Kamis, 24 Oct 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Ekspedisi Kali Serinjing, Telusur Sejarah Terbentuknya Kediri (10)

Jobong Sumur Kuno Dekat Prasasti Tangkilan

28 Maret 2019, 18: 26: 48 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi kali serinjing

BATU ANDESIT: Warga Dusun Tangkilan duduk di dekat Prasasti Tangkilan. Prasasti tersebut masih sering dikunjungi peziarah. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Prasasti yang ditemukan di sekitar aliran Kali Serinjing rata-rata membahas anugerah tanah sima kala itu. Salah satunya Prasasti Tangkilan. Yang juga membuktikan adanya peradaban kuno di aliran Serinjing wilayah tengah Kabupaten Kediri.

Prasasti tangkilan menjadi salah satu situs purbakala yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya Kabupaten Kediri. Menjadi bukti sejarah yang ada di dekat Kali Serinjing. Sebab, prasasti yang ada di Dusun Tangkilan, Desa Padangan, Kecamatan Kayenkidul ini letaknya hanya 100 meter di selatan Serinjing.

Tak sulit untuk menemukan prasasti ini. Lokasinya mudah dijangkau dari jalan raya penghubung Kecamatan Plemahan dan Pagu. Berada di tengah pemukiman warga. Dari jalan raya sudah ada penunjuk arah yang jelas untuk menuju ke situs ini.

Meski selama ini tertulis kata Prasasti Tangkilan, sebenarnya warga sekitar kerap menyebut situs ini sebagai Punden Mbah Gilang. Sebuah punden desa yang kerap dikunjungi oleh para peziarah. Hal ini terbukti dari sesajen yang masih ada di sana. Kemenyan dan dupa juga terlihat di depan prasasti yang dikeluarkan Raja Bameswara dari Kerajaan Kediri tersebut. Menjadikan tempat ini semakin sakral.

Tak hanya prasasti, di sana juga ada benda-benda purbakala lain yang masih terawat. Seperti dorpel, umpak berbentuk padma, juga ada arca yang kondisinya terpenggal.

Menurut keterangan Mbah Tukini, warga setempat, dahulu ada beberapa arca yang masih utuh. Namun sekarang sudah tidak ada. Banyak yang mencuri arca-arca tersebut. Salah satunya adalah Arca Dewi.

Selain Arca Dewi, Tukini menyebut arca lain berupa arca berbentuk monyet dan burung. Namun saat ini keberadaan benda bersejarah yang masih tersisa lebih aman. Sebab telah dibuatkan pagar yang mengelilinya sekaligus diberi cungkup untuk melindungi benda tersebut dari terpaan hujan.

Tak jauh dari situs yang telah diberi cungkup, ada satu lagi benda yang menarik perhatian. Yakni sebuah jobong sumur kuno. Dari keterangan warga, jobong sumur tersebut terkenal dengan nama Sumur Mbah Gilang.

Warga sekitar kerap memanfaatkan sekitar punden untuk kegiatan acara pentas  tradisional. Seperti jaranan, tayub, ketoprak, reog dan wayang. Terutama setiap bulan Suro malam Jumat legi, Mbah Gilang (Prasasti Tangkilan, Red) dimandikan dengan air kembang. Ada pantangan bagi orang-orang yang berkunjung ke sana. Yakni memakai batik bercorak lurik, parang rusak, dan juga pakaian berwarna hijau.

Penggiat budaya Novi Bahrul Munib menyampaikan, meski ukiran aksara pada Prasasti Tangkilan sebagian masih dapat dibaca, namun hingga kini masih belum diterbitkan bacaannya. Yang jelas menurutnya, prasasti ini dikeluarkan untuk pengingat penganugerahan tanah sima di daerah tersebut.

“Sehingga lokasi ini merupakan daerah kuno. Di prasasti juga disebutkan Wanua Tangkilan (sekarang menjadi Dusun Tangkilan, Red),” jelasnya.

Novi menyebut prasasti yang dikeluarkan pada tahun 1130 Masehi ini merupakan prasasti yang berukuran cukup besar. Dengan lambang utama Candra Kapala Lancana atau lambang berupa tengkorak menggigit bulan sabit yang menjadi ciri khas lencana Raja Bameswara. Keberadaan Prasasti Tangkilan beserta penemuan benda purbakala lain di sana menjadi bukti kuat bahwa kawasan tersebut merupakan daerah kuno. Tepat di selatan Kali Serinjing yang dikenal sebagai sarana kemakmuran masyarakat Kediri dulu hingga saat ini.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia