Rabu, 24 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Sidang Pembunuhan Bayi: Membunuh Tanpa Bantuan sang Dukun

Sumini Hanya Beri Jamu dan Injak-Injak Perut

30 Maret 2019, 10: 09: 38 WIB | editor : Adi Nugroho

membunuh bayi

TERJERAT KASUS: Sumini, dukun bayi warga Desa Krenceng, Kepung, saat dituntun petugas memasuki ruang persidangan kasus pembunuhan bayi. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN – Ika Wahyuningsih, 27, mengaku membunuh bayinya tanpa bantuan orang lain. Wanita asal Desa/Kecamatan Kepung itu membunuh bayinya dengan cara dicekik sesaat setelah sang janin menghirup udara dunia.

Pengakuan Ika itu disampaikan saat sidang kasus tersebut di PN Kabupaten Kediri  (28/3). Yang menghadirkan terdakwa dukun bayi bernama Sumini, 94. Warga Desa Krenceng, Kepung itu didakwa ikut membantu melakukan aborsi yang dilakukan Ika.

Kasus ini bermula saat ada penemuan mayat bayi di tepi jalan di Dusun Kebonsari, Desa Krenceng, Kepung. Pelaku pembunuhan itu adalah Ika yang juga ibu bayi. Namun, sebelum membunuh sang bayi, Ika sempat mendatangi Sumini untuk menggugurkan kandungan. Saat menemui dukun bayi itu Ika ditemani oleh pasangannya, Kamsidi, 51. Kamsidi akhirnya juga menjadi satu di antara tiga terdakwa dalam kasus ini.

Dalam persidangan yang dipimpin oleh hakim Agus Tjahjo Mahendra itu, saksi yang juga terdakwa, Ika, dicecar banyak pertanyaan. Terutama kejadian pada 15 November 2018. “Pada saat itu saya sudah merasa kalau sedang mengandung,” ujarnya di dalam persidangan.

Karena tak ingin memiliki anak, Ika mencari informasi tentang dukun aborsi di daerah Kepung. Dia kemudian mendapat nama Sumini. Diantar oleh pasangannya, Ika mendatangi rumah sang dukun.

Di rumah dukun itu Ika akhirnya mendapat ‘penanganan’. Tak hanya dipijat, perut Ika juga diinjak oleh Sumini. Kemudian, dia juga diberi jamu-jamuan hasil racikan terdakwa.

Saat itu, menurut Ika, tak ada efek langsung yang terjadi. Dia kemudian pulang ke kosnya, di Jalan Kandangan, Desa Kencong, Kepung. Nah, sesampai di rumah tiba-tiba perutnya terasa sakit. Tak berselang lama janin di dalam perutnya nongol.

Cerita itu menarik perhatian Jaksa Penuntut Umum (JPU) Lestari. Dia kemudian bertanya soal keadaan sang bayi.

“Apa saat dilahirkan bayi tersebut tidak menanggis?” tanya jaksa.

Ika menjawab, bayinya yang berjenis perempuan itu tak menangis saat lahir. Tapi dalam keadaan sehat. Sesaat kemudian dia mencekik sang janin. Setelah meninggal kemudian mayat dimasukkan tas plastik. Selanjutnya dibuang oleh pelaku.

Penasehat hukum (PH) terdakwa, Ander Sumiwi, sempat menanyakan di sisi mana dukun Sumini menginjak perut saksi. “Apakah bayi (lahir) dalam keadaan melintang atau lurus,” cecar Ander.

Ika mengaku ketika dilahirkan bayi tidak dalam keadaan melintang. Dia juga mengaku dalam proses melahirkan hingga penguburan ia lakukan sendiri tanpa campur tangan Sumini.

Pada sidang sebelumnya, Kamis (14/3), Ander mengatakan klienya tak bisa disebut dukun aborsi. Karena itu, dakwaan tersebut seharusnya digugurkan. Karena tidak terpenuhi unsur aborsi.

Menurutnya, dalam kasus tersebut jika ada yang harus disalahkan adalah Kamsidi dan Ika. Keduanya dianggap Ander sebagai aktor utama. Sedangkan kliennya hanya sebagai efek dari kejahatan tersebut.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia