk para musafir. Biasanya masyarakat Jawa kuno menyediakan air dalam gentong batu di depan rumah mereka, atau di pinggir jalan sebagai fasilitas air bersih layak minum bagi pengguna jalan.

“Karena zaman dulu belum ada kendaraan bermotor, kebanyakan jalan kaki dengan medan yang berat,” imbuhnya.

Sehingga keberadaan gentong di depan rumah untuk persediaan air minum itu sangatlah berharga. Seperti saat ini, fungsi tersebut masih terlihat di Masjid Ponpes Mahir Arriyadl. Menyediakan air minum untuk para santri dan peziarah yang datang ke Makam Syaikh Imam Nawawi, pendiri ponpes tua tersebut.

Gentong Masjid Ponpes Ringinagung

Ciri-ciri yang khas:

-         Terbuat dari batu andesit

-         Berwarna hitam keabuan

-         Terdapat inskripsi aksara kwadrat di sisinya

Ukuran benda:

-         Diameter total 80 cm

-         Diameter lubang/bibir gentong 50 cm

-         Diameter alas 40 cm

-         Tinggi 50 cm

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia