Kamis, 24 Oct 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Ekspedisi Kali Serinjing, Telusur Sejarah Terbentuknya Kediri (11)

Arung Keling Pernah untuk Pembangkit Listrik

30 Maret 2019, 10: 05: 46 WIB | editor : Adi Nugroho

arung kuno serinjing

TELUSUR ARUNG: Dua penggiat sejarah, Habib dan Bambang, masuk ke dalam arung di Dusun Jegles, Desa Keling, beberapa waktu lalu. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Keberadaan arung di sekitar Kali Serinjing menjadi salah satu rekayasa irigasi kuno kala itu. Selain ditemukan  arung Watu Tulis Desa Brumbung, ada juga arung kuno di Desa Keling yang ukurannya lebih besar.

Tak banyak yang tahu bahwa di wilayah Kecamatan Kepung masih ada sejumlah arung (saluran air bawah tanah buatan) kuno. Bahkan arung-arung yang baru ditemukan tersebut masih mengalirkan air.

Belakangan ini, selain tiga arung yang ada di Desa Brumbung, arung kuno lainnya ternyata juga masih ada di Desa Keling. Tepatnya di Dusun Jegles. Tak lebih satu kilometer ke arah utara dari aliran primer Kali Serinjing.

Keberadaan arung di Desa Keling ini hampir mirip dengan arung yang ada di Brumbung. Ada di sungai corah sisi utara Kali Serinjing. Setidaknya ada beberapa arung yang ditemukan, namun yang masih mengalirkan air ada dua. Bahkan di Desa Keling ukurannya lebih lebar dari arung/terowongan Surowono yang selama ini lebih dikenal masyarakat.

Penduduk Desa Keling menyebut salah satu arung sebagai Gua Lawa, istilah yang pantas untuk menyebut terowongan yang memang saat ini menjadi sarang kelalawar tersebut.  Untuk menuju ke arung tersebut tidaklah sulit. Sebab berada di sungai corah yang cukup dekat dengan pemukiman warga. Meski demikian, untuk sampai di lokasi, harus berhati-hati. Untuk turun ke sungai harus melalui jalan setapak yang cukup curam.

Air yang mengalir di sungai yang dikelilingi vegetasi heterogen itu masih sangat jernih. Kebanyakan berasal dari sumber mata air yang ada di sana. Arusnya pun bisa dibilang deras. Salah satu mata airnya berasal dari dua arung kuno itu.

“Dulu sekitar tahun 80-an di sini pernah dibangun pembangkit listrik. Untuk kebutuhan warga Dusun Jegles,” kata Bambang Kurniawan, warga sekitar.

Hingga kini bekas pembangkit listrik itu masih terlihat jelas. Berupa bangunan batu bata yang di semen tepat di mulut gua. Meski ada bangunan bekas pembangkit listrik, arung yang kini memiliki tinggi 1,5 meter tersebut masih bisa dimasuki.

Diperkirakan dulu sebelum dibangun pembangkit listrik ukurannya lebih tinggi daripada saat ini. Sebab sedimen di dalam membuat arung semakin dangkal. Ditambah kelalawar yang menyisakan banyak kotoran di sana. “Masuk ke dalam masih bisa. Tapi banyak kelelawarnya,” tegas Bambang.

Tak jauh dari arung pertama, ada satu arung lagi. Perbedaannya, di arung kedua ini tidak ada kelelawar. Sehingga lebih leluasa jika hendak masuk ke dalam. Bahkan debit air yang keluar juga lebih deras.

Anggota Lesbumi NU Kabupaten Kediri Nur Habib menyampaikan, potensi keberadaan arung kuno di daerah tersebut memang tinggi. Utamanya di daerah yang dekat dengan aliran Kali Serinjing. Hanya saja sebagian besar telah tertutup akibat aktivitas vulkanik Gunung Kelud.

“Saya baru tahu kalau di Keling ternyata juga banyak ditemukan arung. Memang potensi peninggalan bersejarah di Kecamatan Kepung ini sangat banyak,” ujarnya.

Belum diketahui secara pasti, apakah ini arung buatan atau alami. Yang jelas keberadaan arung tersebut sangat luar biasa. Bisa mengalirkan air dari satu sungai ke sungai yang lain. Bertujuan menambah debit air pada aliran lain untuk kebutuhan irigasi dan kegiatan sehari-hari kala itu.

Dari keterangan Novi Bahrul Munib, penggiat budaya Kabupaten Kediri, selama ini arung alami biasanya memiliki ukuran yang tidak terlalu lebar dan tinggi. Berbeda dengan arung buatan yang sebagian besar bisa dimasuki manusia. Di Desa Keling, dari hasil pengukuran, setidaknya diketahui tingginya 1,5 meter. Sementara lebarnya lebih dari 2 meter. Sehingga bisa dimasuki tiga orang sekaligus

“Jika ingin tahu lebih jauh tentang arung ini, harus bisa masuk lebih dalam. Dan itu harus menggunakan peralatan yang lengkap. Oksigen dan alat pelindung diri,” jelasnya.

Menurutnya arung di Desa Keling ini masuk kategori arung besar. Karena bisa dilalui orang seperti halnya arung yang ada di Surowono. Sebelumnya Novi juga pernah menyinggung, bahwa arung bawah tanah merupakan sebuah karya nenek moyang yang luar biasa. Mereka memanfaatkan teknologi saluran bawah tanah untuk mengambil urat-urat air. Dengan membuat lorong-lorong yang cukup dalam. Juga sebagai jalur penghubung aliran air dari satu sungai ke sungai lain untuk kepentingan irigasi zaman dulu.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia